Friday, October 26, 2007

KUALAT DAN STRESS

Ketika hamil, ada banyak sekali pantangan yang tabu untuk dilanggar, takut kualat!. Orang-orang tua dan yang pernah hamil sebelumnya, punya deret panjang daftar Do’s and Don’ts. Bertengkar dengan orang tua adalah salah satunya. Seperti, barusan ini, aku bertengkar dengan ibuku.

Perkara sepele sebenarnya. Ceritanya begini, Ibuku mau merebus telur ayam kampung, yang tadi sore ditemukan oleh Pak Tagen (tukang kebun lepas yang sering membantu membersihkan rumput liar dirumah), Pak Tagen bilang telur itu sudah semuuk (busuk), makanya dia tidak membawanya pulang. Pak Tagen, adalah tukang bersih-bersih dalam arti yang sebenarnya, termasuk juga sering membawa pulang barang-barang lainnya, kayak tas, sandal, baju bekas dan lainnya sampai bersih. Setiap kerja dirumahku, ada aja yang diminta diluar ongkos yang biasanya diberikan. Tidak mau rugi deh pokoknya. Balik lagi ke masalah telur, berhubung telurnya semuuk, jadi ditinggal begitu saja di Bale Dangin.

Ibuku baru saja datang dari pasar, ketika dia ingin merebus telur itu. Sontak aku melarang. Aku punya trauma merebus telur dimasa kanak-kanak. Waktu itu, mungkin umurku kira-kira 6 tahun, diwarung Miyan Toblo, warung yang lokasinya hanya 30 meter dari rumah, tempat biasanya aku dibelikan sarimi rebus oleh nenekku. Anaknya Miyan Toblo, waktu itu merebus telur ayam. Telur itu dimasukkan kedalam plastic dan plastic itu dimasukkan dalam air mendidih. Tidak lama setelah itu diangkat, dan telurpun dikupas. Mbok Lilik minta tolong ke aku untuk mengupas dan memotong telur itu menjadi dua, aku lupa untuk apa. Ketika dikupas aku kaget setengah mati, ada pitik (anak ayam) yang mati terebus ditanganku, Aku sedih. Ternyata telur itu hanya tinggal menunggu waktu untuk menetas. Lama setelah kejadian itu, aku takut setiap kali mengupas telur aku khawatir ada anak ayam didalamnya. Begitu juga ketika mau memotong telur rebus, atau membuat telur ceplok. Aku seperti dihantui bayang-bayang anak ayam itu, padahal bukan aku yang merebusnya.

Aku lupa apakah aku sudah pernah menceritakan trauma ini pada ibuku. Tetapi sepertinya tidak karena dia tidak menghiraukanku, dan tetap jalan kedapur mengambil panci untuk merebus. Aku marah. Aku bilang sama ibu, jangan telur itu sudah busuk, kata Pak Tagen dan jangan-jangan nanti ada anak ayamnya. Ibuku bersikukuh mengatakan tidak akan ada anak ayam. Aku putus asa melarang ibuku, meskipun volume suaraku sudah dinaikkan, kalah juga dengan tingginya volume suara ibuku menentang protesku.

Aku putus asa, langsung mengepak pakaianku. Aku merasa gerah, panas, tidak nyaman berada dirumah, tidak ada dukungan untuk membantuku merasa nyaman. Padahal itu yang kubutuhkan untuk membuat bayi didalam kandunganku selalu merasa nyaman.

Aku langsung mengambil kunci mobil dan memasukkan barang. Aku pamit dengan ibuku, dengan kalimat nyelekit. “aku mau tidur di Kesambi saja, ibu aja yang dirumah biar nyaman dirumah sendiri, dan tidak ada yang diajak bertengkar”.

Ibuku bertanya, “salahku apa?, dilarang merebus telur, aku tidak jadi merebus telur. Sekarang kok masih marah-marah. Memang anak sekarang tidak bisa membuat senang orang tua”.

Memang, tidak lama setelah aku mengepas barang, ibuku tidak jadi merebus telur, tapi aku sudah terlanjur marah sampai ubun-ubun, aku sudah merasa gerah dan ingin segera pergi dari rumah.

Kakekku juga mencoba meredakan marahku, dan berkata “wik, orang hamil itu tidak boleh marah-marah aja kerjaaannya. Harus sabar!”

Aku tidak menjawab dan terus mondar mandir memasukkan semua barang. Tas ransel tempat baju, tas laptop dan tas slempang postman untuk dompet dan kawan-kawannya.

“kapan kamu pulang”, tanya ibuku ketus

“Gak pulang mungkin”, jawabku sambil membuka pintu garasi dan kemudian mengeluarkan mobil.

Aku terus melaju berangkat ke rumah kami di Kesambi. Sebenarnya rumahnya Veda, karena aku sama sekali tidak urunan membayar kredit rumah setiap bulannya, hanya urunan setengah untuk membeli kitchen set. Berhubung aku istrinya veda, jadi bisa menumpang klaim atas rumah di Kesambi. Hehehe

Balik lagi ke masalahku dengan ibuku. Sepanjang perjalanan menuju ke Kesambi (dari Sukawati hanya 20 menit menyetir sambil melamun dan hanya 15 menit kalau menyetirnya focus), aku terus berusaha meredakan perang bathin didalam otakku, antara menyesal dan berhak marah dengan kelakukan ibuku.

Kalau aku berpikir tenang, aku sadar mengapa hari ini aku begitu “gerah”. Pertama, alasannya karena mungkin aku tidak bekerja lagi, dan lagi diserang post power syndrome. Diantara perasaan bosan, jenuh, sedih adalah perasaan menjadi orang yang tidak berguna-lah yang mendominasi mood-moodku. Tidak bekerja membuat kita tidak bisa berencana. Padahal aku sendiri bekerja juga dengan menerjemahkan referensi-referensi yang berbahasa Inggris untuk temanku yang sedang mengambil master manajemen perbankan.
Lumayan dapat uangnya.

Kedua, aku sudah bosan dengan rutinitas keseharianku belakangan. Bangun jam 7 pagi , itupun rasanya sudah dilama-lamain bangunnya tetapi masih juga terlalu pagi untuk seorang pengangguran – setelah itu menyapu rumah, memasak, mebanten saiban (sesajen), nonton serial film India (tidak ada pilihan lain), dilanjut dengan Oprah Winfrey, setelah itu makan siang, membaca atau kadang-kadang mengerjakan terjemahan buku pesanan Pak Yoga (bos, teman curhat, bapakku, banyak sekali identitas yang kutempelkan padanya), setelah itu tidur siang, bangun, menyapu lagi, mandi, nonton tv tetapi gonta-ganti channel terus karena tidak ada program keren, sementara kakekku menyetel Bali TV, padahal programnya juga tidak ada yang seru, copy cat program tv nasional. Intinya, aku sudah mulai bosan dengan aktivitas keseharianku. Mungkin ini yang menyebabkan aku mudah marah.

Ketiga, polusi suara. Sejak bulan purnama kemarin, ada odalan di Banjar Palak, banjarku. Apa karena ada perubahan referensi suara yang membuatku nyaman sudah berubah didalam otakku, atau ada alasan lain yang aku tidak sadari, tetapi aku sangat merasa terganggu dengan orang mekekawin (melantunkan doa-doa pujian), rasanya nadanya tidak pas, dan suaranya terlalu nyepreng, atau karena volume pengeras suaranya terlalu kencang, yang pasti alunan lembut album Jazzy tone 3, tidak lagi terdengar menyamankan bersaingan dengan lengkingan suara ibu-ibu yang mekekawin. Waduh!, prosesi odalan masih dua hari lagi dari empat hari secara keseluruhan.

Keempat, kucing-kucing liar yang berkeliaran di rumah. Aku adalah orang yang jarang di rumah. Begitu harus melewati hari-hari dengan tinggal dirumah, ada saja hal-hal jahil yang akhirnya memicu stress. Sebelumnya tiga kucing liar ini, aku sebal dengan anjing-anjinga tetangga yang mondar-mandir masuk ke rumah, mengais-mengais sisa makanan di tempat sampah di dapur, atau menunggu kami yang lengah lupa memasukkan lauknya kembali ke lemari dapur. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya ada enam ekor, memang mereka tidak datang kompak bersamaan, satu dua dulu, keluar lagi, diselingi anjing yang lainnya lagi. Tetapi anjing-anjing itu tidak hanya datang untuk mencari makan, kadang-kadang hanya mampir untuk minum saja dari kolam. Karena capek berteriak-teriak mengusir anjing itu, akhirnya kututup saja pintu pagar didepan biar mereka tidak bisa masuk. Tetapi anjing sekarang ternyata lebih pintar (padahal mereka tidak makan minyak ikan ya..), anjing itu masuk lewat tembok tetangga. Lama-lama mungkin karena mereka bosan juga diusir paksa setiap hari, mereka tidak datang lagi. sejak itulah si kucing meraja lela. Bahkan lebih parah dalam soal mencuri-curi makanan. Mereka lebih cerdik dari anjing, bahkan bisa membuka kulkas segala. Aku bertanya kenapa tuhan menciptakan makhluk hidup yang bernama kucing, fungsinya apa ya? Selain jadi pencuri lauk dan membuat orang stresss!!!!

Belum lagi belakangan ini sering merasa kaki dan tanganku terasa lemas tidak beralasan. Tiba-tiba paralyzed, tidak ada tenaga. Aku ingin sekali ada yang memijat kaki dan tanganku ketika aku lagi merasa lemas. Veda tidak ada di Bali, satu-satunya yang menganggur adalah ibuku. Tetapi ibuku terlalu capek setelah seharian mengajar dan berjualan dipasar. Aku merasa terabaikan dan tidak ada yang mendukungku. Saat-saat seperti ini aku sangat membutuhkan sedikit pijatan. Hanya itu. Seringkali aku menahan rasa lemasnya. Ibuku menuduhku terlalu manja dengan kehamilanku, dan membandingkan aku dengan Diah, adikku yang selalu tegar dan penuh energi di kehamilannya. Meskipun dari mertuanya Diah, aku tahu Diah sewaktu kehamilannya yang pertama juga tidak berdaya seperti aku, lemah. Hanya di kehamilannya kedua, dia lebih kuat. Ibuku mana mau menyadari kenyataan ini, dimatanya Diah itu tegar.

Kekecewaanku pada ibu, kemarahanku pada kucing dan polusi suara orang mekekawin, mungkin menggumpal hari ini. Aku benar-benar lelah. Aku tahu aku kualat dengan ibuku. Aku tahu, hamil tidak hamil, tetap saja kualat kalau bertengkar dengan ibu sendiri. Apalagi pamali bagi orang hamil, katanya jangan melawan orang tua nanti anaknya susah lahirnya. Cerita-cerita orang dulu, kalau seorang wanita suka melawan orang tua, dia akan susah melahirkan, anaknya baru akan lahir kalau kepalanya diinjak oleh ibunya.

Mudah-mudahan ini tidak terjadi padaku dan anakku. Semoga anakku lahir dengan selamat dan normal tidak kurang satu apapun. Aku bertaruh segalanya untuk bayiku, bahkan jika dalam kehidupan ini kita diberi jatah sejumlah keberuntungan oleh tuhan, aku bersedia mempertaruhkan semua keberuntunganku untuk kebaikan bayi yang kukandung ini. Malam ini, buru-buru aku minta maaf kepada Tuhan, aku tahu mungkin ini salah sasaran, seharusnya aku minta maaf pada ibuku. Besok aku akan minta maaf. Biarlah malam ini, aku minta maaf kepada pemilik alam semesta ini, termasuk pemilik ibuku sendiri, mudah-mudahan dosaku hari ini termaafkan dan tidak akan terjadi apa-apa dengan anakku.

Tuhan, maafkan aku Tuhan.

Tuesday, October 09, 2007

RADIO SUARA SURABAYA

Jam dua siang, ketika bis melewati jalanan Surabaya yang panas, kami dan para peserta pelatihan pendidikan lingkungan mulai diserang kantuk yang menyengat karena AC di dalam bis. Setelah melewati jalan yang berlika liku, akhirnya kami sampai di jalan Wonokitri, kawasan dimana Radio Suara Surabaya 100 FM ini memancarkan frekuensi siarannya. Sayangnya, bis tidak bisa laju masuk ke kantor Radio SS (bukan Shabu Shabu loh!), karena gang yang sempit dan dihalangi portal sebagaimana banyak juga terdapat di gang kecil di Surabaya. Sehingga kami melenggangkan kaki terusir dari kenyamanan dalam buaian sejuknya AC di bis.

Pertama kali menjejakkan kaki disini, kesan pertama biasa saja, I mean, gedungnya tidak terlalu bagus, malah cenderung bergaya lama. Tidak antik juga. Namun setelah menapaki lebih jauh areal kantor ini, baru suasana kegaguman mulai menyeruak. Di gedung manajemennya ini bergaya minimalis, disinilah kami disambut oleh Bapak Errol Jonathan, Direktur operasional Radio SS. Bapak yang masih tetap fit, santun dan bersahaja di usianya yang menjelang 60-an (aku perkirakan), menyambut kami dengan hangat dan menggunakan waktu yang sempit untuk briefing kami singkat mengenai radio SS.

Radio SS adalah radio swasta yang konsepnya menerapkan kontens radio komunitas. Radio ini dijadikan sebagai ajang untuk membahas segala permasalahan kota Surabaya dan sekitarnya secara langsung dengan metode interaktif. Para pendengarnya, yang biasa dipanggil “kawan” ini menelpon radio SS untuk memberi update informasi lalu lintas, kriminalitas, seperti pencopetan dll, atau memberi tanggapan, saran dan kritik mengenai suatu topic yang diangkap oleh radio SS, yang menjadi pusat pergunjingannya arek suroboyo.

Konsep radio seperti ini tidak cukup hanya dengan meniru, tetapi masing-masing radio juga harus jeli melihat, apakah konsep seperti ini cocok diterapkan untuk masyarakat disekitarnya. Konsep interaktif, ini cocok diterapkan disurabaya karena masyarakat Surabaya mempunyai karakteristik yang suka nimbrung alias ikut campur, disamping itu arek Surabaya cenderung lebih lugas untuk menyampaikan pendapatnya. Dia menyarankan sebaiknya radio local lainnya, cermat untuk memperhatikan masing-masing kekuatan dan kelemahan apakah konsep ini cocok untuk diterapkan di Solo misalnya, sulawesi.

Motivasi untuk membuat konsep radio seperti ini, pertama kali di cetuskan oleh pemilik radio. Ketika beliau mengambil kuliah di Amerika Serikat. Gayung bersambut ketika ada sebuah pemilik radio juga memiliki visi yang sama dengannya.

Jangan tertipu ketika melihat sebuah radio sebagai hiburan belaka, karena radio sebagaimana media eletronik dan cetak lainnya, juga bisa berperan sebagai media propaganda untuk pengiringan opini. Namun disisi lain, radio juga bisa berperan sebagai media pendidikan. Nah, Radio SS, mengambil peran pada radio sebagai media pendidikan untuk memberdayakan audiensnya untuk mempunyai dalam proses demokratisasi.

Radio ini sering mendapat penghargaan dari kepolisian karena jasanya siarannya berhasil mengungkap kasus kriminalitas. Seperti sebuah contoh yang dibawakan oleh Mas Errol, pada suatu ketika ada seorang pendengar perempuan yang pecah ban di jalan raya, dia sadar bahwa pecah ban ini bisa jadi bukan sebuah kecelakaan, tetapi perbuatan sengaja yang dilakukan seseorang untuk merampok barang-barangnya. Apalagi kemudian dia melihat ada dua orang bocengan naik sepeda motor, sedari tadi mengikutinya dengan perlahan. Sontak saja, dia kemudian menghubungi radio SS dan minta pertolongan. Tidak lama kemudian, ada 4 pendengar lainnya yang memberi respon karena mereka dekat dengan kejadian.

Belum lagi banyak kasus, pemirsa yang melaporkan melihat seorang pengendara sepeda motor ngebut di suatu jalan tanpa memakai helm. Pemirsa curiga, jangan-jangan itu adalah salah satu gerombolan pencuri sepeda motor yang sangat marak di Surabaya.

Selain radio SS, management radio SS juga membuat radi Giga, radio yang menembak segment ibu-ibu rumah tangga. Niat mulianya, adalah untuk memberi ruang berekspresi bagi ibu-ibu rumah tangga yang sering kali kehilangan jati diri ketika berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Ketika seseorang menanyakan apa profesinya, dengan rendah diri, mereka akan mengatakan, saya “hanya” seorang ibu rumah tangga. Nah tagline ini mencoba untuk diubah oleh radio SS, dengan mengatakan saya ini seorang ibu rumah tangga, so what gitu loh!. Namun begitu, mereka juga jeli menilik dari sisi bisnis bahwa ibu rumah tangga adalah pasar yang sangat besar untuk menarik iklan.

Selain itu, radio Surabaya juga membuat versi online di www.suarasurabaya.net. Jadi pendengar yang berada di luar Surabaya juga bisa mengakses siaran radio suara Surabaya dengan mengclik di website ini.

Bagi orang yang tertarik untuk mengetahui isu-isu terbaru Kota Surabaya, kalau ada waktu, aku rekomendasikan untuk mengakses websitenya aja deh.

PAK DE AWOK

Setahun setelah aku menikah dengan Veda, aku tidak terlalu banyak tahu saudara-saudaranya dari pihak ibu. Kalau dari pihak bapaknya, aku banyak tahu, karena sebagian besar masih tinggal di Bali, meskipun beberapa bagian lainnya sudah menyebar juga di beberapa tempat di luar Bali. Kepulangan kami ke Surabaya kemarin juga menjadi ajang silaturahmi keluarga besar ibunya Veda di Surabaya. Kebetulan kakak ibunya Veda sedang berada di Surabaya mengunjungi anaknya yang kerja di Surabaya, hari-hari biasanya Bu De – begitu aku memanggilnya – tinggal di Jakarta bersama putranya yang masih lajang.

Pak De Awok adalah salah satu saudara tiri ibunya Veda. Diusianya yang hampir 70 tahun, beliau terlihat rapuh dikalahkan dengan penyakit diabetes. Akibat penyakit ini, kedua matanya sudah tidak berfungsi dengan baik, tetapi beliau masih bisa melihat. Gurat ketampanan di masa mudanya masih terlihat jelas, suaranya sangat lantang dan lugas dengan logat Jawa yang medok.

Dirumahnya, Pak De tinggal bersama istrinya dan satu anak laki-lakinya, dua anaknya yang lain sudah menikah dan tinggal dirumah mereka sendiri-sendiri. Sesekali mereka datang untuk menitipkan cucu. Kesibukan mengurus cucu menjadi keceriaan dan kebanggaan mereka. Hampir seluruh pembicaraan di dominasi oleh perkembangan si cucu, Yusuf.

Aku sama sekali tidak tahu informasi tentang Pak De, selain dia adalah saudara tiri ibu mertuaku. Selama perjalanan pulang, barulah Ibu dan Bu De, bercerita kalau Pak De yang suka menyendiri dan menyembunyikan diri dari silaturahmi keluarga ternyata seorang ahli perkapalan jebolan sebuah Rusia.

Kata ibu, semasa mudanya Pak De (kalau tidak salah) adalah seorang marinir. Pada waktu pemerintahan Presiden Soekarno, beliau mendapat beasiswa belajar tentang perkapalan di Rusia. Agak lama kata ibu, beliau menjalani masa studi. Itu karena ada salah seorang dosennya jatuh hati padanya, sengaja untuk beberapa mata kuliah dia tidak lulus sehingga waktu studinya lebih lama.

Selama belajar di Rusia, Pak De Awok kemudian menikah dengan seorang perempuan Rusia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Tidak jelas, apakah akhirnya dia menikah dengan dosen yang naksir berat dengannya atau dengan perempuan lain.

Setelah menyelesaikan studinya di Rusia, Pak De Awok berencana untuk pulang ke Indonesia dengan membawa anak istrinya. Namun perubahan konstelasi perpolitikan zaman itu, mengubur mimpi mereka. Setelah Soekarno di kudeta Soeharto dan PKI di bumi hanguskan, ternyata kondisi itu berdampak pada akademisi yang mendapat mandat tugas belajar di luar negeri. Apalagi belajar di Rusia, pusatnya perkembangan Komunis. Ketika pemerintahan tidak demokratis Soeharto mulai mengendalikan Jakarta, diberlakukanlah screening (pengawasan ketat) bagi akademisi yang belajar diluar untuk pulang ke Indonesia. Mereka bahkan di karantina beberapa waktu untuk memastikan bahwa mereka tidak terkontaminasi bakteri Komunis. Namun untuk menjadi bersih dari bakteri komunis, tidak hanya dengan karantina dan pendoktrinan tetapi juga ada surat jaminan dari keluarga sebagai penanggung jawab.

Teman-temannya Pak De kala itu memutar keras kepala mereka untuk memulangkan anak istri (terutama yang menikah dengan perempuan Rusia). Sebagian besar katanya dikirim dengan kapal kargo yang diberi sedikit lubang, celah untuk bernafas. Upaya ini dilakukan untuk mengelabui pihak imigrasi. Ada larangan yang tidak tertulis untuk tidak membawa anak istri berdarah Rusia kembali ke Indonesia.

Pak De kasihan jika anak istrinya harus tinggal di kotak kayu dengan sedikit celah bernafas, apalagi jarak antara Rusia – Indonesia tentu teramat sangat jauh. Pak De akhirnya pergi ke KBRI di Moskow untuk memohon keringanan. Saat itu Pak De datang bersama anak istrinya. Ketika masuk untuk mengurus birokrasinya, anak istrinya menunggu di ruang tunggu. Namun setelah keluar, Pak De tidak menemukan lagi anak istrinya. Itu pertemuan terakhir mereka.

Tidak jelas, siapa yang membawa anak istrinya, apakah mereka diculik? Siapa yang menculik?. Apakah KGB, mata-mata Rusia, atau justru mata-mata dari pemerintah Indonesia sendiri. Pak De kebingungan mencari mereka, sisa-sisa tabungannya digunakan sepenuhnya untuk mencari tetapi tetap tidak bertemu. Akhirnya, Pak De pulang kembali ke Indonesia.

Setelah melewati masa karantina dan mendapat jaminan dari keluarganya yang kebetulan petinggi ABRI kala itu, akhirnya Pak De bisa bekerja di PT PAL, Perusahaan Perkapalan milik pemerintah. Gajinya waktu itu dia kumpulkan untuk kembali ke Rusia mencari anak-anaknya. Setelah berbulan-bulan mencari dan tabungan habis akhirnya dia pulang lagi ke Indonesia dengan tangan hampa. Beberapa kali dia datang bolak balik ke Rusia, tetapi tetap bertemu. Sehingga akhirnya, dia pasrah dan berusaha melanjutkan hidupnya lagi dengan menikahi Bu de istrinya yang sekarang ini.

Dibalik tutur katanya yang pelan dan pemilihan kata yang tegas, aku merasa bahwa dia membawa beban yang berat dalam hidupnya. Bagaimana nasib anak istrinya di rusia, adakah istrinya sudah menikah lagi. Bagaimana anaknya, apakah anaknya sudah menikah dan memberi dia cucu… tetapi yang lebih mengkhawatirkan mungkin di dalam pikirannya adalah pertanyaan apakah mereka masih hidup.

Kemudian aku mengerti mengapa Pak De Awok cenderung menyendiri dan menarik diri dari pergaulan. Hidup mengajarkan dia untuk tidak percaya dengan orang, dengan system. Seorang korban dari pertarungan politik yang haus kekuasaan, darah dan uang. Tidak terhitung lagi betapa dosa Soeharto. Sebagai jebolan fakultas ilmu Politik, secara humanis sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa ideology begitu kuat menyetir kehidupan seseorang dimana sebenarnya tidak jadi persoalan ketika ideology hanya untuk individu mereka sendiri. Tetapi ketika hegemoni individu dipaksakan untuk kehidupan orang lain. Ada banyak sekali korban, Pak De Awok, Dadongku, dan keluarga korban PKI lainnya.

Monday, October 08, 2007

POTONG RAMBUT

Hamil juga mengubah cara pandang. Sekaliber orang penganut kritis dan positifistik murnipun, sepertinya bisa berubah menjadi konservatif juga ketika hamil. Apalagi kehamilan yang pertama. Berbagai nasehat dan larangan aneh bin ajaibpun, terasa biasa dan dijalani juga. Takut kualat.

Seperti aku ini. Menurut orang bali, suami dilarang memotong rambut ketika istrinya sedang hamil. Tabu!. Meski sekarang semakin banyak suami yang berpikiran logis bahwa tidak ada hubungannya menjadi gondrong dengan keselamatan kehamilan istri, sehingga mereka berani memotong rambut. Seperti Tude, suami adikku Diah, di kehamilannya yang kedua, Tude malah potong rambut ala Indian style David Beckham. Katanya, alah nyantai aja!

Aku termasuk kelompok konservatif, kalau berhubungan dengan alam yang tidak kelihatan. Jadi, aku melarang Veda potong rambut. Walaupun terdengar tidak logis, aku hanya tidak ingin ada hawa buruk menghambat tumbuh kembang janin anak pertamaku. Sebisa mungkin aku ingin meminimalisir kemungkinan buruk baik di alam Skala (terlihat) dan Niskala (tidak terlihat).

Padahal kalau aku pikir-pikir memang tidak ada hubungannya potong rambut dengan kehamilan istri secara fisik ya.. tetapi mungkin secara psikologis. Ketika hamil, si istri akan terlihat semakin jelek secara fisik, tubuhnya melar, payudara membesar, belum lagi kondisi emosi yang cenderung tidak stabil. Ini tidak berlaku untuk semua wanita hamil ya..karena ada beberapa yang merasa semakin percaya diri dan cantik ketika mereka hamil. Nah, dengan kondisi si istri yang lagi tidak stabil, si suami berempati juga menjadi jelek dengan tidak potong rambut. Kalau sudah jelek, tidak ada wanita lain yang akan melirik suaminya, jadi si istri tidak perlu khawatir kalau-kalau suaminya dilirik wanita lain. Hahaha….

Sebenarnya Veda sempat protes dengan permintaanku, karena sekitar dua – tiga bulan yang lalu dia sibuk untuk upaya melobi pemerintah pusat untuk mengesahkan peta Zonasi Taman Nasional Kelautan Wakatobi. Berhubung sering bertemu dengan pejabat pemerintah, dia merasa tidak nyaman tampil berantakan.

Dia bertanya pada banyak orang disekitarku, dari ibuku, paman-pamanku dan teman-teman Balinya yang lain. Sialnya, ibuku malah memprovokasi dan berkata “gak ada itu hubungannya, dulu waktu saya hamil Dewi, bapaknya biasa tuh potong rambut”. Veda merasa mendapat angin segar. Apalagi dulu bapaknya Veda juga potong rambut disaat ibunya sedang hamil, ya maklum saja, bapaknya Marinir.

Aku sendiri membiarkannya mencari jawaban. Aku tidak ingin memaksanya juga. Dari awal hubungan, kami sangat menghindari untuk mengintervensi keputusan masing-masing pihak untuk membuat sebuah kompromi. Akhirnya satu saat, Veda ada pada keputusannya, dia bertanya: Kalau aku potong rambut, kamu merasa nyaman gak?, aku jawab : Gak!. Dia memutuskan, ya sudah aku tidak potong rambut!.

Bagiku, ini bukan perkara menang dan kalah atau ajang menguji cinta!. Bagiku, apapun akan kulakukan agar tumbuh kembang anakku tidak terganggu, aku berusaha. Sangat berusaha. Untungnya, Veda memahami.

Tetapi menurutku, lucu juga Veda berambut gondrong, dia sudah seperti preman Wanci – sebuah pulau kecil di sebelah tenggara Kota Kendari, 10 jam lagi naik kapal. Sebelumnya, dia tidak pernah gondrong, setidaknya dari sejak awal kami pacaran. Dia selalu rapi dengan potongan rambut pendek belah samping kanan. Sekarang, wajahnya tampak lebih dewasa, untuk lebih sopannya daripada mengatakan lebih tua. Tidak apa-apa juga, setidaknya dari sekarang, dia tinggal menunggu beberapa minggu lagi untuk potong rambut.

NALURI BERSARANG

Akhir-akhir ini aku punya kesibukan baru, bersih-bersih rumah!. Mulai menata kamar, lemari pakaian, ngepel dan lainnya. Aku ingin ketika nanti anakku lahir, sudah tersedia “sarang” yang nyaman untuknya tidur, walapun sederhana, tidak mewah. Aku mulai memesan rak pakaian bayi sekaligus bisa dijadikan tempat tidur tinggal ditambahkan bantalan kasur untuk Veda. Beberapa orang mengatakan bayi akan tumbuh lebih cepat jika dia tidur dengan ibunya. Mungkin mereka juga menyerap hawa panas ibunya. Veda keberatan aku membuat rak itu, karena ukurannya hanya 160 x 70cm, sehingga kakinya jadi masih nongol. Ukurannya memang harus segitu, kalau lebih tidak muat untuk kamarku di rumah Sukawati yang hanya berukuran 3 x 2,5 meter.

Veda sebenarnya lebih memilih untuk “bersarang” di rumah Kesambi. Aku keberatan, karena rumah kami di Kesambipun kamarnya hanya satu. Lagipula, aku berpikir mungkin aku perlu banyak bantuan juga dari ibu dan adikku bagaimana cara merawat bayi. Jadi akan lebih memudahkanku untuk bersarang di Sukawati saja. Selain itu juga, kalau nanti Veda berangkat lagi ke Sulawesi (di tempatnya bekerja tidak ada Faternity Leave alias cuti bagi bapak), aku sendirian di Kesambi.

Aku agak tergelitik dengan kebiasaan baruku ini. Aku biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan masalah kebersihan. Bahkan aku masih merasa nyaman tidak mandi dua hari atau dengan debu setebal setengah senti meter. Aku lupa kapan terakhir aku ngepel. Tetapi sekarang lagi rapi banget loh baju-baju tertata rapi, nyapu dan ngepel tiap hari, bahkan belakangan ngepel jongkok – tidak pakai alat – kata bidan ditempat senam hamil, kegiatan ini mempercepat posisi kepala bayi mendekati rongga panggul.

Ternyata perubahan ini adalah bagian dari hormon yang bermain didalam kehamilan. Kata Buku Kehamilan : Apa yang anda Hadapi Bulan per Bulan, asli buku ini tebal sekali, 725 halaman – penulisnya mengatakan sebulan sebelum melahirkan seorang ibu akan sibuk mempersiapkan tempat yang nyaman buat bayinya. Ini dinamakan nesting instinct bahasa kerennya, bahasa biasanya : Naluri Bersarang. Tidak hanya manusia saja, yang mengalami ini. Kucing juga, ketika menjelang melahirkan anak-anaknya, induk kucing sibuk mencari tempat dan mengumpulkan sobekan-sobekan kertas, kain atau apapun untuk membuat “sarang” yang nyaman buat anaknya. Aku percaya, burung, ikan, babi, sapi dan lainnya. Aku pernah melihat langsung bagaimana resahnya penyu ketika mau bertelur di sebuah pantai berpasir putih di Malaysia. Dengan badannya yang berat dia berjalan ngesot ke pantai sebelum menghabiskan beberapa jam hanya untuk menggali lubang telur dan akhirnya dengan sabar mengeluarkan telurnya satu per satu. Namun jauh sebelum naik ke pantai, dia sudah memantau pantai, apakah aman dari manusia dan predator lainnya.

Sekarang, aku sama dengan penyu, kucing, burung, ikan dan lainnya itu, dilanda Naluri Bersarang!

WHAT IS IN A NAME


Satu lagi kesibukan lain menjelang persiapan melahirkan adalah mencari nama bayi!. Ini penting tetapi tidak genting. Tetapi juga tidak ada salahnya kalau dipersiapkan jauh-jauh hari sehingga nanti pada hari H-nya tidak bingung.

Seperti adikku, Diah, sampai sekarang dia masih bingung siapa nama yang baik buat anaknya yang kedua. Padahal anaknya sekarang sudah berusia enam bulan dan suaminya sudah memberi nama anaknya : Lanang Sindhunatha yang artinya Raja Laki-laki kerajaan Sindhu – sebuah sungai suci yang dipercaya sebagai asal muasal peradaban Hindu di India. Tapi Diah sendiri belum memantapkan hati dengan nama itu. Nama anak pertama Diah bagus juga : Damar Paramadyaksa. Katanya artinya, cahaya penerang yang diharapkan bisa bersikap adil.

Aku bingung komponen apa yang harus dipertimbangkan ketika memilih nama untuk seorang anak. Apakah biar keren harus pakai kata-kata yang diambil dari bahasa Sansekerta – biasanya orang Bali begitu, atau pilih nama-nama dengan bau modern seperti telenovela Meksiko, Latin atau yang lain. Apa lebih bagus memakai nama Dewa-Dewa, atau tokoh pewayangan. Namaku Parama Utami Dewi, suamiku namanya I Wayan Veda Santiaji, apakah bagusnya diambil dari persetubuhan nama kami berdua?. Apakah seharusnya memilih nama berdasarkan harapan kami akan kehidupannya kelak, biar dia jadi pemimpin, orang kaya, terkenal, dan lainnya?

Aku jadi membayangkan ketika memilih nama untukku, apa yang terlintas dibenak bapakku, apakah dia juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang kuhadapi sekarang. Seperti biasa, aku mendiskusikannya dengan Veda, dan dia bilang sebaiknya kami mulai mendata dan mendaftar nama yang sekiranya bagus. Dia akan berusaha juga mengumpulkannya selama dia di Sulawesi dan aku juga mengumpulkannya di Bali. Siapa tahu kami mendapat inspirasi yang bagus.

Aku mulai berpikir, siapa nama yang bagus. Setahuku - aku tidak merujuk pada satu referensi karena belum pernah membaca tentang hal ini – ada beberapa gelombang perubahan nama di kalangan orang Bali sendiri. Dalam generasi diatas bapakku almarhum, nama-nama orang Bali yang biasanya dipakai adalah yang berkaitan dengan gejala-gejala alam, bunyi-bunyian, kayu, tumbuhan dan lain sebagainya, misalnya namanya I Wayan Gerebeg. Gerebeg itu artinya seperti gempa, guncangan dan lain-lain. Mungkin pada waktu dia lahir ada gempa, jadi untuk mengingatkan orang tuanya tentang hiruk pikuk dihari itu dinamakanlah dia Gerebeg.

Ada juga tiga orang bersaudara di banjarku namanya mirip satu sama lain, kaki (kakek) yang adalah anak laki-laki tertua namanya Sergog, terus adiknya, Sergig, dan adiknya satu lagi namanya Sergug. Jadi tiga orang itu namanya : Sergog, Sergig, Sergug. Bedanya hanya di satu huruf vocal. Aku sendiri tidak tahu artinya Sergog. Sementara nama-nama yang perempuan seperti Klabet, Nyanten, Moning, Monong, Rempyeg dan lainnya.

Setelah itu gelombang satu generasi bapakku. Nama-namanya mulai berubah, biasanya diawali dengan suku kata “SU’ yang artinya baik, diambil dari bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno. Nama-nama yang ngetren seperti Suteja (nama bapakku) – “Su” artinya Baik, “Teja” artinya Sinar, Suteja mungkin artinya Sinar yang baik – semoga dia dapat menyinari keluarganya dengan baik. selain itu ada nama-nama seperti, Subrata, Sukadana, Sukerena, Sudana, Suparta, Subawa, Sukarta, Sukarma, Suprapta, Sukadana, dan lain-lainnya. Sementara yang perempuan juga sama, seperti : Sukarti, Sukasih, Sukreni, Sudarmi, Sukarmi, Sudiasih dan lainnya.

Selanjutnya berubah kearah trend mencari nama yang berbau jawa kuno atau Sanskrit dengan perpaduan dua kata atau lebih. Dan ada beberapa gelombang orang yang frustasi dengan system strata social dengan kasta, sehingga menghilangkan identitas kedaerahan Bali didepan namanya, seperti menghilangkan Wayan, Made, Nyoman, Ketut. Apalagi kemudian ditambah lagi dengan program Keluarga Berencana yang mengkampanyekan slogan “dua anak cukup”! - Tidak tahu, kenapa setiap mendengar kata dua anak cukup, aku selalu ingat dengan kelinci!. Aneh- maka semakin berkurang orang Bali yang memakai nama Nyoman dan Ketut. Golongan penentang kasta dan beraliran nasionalis seperti misalnya bapaknya yang tidak memakaikan Wayan atau Putu di depan namaku dan adikku, nama adikku Diah Ary Perwirani. Ada juga beberapa saudaraku tidak memakai nama bali, jadi nama mereka : Krishna Adithama Ekasuta, Dwi Indra Radha Krisnhanti, Krishna Yudha Tripamungkas, Pavita Komala Kusuma Dewi.

Generasi dibawahku, anak-anak kecil sekarang, namanya sudah mengikuti nama-nama sinetron, film atau artis. Namanya seperti, Amanda, Kevin, Satrio, dan lain-lain. Ada seorang anak perempuan yang diadopsi oleh pasangan yang tidak punya anak di Banjarku, menamakan anaknya Esterlita, nama seorang tokoh telenovela Meksiko yang pernah ngetrend di televisi. Lucunya juga, ada seekor anjing di banjarku namanya Rudolfo.

Kembali lagi ke nama untuk anakku. Belakangan aku mulai rajin menjamah kamus bahasa Kawi atau Jawa Kuno, sebenarnya bukan tanpa alasan. Dirumahku ada beberapa kamus bahasa : Inggris (tentunya), Perancis, Jepang, Swedia dan Jawa Kuno. Tentu saja, empat terdepan itu tidak cocok dengan kultur Indonesia apalagi Bali. Dari kamus Jawa Kuno aku menemukan beberapa kata yang lucu untuk anak laki-laki – hasil USG mengatakan bayiku laki-laki. Aku berharap dokternya tidak salah lihat. Aku ingin punya anak laki-laki, karena aku tidak pernah punya saudara laki-laki. Nama-nama itu seperti : Manggala Kanta, Narendra Kila, Raka Abhimata, Rakryan Manggala Abhimata, Ekanata Diwangkara, Nayaka Kila Santikarma. Aku tidak tahu neh yang mana yang keren. Veda bilang tunggu dari dia dulu. Sampai sekarang dia belum ada inspirasi, katanya, gimana mau dapat inspirasi, nama-nama di sini umumnya, La Ode, Wa Ode, La Biru, dan lainnya.

Tetapi apapun itu namanya, aku berharap semoga anakku lahir dengan sehat, normal dan tidak kurang satu apapun. Aku juga tidak mau memberatkannya dengan nama yang mencerminkan segala ambisi dan keegoisanku.

HAMIL, NGIDAM DAN BERAT BADAN



Waktu memang berjalan cepat apabila kita mengabaikannya. Seperti usia kandunganku yang sekarang sudah menginjak bulan kedelapan. Selama delapan bulan ini, delapan puluh persen perhatianku tersedot untuk menikmati suka duka menjadi calon ibu. Betapa tidak, aku si raja makan, mati rasa soal makanan di usia empat bulan kandunganku setelah tiga bulan sebelumnya aku memuntahkan hampir sebagian besar makanan yang masuk ke perut. Belum terhitung rasa pusing, gerah, sampai mau hampir pingsan. Aku ingat, sampai usia ke 27 tahun ini belum sekalipun aku pingsan. Aku pernah hampir pingsan sekali karena shock ketika pulang kerumah dan mendapati bapakku sudah disemayamkan di Bale Dangin, bale untuk kematian bagi orang bali. Bapakku meninggal karena kanker usus tepat di hari Jum’at Agung Natal tahun 1992.

Berbicara masalah makanan lagi, ini adalah bahan diskusi yang menyenangkan buatku. Sebelum hamil, aku pikir wanita yang ngidam akan meminta makanan yang macam-macam dari suaminya, beberapa cerita sempat terekam dalam otakku seperti cerita Srinadi temen SMP-ku, suatu ketika di kehamilan pertamanya (sekarang anaknya sudah dua) dia ingin sekali makan bubur nasi, dan waktu itu sudah jam 10 malam. Suaminya, yang guide spanyol, bela-belain berangkat ke teuku umar yang jaraknya hampir 40 kilometer dari rumahnya di Mas, Ubud. Lain lagi dengan temenku (aku lupa namanya) dia ingin makan mangga hasil curian. Dari pengalaman ini, aku jadi penasaran. Tetapi begitunya ngidam, aku sendiri tidak merasa sangat fanatic dengan satu makanan tertentu. Kecenderungan minat dan pola makan masih sama seperti waktu sebelum hamil.

Aku malah berpikir keras kalau sudah menjelang jam makan siang. Aku tidak terlalu banyak menemukan makanan enak dan murah di Kuta, atau aku mungkin yang kurang bergaul dengan warung-warung di sekitar tempat kerjaku ini. Kadang-kadang makan sate babi di depan lapangan, nasi soto diwarung solo, nasi ayam bu sudi di depan central parkir, nasi padang di depan kuta galleria, kalau tidak warung jawa sebelahnya obral baju Quicksilver. Sesekali kalau Fabio, mantan bosku berbaik hati, aku ditraktir makan diwarung murah di jalan double six.

Oh iya, aku lupa, saat kehamilanku empat bulan, disaat aku tidak ingin makan, aku malah ngidam pizza tipis. Pak Yoga, mantan bosku yang lain berbaik hati menraktirku pizza tipis di Jazz Bar and Grilled, Sanur. Pizzanya uenak banget, bahasanya pak Bondan, Makk Nyusss!!. Meski akhirnya kenikmatan pizza harus diselingi dengan duka, karena malamnya mobil mogok, tidak bisa distarter. Jadi aku tinggalkan di depan Jazz Bar, dan aku pulang dibonceng Adit saudaraku, yang main band disana.

Belakangan ini, selera makan dan ngemilku agak aneh. Aku jadi suka sekali dengan rasa odol pepsodent (padahal sebelum hamil aku biasanya pakai close up), jadi sehari aku bisa sikatan 3-4 kali!. dan satu lagi, aku suka permen mentos!. Aku suka rasa kesat dan mint-nya, sepertinya memberi kesegaran keseluruh rongga mulut.

Sebelumnya aku sempat khawatir, karena sampai usia kandunganku memasuki bulan ketujuh, berat badanku tidak nambah banyak, naiknya hanya 7 kilo dari awal kehamilan. Aku bingung, padahal perasaan aku sudah banyak makan. Perutku belum terlihat buncit, sehingga orang tidak percaya kalau usia kandungannya sudah tujuh bulan. Ibuku dan ibu mertuaku coba menenangkanku. Mungkin karena kamu tinggi wik, atau perutmu memang tipis, kata mereka. Tapi komentar dari teman-teman dekatku, sampai bapak-bapak yang sering kutemui disaat jalan-jalan di jogging track di dekat rumahku di kesambi akhirnya menciutkan nyaliku juga. Belum lagi ditambah dengan komentar bidan ditempat senam hamil. Dia bilang janinku kecil, jadi aku harus memperbanyak makan atau ngemil dan menambah asupan susu, dua sampai tiga kali sehari.

Tetapi syukurlah di usia kandunganku yang delapan bulan ini, nafsu makanku mulai membaik bahkan berat badanku naik drastis empat kilo dalam sebulan saja. Sampai sekarang berat badanku mencapai 76 kilo dari awal 65 kg sebelum hamil. Badanku tambah besar dan melar. Suamiku bahkan sekarang memanggil aku si endut, tapi katanya tambah sayang denganku karena aku gendut!!. katanya “seneng deh ngelihat kamu gendut. nah sekarang kan gendut, tar kalau sudah melahirkan kurus lagi, abis itu gendut lagi”. Menggoda dengan tampang seperti mengiming-imingi anak SD dengan sebuah permen. Aku tahu dia ingin aku hamil lagi setelah ini. Dasar suamiku!.

Sunday, April 22, 2007

TULISAN KEDUA-KU

INDONESIA: VISIT BY ISRAELI MPS SPARKS DEBATE


Jakarta, 20 April (AKI) - The visit from 29 April - 4 May by a delegation of Israeli parliamentarians has opened up a debate in Indonesia where radical Islamic groups' anger is counterbalanced by cautious acknowledgement from some political observers that Jakarta needs to have a balanced foreign policy. The Israeli MPs will attend the six-day Inter-Parliamentary Assembly taking place on Bali.

Fauzan al-Anzhori, spokesperson for the militant Islamic Defendant Front (FPI) told Adnkronos International (AKI) that the visit should no be allowed, and that Muslims will take it to the streets, if the government does not intervene.

“We should reject the visit, whatever the reason for it. We should show solidarity with the Palestinians,” he said. “If the government confirms its intention to allow the Israelis to come here, we will rally to against it,” he added.

However, Siti Mutiah, a lecturer in Middle-Eastern Affairs at Yogyakarta Gadjah Mada University said that, although the decision to allow the Israeli delegation to visit was a difficult one, Indonesia needed to open up.

“This visit puts Jakarta in a dilemma,” Mutiah told AKI, referring to Indonesia’s role as the country with the world’s largest Muslim population

“At a political level, it is not a big deal to welcome the Israeli delegation here. But at grassroots’ level, the visit will certainly have a psychological impact. We have to realise that there are non-State actors influencing the dynamic of the international relations.”

“But Indonesia’s foreign policy needs to be neutral,” she added.

Indonesia’s foreign minister Hasan Wirayuda has been quoted as saying that Indonesia, as the host of the Inter-Parliamentary Assembly meeting, is bound by an agreement that it may not reject any participants.

The forthcoming visit will not be the first visit of an Israeli delegation to Indonesia. Last year, a delegation, including the Israel ambassador to Thailand, attended the UN Economic and Social Commission for Asia and the Pacific meeting, held in Jakarta.

Indonesia and Israel have no formal diplomatic relations. Indonesia is a firm supporter of the right to independence for Palestine, and Jakarta has made the solution of the Palestinian-Israeli conflict a prerequisite for opening formal diplomatic channels.

On the other hand, Tel Aviv has said diplomatic relations a pre-requisite for Jakarta to be allowed to play a bigger role in the Middle East - a wish often expressed by Indonesia’s president Susilo Bambang Yudhoyono.

The Inter-Parliamentary Assembly’s inaugural ceremony will take place on 29 April, in the presence of Yudhoyono, Inter Parliamentary Union (IPU) president Pier Ferdinando Casini, Indonesian House of Representatives speaker Agung Laksono, and IPU secretary general, Anders B. Johnsson.




(Fsc/Dew/Aki)


Apr-20-07 09:00

Wednesday, March 28, 2007

TULISAN PERTAMA KU

INDONESIA: INTER-RELIGIOUS PROGRAMME LAUNCHED

Yogyakarta, 17 Jan. (AKI) - In an attempt to promote inter-religious dialogue, three Indonesian universities have joined forces and launched a doctorate in inter-religious studies. The course, which will start on Thursday, is managed by Yogyakarta-based universities Gadjah Mada University, Sunan Kalijaga State Islamic University and Duta Wacana Christian University. Alwi Sihab, Indonesia's former foreign minister, underlined the importance of the course in a country with the world's biggest Islamic population but with large minorities of Christians, Buddhists and Hindu.

“The awareness of understanding has to be build at earliest possible. One should realize there is no religion who would be help up as “superior” he said, quoted by the daily ‘The Jakarta Post.’

"Such a way of teaching is important to get rid of radical views and turn them into moderate ones. Hopefully, this approach will also reduce conversion, which has often been blamed as the root of inter-faith conflict," added the former politician, who is involved in the program.

Alwi added that "the teaching in the programme will be focused on the contribution of each religion to human civilization and the creation of peace in the world."

Over 88 percent of Indonesia’s 240 million people are Muslims. Protestants are 5 percent, Roman Catholics 3, Hindus 2 and Buddhists 1 percent.

Although renowned for its moderate brand of Islam, Indonesia has experienced several Christian-Muslim conflicts, the bloodiest of which occurred in the Maluku Islands and Central Sulawesi during 1999-2001, killing over 15,000 people.





(Fsc/Dew/Aki)

Thursday, July 20, 2006

piodalan di sukawati




ini serangkaian odalan di Khayangan Tiga Desa Sukawati. Odalan yang sebelumnya itu di Pura Dalem sementara yang kemarin ini yaitu odalan di Pura Desa.
aku lagi gak punya cerita, jadi ku masukin foto2 aja ya.

Monday, July 10, 2006

Pedanda dan Kekerasan Jender

Pedanda istri (pendeta perempuan) ini, badannya kurus sekali. Kami, sisya (pengikut, meskipun istilahnya kurang pas)nya memanggil dia Ida Pendanda Istri griya banjar bedil. kalau Brahmana sudah menjadi pedanda, nama asli mereka suka dilupakan. Orang-orang lebih sering memanggil Ratu Peranda untuk menghormati.

aku jarang berhubungan dengan Pedanda, mungkin kendala bahasa. berkomunikasi dengan Pedanda, harus menggunakan bahasa bali halus. meskipun aku kenal dengan beberapa pedanda demokrat yang mengesampingkan pakem-pakem itu. bahasa tidak jadi masalah, yang penting inti dari komunikasi. begitu rata-rata komentar mereka. dan anehnya sebagian besar pendanda demokrat ini pedanda lanang (pendeta laki laki).

Kemaren ada Upacara Nanjeb Tetaringan. upacara ini, awal dari serangkaian upacara Pedudusan Alit di rumah bibiku. Upacara ini menandakan bahwa mulai hari itu, tidak ada satu kendala apapun bisa membatalkan kelancaran upacara.. meskipun, ada saudara dekat yang meninggal, yang empunya acara tidak kena kesebelan.

upacara ini dipuput oleh seorang Pendanda. kebetulan di rumah bibiku, pedandanya adalah pendanda istri ini. bersama pamanku, kami mendakin ida ratu peranda istri. hari itu, rasanya gak nyaman banget. tamu bulananku datang mengunjungi. duduk gak nyaman, berdiri pegel, perut mulas-mulas. tapi berhubung cuma aku yang bisa nyetir, maka berangkatlah kami berdua.

acara penjemputan berjalan lancar. meskipun aku tidak masuk ke griya. dilarang oleh pamanku, karena menstruasi. gak boleh katanya. terasa tidak masuk akal, kalau dayu-dayu itu mens juga gak boleh masuk ke rumahnya?. nah pendanda istri itu, juga apa gak pernah mens?..

sesampainya dirumah, dimulailah rangkaian upacara. berbagai ragam sesajen dibentangkan, lagu-lagui pujian diiramakan. lamanya... sampai pantat terasa panas, mata ngantuk meski sudah diseduhkan kopi dua gelas.

matahari sudah mulai beranjak turun, ketika pedanda istri mau beranjak pulang juga. aku segera memutar balik mobilku. eh begitu turun, kaki lugra tergopoh-gopoh melarang aku yang mengantar. Pedanda gak berkenan katanya aku yang mengantar. lagi-lagi karena aku mens. ya udah... gondoklah diriku.

ya udah.. lagian juga aku gak repot toh. tapi yang repot tentu saja pak badra, dia harus menggedor-gedor tetangga, untuk jadi supir. Pak Rana, ketiban menjadi korban. dia terpaksa datang karena harus merawat istrinya yang baru kemaren malam jadi korban tabrak lari di Celuk.

Kunci mobil kuserahkan pada Pak Rana, merasa tidak diperlukan aku duduk di bale dauh.. belum sempat 5 menit aku mendudukan pantatku... kaki lugra kembali tergopoh-gopoh mendatangiku. Pendanda tidak mau keluar dari sanggah kalau aku masih duduk disitu. beliau tidak mau lewat didepanku. Karena aku mens???.... Kaki Lugra bilang aku sementara harus bersembunyi dulu di dapur. Betara Brahma saja merangkulku ketika aku didapur, bagaimana mungkin dia seorang manusia bisa melenyapkanku. sekarang darahku benar-benar mendidih. Gila!!! rasa kemanusiaanku terinjak. memangnya, aku manusia berpenyakit lepra, apabila lewat akan ketularan.

Kenapa memangnya kalau kita sedang menstruasi. bukankah itu normal. perihnya lagi, ketidakadilan gender ini, diderakan padaku oleh kaumku sendiri. dan oleh seorang pemimpin agama yang disegani..

Para pendanda ini boleh jadi tahu tentang seluk beluk sesajen, tetapi dia melupakan mempelajari bagaimana jadi manusia.

Tuesday, July 04, 2006

Back To Nature




Sukawati 4 July,

aku seperti kacang yang baru merasakan kembali kerinduan pada kulitnya, meskipun aku tidak pernah lupa. pulang ke rumah setelah lama bergelut dengan deburan ombak diperbatasan sulawesi dan maluku, sembari berjuang mendapatkan pekerjaan, aku seperti hidup kembali. hari-hariku lebih banyak dihabiskan untuk ngayah (bergotong royong untuk mempersiapkan upacara keagamaan). menikmati waktu yang kubuang dibale banjar mejejaitan, metanding dan tidak lupa bergosip dengan ibu-ibu. ada juga nenek-nenek. tapi jumlahnya kecil. jarang sekali nenek-nenek ngayah di banjar, kecuali kalau anak perempuan atau menantu mereka menjadi wanita karier dan sibuk bekerja. dadong riman, mungkin umurnya sekitar 70 tahun sebaya dengan dadongku, dia menerawang menceritakan kisah cintanya yang gagal dengan seorang guru. geli juga mendengar, nenek-nenek bernostalgia tentang kisah cintanya.. yah dong riman, mungkin tidak mau kalah dengan ABG sekarang.

mungkin sekitar 4 tahun lamanya, aku menghindarkan diri (tepatnya) dari kewajiban ngayah. dulu selalu saja, ibuku dan dadong (nenek)ku yang kuandalkan mengambil tugas ini. kuliah di jogja dan sibuk bekerja, kerap menjadi alasanku untuk tidak ngayah. padahal, sehabis jam kerja aku pasti maen.

keenggananku pada acara ngayah dan ngadat (gotong royong untuk acara kemasyarakatan) salah satunya berpangkal dari kekecewaanku pada adat patriarki didaerahku. bahwa disebuah keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki harus meminang laki-laki untuk menjadi kepala keluarga di rumah mempelai perempuan. kondisi ini, sangat dihindari oleh setiap lelaki bali pada umumnya. kondisi ini, sama seperti penyakit lepra. hindari menikah dengan perermpuan dari keluarga yang tidak ada saudara laki-lakinya. selama beberapa tahun, aku merasa seperti kena penyakit lepra.

beberapa hari ini, aku seperti merasa balik lagi kepada diriku sendiri. rasanya seperti minum segelas air sehabis berlari sejauh 20 kilometer. sejauh apapun aku menghindar, aku tidak akan bisa melupakan identitasku. dalam ngayah, aku merasa menjadi orang bali kembali. meski berpuluh-puluh sorot mata heran melihat kehadiranku yang tidak lazim. mungkin mereka heran atau malah meremehkan aku sebagai seorang penggangguran. siapa peduli. aku tidak akan membagi kebahagiaanku menikmati kerinduan ini.

aku menikmati, warna kuning keemasan matahari sore yang menerpa kulitku ketika pulang ngayah. menghirup segarnya bau legit tanah yang dibasahi oleh air hujan. menikmati mentari yang baru terbebas dari gelapnya awan, dan yang mengintip di balik klepan-daun kelapa yang hijau didepan rumah kakekku.

aku benar-benar bahagia.

Monday, June 19, 2006



hari ini lagi menerjemahkan buku. banyak jadi belum sempat bercerita.
tapi aku lagi kesengsem lagi close to you neh. sampe bela-belain cari liriknya di leoslyrics.com. ta' share disini ya.. kalo sempat perhatikan liriknya ya.. menggugah banget.
cocok jadi lagu nikahan kaleee. rekomendasinya buruk ya,, mahap kalo begitu.

Close To You

Why do birds suddenly appear?
Every time you are near
Just like me they long to be
Close to you

Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by
Just like me they long to be
Close to you

On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust
In your hair of gold
And starlight in your eyes of blue

That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me they long to be
Close to you

On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust
In your hair of gold
And starlight in your eyes of blue

That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me they long to be
Close to you
Just like me they long to be
Close to you

Tuesday, June 13, 2006

Gempa Jogja dan Poligami??

Wanci, 1 Juni 2006

Kepala rasanya masih oleng meski sudah sejam menginjakkan kaki di Wanci. aku melawatkan 4 hari hidup diatas kapal mengitari kepulauan Wakatobi. Ini pertama kalinya aku ke Wakatobi, itupun setelah beribu-ibu kali veda, suamiku membujukku.

Teriakan Indar mengagetkanku.

”Jogja gempa..jogja gempa??”. katanya dengan muka serius.

Kali ini kulihat raut wajahnya hampir mendekati serius. Dia terlalu sering iseng dengan becandaannya. Dia pernah teriak ”ada hiu, ada hiu”. Tepat ketika wartawan jakarta dan kendari berjuang sekuat tenaga melawan arus ketika snorkeling di perairan karang kaledupa. mereka gondok bukan main. Aksi balas dendampun dirancang sesampainya mereka diatas. Beberapa orang, hanya dengan komando kerlingan mata, mengangkat tubuhnya untuk diceburkan ke laut. Indar ya tetap indar. Meski meronta-ronta, dia tak kuasa dengan tubuhnya yang kecil mungil.

Byurrrr.... tinggal Indar nyengir ditengah lautan. Entah menyesali atau malah senang dengan ”balas dendam” teman-teman yang lain.

Tapi kali ini, tidak ku lihat wajah jahil Indar ketika meneriakkan ada ular.. ada ular ketika kami sama-sama snorkeling di pulau Hoga. Sumpah mati, ular binatang yang paling ku takutkan. Jangankan melihat, mendengar namanya saja aku sudah panik terasa mau mati. Ditambah lagi, aku sekarang berenang. Refleks kakiku meronta menerjang ombak. Hanya aku lupa, dilaut bukan kolam renang. Kaki refleks bergerak dengan gaya katak. Betiskupun berbenturan dengan fin-fin itu. Life vest menambah berat buatku untuk berenang.

Rasanya aku tidak percaya. Jogja tidak mungkin kena gempa. Rasa tidak percayaku sama seperti ketika pertama kali mendengar Bali dibom. Ketika itu tanggal 13 Oktober 2002, jam 1 tengah malam. Bom terjadi jam 11 malam. Bom mungkin meledak ditempat lain. Tetapi tidak dengan Bali. Baliku. Sama seperti gempa, tidak mungkin gempa terjadi di jogja. Aku pernah 6 tahun menjadi warga jogja ketika kuliah di UPN. Tapi otakku yang lain menyergap, protes. Mungkin saja karena Merapi mau meletus.

Dengan cepat otakku menscanning orang-orang yang ku kenal di jogja. Mas Doni, Mas Toto, Pak Roem, YPRI, keluarga di Kranggan, Danti, Komang, Bu Niniek, Om Margino, Om Janu, Tante Wiwin, Bli Lotok.... bagaimana mereka. Selamat gak ya...

Segera ku rebut laptopnya Veda, dan browsing di internet. Cari berita gempa. Ketika buka yahoo messenger, eh ada mbak Ririn disitu, lagi on line.

Drong drinngggg... droooonngggg driiiinnnggg

”Mbak Ririn, bener jogja gempa?”

”bener. Tadi pagi jam 6”

”parah gak? Kaliurang gimana”

”Kaliurang gak papa. Gempanya dari selatan. Dari laut”

”loh kok bisa. Aku pikir gara-gara Merapi meletus”

”enggak. Dari laut. 5,9 SR”
”terus kabar temen-temen gimana”

”gak tahu.. aku masih browsing neh. Susah menghubungi Jogja. Katanya parah. Rumah mas Toto, gentengnya jatuh.. dindingnya retak-retak.”

”waduhh..? kok bisa ya... parah banget berarti”

”aku belum bisa menghubungi keluargaku neh. ada adikku diJogja”

”oia.. terus rumah mbak Ririn gimana?”

”nah itu dia, aku belum tahu. Belum bisa menghubungi neh. aku lagi berrencana berangkat ke Jogja”.

”weee... bandara gak bisa dipake neh.. katanya bandara Adi Sucipto ditutup”.

”oya aku lagi berpikir mau pake apa?”

”pesawat Jakarta Solo aja. Dari Solo naik bisa ke Jogja. Kalo gak lewat Semarang”.

”bisa juga.. aku lagi berpikir mau pake mobil aja.. mungkin pesawat penuh. Orang lagi panik.”

”yo wiss.. mbak Ririn ati-ati ya...”

”thanks Wi...”

Ternyata dugaanku salah. Aku pikir gempanya gara-gara Merapi udah meletus. Eh taunya, datangnya dari selatan. Weeekkk... langsung aku berpikir, pak Rujito gimana ya... dia rumahnya khan dipinggir pantai Samas. Kena gak ya.... hatiku langsung miris. Menangis. Aku pengen banget berada disana. Membantu, mengevakuasi korban. heeekkk, tapi aku udah terlanjur janji dengan Veda akan disini selama sebulan. Ini baru seminggu.

Waktu itu, aku gak langsung nelpon mas Doni dan temen-temen yang lain. Hpku mati, dan aku malas banget ngecharge, badanku masih oleng. Tubuhku masih harus adaptasi untuk hidup didarat lagi setelah seminggu hidup tidak normal dikapal.

Sorenya aku baru menelpon pak Yoga. Untung dia ada.

”Pak yoga dimana?”

”aku masih di Denpasar. Kenapa?”

”waduh saya pikir di Jogja, saya denger dari TV, Jogja kena gempa. Takutnya Pak Yoga ada disana”

”oo... kamu udah tahu rumahnya mas Toto gentengnya rontok?”

”saya belum menelpon mas Toto, pak Yoga.. begitu ya..”
”iya.. sekarang rumahnya jadi posko”

”waduh parah banget ya.. terus mas doni gimana khabarnya?”

”doni belum bisa ku hubungi. Padahal hari rabu ini aku mau ketemu dia di Jakarta. Gimana ya.. bisa gak berangkat tuh anak”.

Aku langsung ingat, mas Doni itu, orangnya sangat sensitif dengan isu keselamatan. Pernah dia langsung lemas begitu mesin pesawat yang mau ke ende meledak mesin disebelah kiri waktu pesawat bari saja take off dari bandara Ngurah Rai.

Meski pesawat gak jadi berangkat, tapi dia masih tetap grogi sampai malam. Ketika tim fasilitator memutuskan tidak jadi ke Ende, dia orang pertama yang paling senang sampai mau lompat-lompat kayak kelinci hehehe.... hiperbola.

Selang beberapa hari aku baru bisa menghubungi mas Doni.

”Mas Doni, gimana khabarnya? gak dirumah sakit khan?.”

”wooo.. syukurnya gak dik. Cuma masmu ini agak lecet-lecet sedikit dikepala. Tapi gak apa-apa”. Mas doni itu sudah seperti kakak laki-lakiku. aku hanya dua orang bersaudara. Keduanya perempuan. Aku tidak mungkin punya kakak kandung laki-laki. Bapakku sudah meninggal 14 tahun yang lalu.

”iya aku lihat di TV, mengerikan banget kondisi di Jogja. Banyak korban yang meninggal”.

”banyak orang kegencet dirumah mereka dik, ya.. maklum khan masih jam 6 pagi. Tetanggaku, 6 orang meninggal. Sebenarnya yang satu orang, udah berhasil keluar rumah, tapi rumahnya malah yang ngejar dia. Ambruk ke depan.”

”lagian rumah-rumah di Jogja struktur bangunannya lemah je. Sedikit disenggol aja ambrol. Waktu kejadian mas Doni lagi ngapaen?”

”ehmmm... kamu tahu sendiri kan dik, masmu ini insomnia. Aku baru tidur jam 5. tiba-tiba mukaku dibangunin sama serpihan semen-semen tembok. Refleks aku bangun dan.. jatuh. Mungkin karena masih goyang”.

”terus luka?”

”lumayan. Lumayan besar jadi penghias botakku. Tapi udah gak apa-apa kok dik”.

”kata pak yoga, as doni mo ke jakarta, gimana bisa pergi gak?”

”waduh belum tahu pasti ini, gimana, masih berantakan begini.. aku mau beres beres dulu. Mungkin harus cari kontrakan baru.. bapak kontrakanku bilang mau sekalian merenovasi rumah ini. Menurutku emang mesti iya, direnovasi..bangunannya udah ambrol begini”

”yo wis,.. ati-ati ya”

”kamu sendiri gimana di Wanci, baik-baik aja toh”.

”aku baek-baek mas. Ini aku baru nyampe diwanci setelah keliling-keliling pulau-pulau di wakatonbi.. ini baru dapat sinyal. Kemaren aku hidup berhari-hari dikapal.”

”weee.. enak donk...”

”enak dan enggak. Aku mabuk 3 kali. Sekarang jalan aja rasanya masih oleng. Tapi yo weiss aku gak usah dikhawatirkan. Asal dirimu baik-baik aja.”

”dik kalau ada keluargamu atau temen yang masih belum bisa dikontak di jogja. Kasi tahu aku ya.. tar aku ta tengokin.”

”ok mas, yo wis. Itu dulu ya...”

abis nelpon mas doni, aku langsung mencet nomornya mas toto. Tuuttt...tuuutttt...

”babe.. gimana khabarnya?”

”babe baik baik. Cuma rumah, gentengnya pada jatuh eee”

”tido, bram dan bu wahya gimana?”

”mereka baik-baik. Sekarang dirumah jadi posko. Disini banyak juga yang jadi korban. babe masih sibuk ngurus-ngurus neh.”

”ya udah. Aku Cuma khawatir ada apa-apa dengan babe”.

”hati-hati ya be..”

”iya..kamu hati-hati juga.. kamu masih diwanci?”
”masih be..”

”ati-ati ya..”

”ya..yuk be..”

---

jogjaku sayang jogjaku malang. Aku menangis. Jumlah korban semakin lama semakin meningkat. Tidak hanya korban nyawa. Banyak rumah penduduk juga jadi tumbal. Aku jadi ingat model rumah-rumah penduduk di jogja, apalagi di daerah bantul yang masih banyak mempertahankan model rumah joglo.

Jadi ingat waktu masih wara-wiri dengan Danti untuk penelitian penyu di pantai samas. Setiap minggu kami pasti melewati jalan-jalan di samas dan pandan simo. Syukurlah katanya gempa melewati pantai samas. Aku denger-denger lagi, daerah mereka terselamatkan karena gumuk-gumuk pasir. Gunungan pasir aneh yang selalu kupertanyakan, apa tuhan gak punya kerjaan. Kenapa sampai sempat membuat gumuk-gumuk pasir. Mengganggu pemandangan.

Ck...ck..ck... kenapa Jogja sampai kena gempa ya?. Ditengah-tengah aku lagi bingung mikir jawabannya. Permadi membuat pernyataan aneh di infotaiment. Gempa ada dijogja karena kemurkaan Ratu Pantai Selatan, karena sudah gak diperhatikan lagi oleh keraton. Katanya lagi Jogja gak mungkin kena gempa, selain karena kemurkaan ratu pantai selatan. Jogja selama ini dilindungi oleh pasukan kasat mata dari selatan. Selama ini jogja belum pernah diapit bencana seperti ini. Seperti dijepit ancaman dari selatan dan utara. Permadi menyarankan agar kesultanan jogja mulai memelihara hubungan baik lagi dengan ratu pantai selatan. Ruwatan mungkin ya. Tapi bukannya setiap malam bulan suro itu ada sekatenan?.

Ternyata, veda juga setuju dengan Permadi. Heran, tumben tuh anak pola pikirnya percaya magis.

”iya. Sultan itu harus kawin lagi. Gak belum punya anak cowok tuh. tar, ratu selatan kawin ama sapa?. Masak ama anak cewek sultan. lesbi donk.” katanya, memprovokasi.

Iya juga. Aku baru inget, Permadi pernah bilang ada ikatan khusus antara sultan jogja dengan Nyi Roro Kidul, ratu pantai selatan. Setiap sultan jogja itu adalah suami gaib Nyi Roro Kidul. Perkawinan gaib inilah yang melindungi warga jogja dari segala bencana yang mengancam.

”Sultan kan selama ini yakin tuh, kalau anak-anaknya bakal bisa memimpin jogja. makanya beliau gak kawin lagi. Tapi sultan lupa ama hal-hal magis begitu.” tambah veda lagi, becanda mungkin. Tapi karena dia ngobrolnya tanpa ekspresi didepan laptop, kesannya jadi serius.

”makanya tuh, sultan itu harus kawin lagi. Tapi kita liat aja, sultan mau kawin lagi gak?” sahutnya sembari melirikku, menantang.

”jadi dirimu setuju kalau sultan kawin lagi. Weekkk, aku gak setuju. Poligami dong.”

”untuk menyelamatkan daerahnya?” tantang veda

”emang nanti, kalau kita gak punya anak cowok, kamu mau kawin lagi gitu?” sahutku sebal.

”lah... kok jadinya kita yang kena. Kan aku bilang sultan. lagian, untungnya aku bukan sultan.”

”untung apa buntung?..”

aku heran. Gempa di jogja benar-benar tidak bisa diprediksikan penyebabnya apa. Tapi yang pasti, apa poligami jadi solusi biar besok-besok jogja gak gempa lagi. Lagian kan kasian Gusti Ratu Hemas, dimadu. Padahal selama ini, aku salut dengan kepemimpinan Sultan Hemangku Buwono X. Beliau sangat ngemong. Hanya beliau yang bisa meredakan emosi kawula jogja ketika reformasi, kerusuhan dan lainnya. Satu lagi, beliau monogami. Tidak seperti sultan-sultan terdahulu yang istrinya banyak. Veda lagi, nyebelin. Kok dia ada ide aneh nyuruh sultan kawin lagi. Emang dia kepikiran kawin lagi??.. gawat neh.. belum setahun usia perkawinan kami. Hiiiii.......

aku berdoa. Sungguh. Sudah lama kayaknya aku gak berdoa. Abis belum ada hal-hal seru yang harus ku update ama Tuhan. Tapi gempa dijogja ini bener-bener.. ck ck ck.. Mudah-mudahan jogja, segera pulih dari bencana. Jogja udah kayak kampung keduaku setelah Bali. Aku kangen jalan-jalan di kranggan, kangen beli cakue didepan agatha di asem gede. Itu cakue terenak yang pernah ku makan. semoga jogja tidak menjadi mahal, karena masuknya banyak lembaga bantuan seperti halnya di aceh. Gawat nanti kalau jogja jadi mahal, kasian mahasiswanya jee....

Dan semoga juga, sultan gak kawin lagi, dan bisa nyari solusi lain untuk pemecahannya.

Kalau iya, permadi bener. Kalau gak gimana??....

”Tak ada Dokter di sini.......”
kamis, 8 juni 2006

Baru menjejakkan kaki di pelabuhan Tomia, setelah 4 jam berjuang diterpa hempasan ombak angin timur, sudah disambut dengan sinar matahari yang menyengat. Perjalanan 4 jam dari wanci ke tomia terasa melelahkan. Untung hari ini, cuaca cerah. Biasanya hujan terus, kalau tidak mendung. Andai saja, tidak ada pemandangan ikan-ikan terbang dan sesekali koli-koli masyarakat bajo melintas, perjalanan ini pasti akan membosankan.

Suasana kampung di desa waha ini sepi. Orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah ketimbang keluar. Hanya ada satu dua ibu-ibu yang melintas menjinjing tas kresek hitam. Mungkin baru membeli sesuatu dari toko yang berjejer di perempatan pelabuhan. Tiba-tiba kak udin, seorang master dive yang sekarang bergabung dengan WWF Indonesia, salah satu organisasi pelestari laut mengeluhkan sakit kepala. rupanya, sakit kepalanya belum reda, akibat matanya kena jotos kompressor selam ketika hendak mengecek alat. Tutup kompresor mental kena matanya. Ketika itu, mata tiba-tiba seperti mike tyson yang dijotos hollyfied. Merah dan bengkak. Sakit matanya itu, yang sekarang merambat jadi sakit kepala. sebenarnya, dia sudah menyiapkan paramex yang dibeli di wanci, tetapi ketinggalan di kapal.

Sambil jalan, mau ketempat pak udin. Kami bertanya pada ibu-ibu yang jualan di warung-warung diperrempatan pelabuhan. Ada yang jual paramex, atau paling gak obat sakit kepala. tidak satupun warung yang menjual obat itu. Padahal obat itu khan dijual bebas dipasaran. Ada sekitar 4 warung yang kami tanyakan, disepanjang jalan mau ke rumahnya pak udin. Rumahnya tidak jauh dari pelabuhan hanya sekitar 400 meter. Orba, salah seorang jagawana yang sering tinggal di tomia, menyarankan sebaiiknya kami membelinya di apotek deket rumah ibu bidan.

Karena tidak ada waktu, dan harus menunggu teman-teman yang lain. Kak udin, menunda membeli obat, dan meringis menahan sakit kepalanya. Sambil ngobrol dengan para jagawana yang hendak ke runduma untuk monitoring penyu. Selama obrolan itu, menyinggung tentang dokter.

Mulailah temen-temen curhat mengenai minimnya layangan kesehatan. Seperti halnya pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia, salah satu hal yang umumnya dikeluhkan oleh masyarakat Tomia adalah kurangnya pelayanan kesehatan yang memadai. Masyarakat di Tomia mengeluhkan kurangnya tenaga dokter dan layanan kesehatan. Di pulau tomia yang dibagi menjadi 2 kecamatan.... tenaga dokter hanya ada di wilayah Usuku. Kalau ada anggota masyarakat yang sakit harus ke Usuku, karena diwilayah Usuku ada puskesmasnya. Jadi dokter yang disana adalah dokter jaga untuk puskesmas. Jadi kalo ada anggota masyarakat dari Waha misalnya yang sakit harus ke Usuku, yang letaknya kira2 10 kilometer. Repotnya kalau tidak punya motor.

Sebenarnya ada beberapa mantri kesehatan disekitar wilayah mereka, namun sepertinya masyarakat lebih memilih pergi ke dokter daripada ke mantri. Disamping itu, dukun kampung dengan obat kampung juga ada. Tetapi keberadaan mereka tergusur karena kepercayaan masyarakat kepada dokter lebih tinggi.

Mereka menginginkan ada seorang dokter yang tinggal didekat-dekat mereka. Dr. Sukirman, adalah seorang dokter dari bali, yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat di tomia, khususnya di Waha. Dr. Sukirman, orangnya baik. Dia sangat akrab dengan masyarakat.

”pak sukirman itu,, dokter yang hebat. Dia bahkan meracik obat sendiri, dan mengoperasi sendiri. Kalau ada dia, masyarakat tenang.”Kata saharuddin, bapak satu anak itu warga desa Waha.

Matanya menarawang mengingat kembali jasa-jasa pak dokter sukirman. Dokter Sukirman selesai tugas disana sekitar tahun 1989.

”Semua orang menangis, waktu pak Sukirman kembali ke Bali. Kita semua senang, kalau dia disini”. kata Pak Udin, seorang Jagawana yang tinggal di Tomia.

Saya baru tahu yang wajah dokter sukirman, waktu melihat album fotonya Bardin. Dokter Sukirman, keturunan Cina, orangnya pendek sekali. Senyum manis tersungging dibibirnya. Dalam foto itu, Bardin kecil ada dalam pelukan Dr. Sukirman, dan dikelilingi oleh suter-suster yang bertugas di Tomia pada waktu itu.

Selain Dokter Sukirman, ada juga pak gede, seorang dokter dari bali juga. Nah dua orang itu yang paling diingat masyarakat disini.

”Sekarang saya tidak tahu mereka dimana, terakhir yang saya dengar pak sukirman sekarang tugas dijakarta. Tepatnya saya tidak tahu, tetapi saya dengar-dengar di sebuah rumah sakit besar di jakarta. Kalau pak gede sudah balik ke bali” tambah pak Udin lagi.

”Dulu juga pernah ada dokter wanita dari makasar, orang bugis. Dr. Yanti namanya. Dr. Yanti ini aktif aktif sekali orangnya. Sering dia, jalan-jalan di kampung dan mampir ke rumah penduduk nanyain gimana keadaannya. Dia orangnya ramah dan supel.” kata Saharuddin

”Dia juga orangnya tidak jijikan. Dulu pernah pak...?? dari kaki sampai pahanya kena ledakan kompor gas. Luka bakar dikakinya banyak sekali, sehingga Dr. Yanti harus membersihkannya berjam-jam. Tetapi dia gak jijik tuh, abis itu. Dengan enaknya dia menghabiskan makan siangnya. Padahal kalau saya disuruh makan itu pasti gak bisa, mau makan gimana, orang kaki bapak itu sampai daging-dagingnya keluar” Kata pak udin, merinding tapi dengan ekspresi salut. Saharuddin mengangguk mengiyakan.

---
Bapak Udin ini, seorang jagawana. Tinggal di rumah kontrakan dengan ukuran 6x6 meter. rumah sederhana berlantai semen. Dibelakang rumah ditambahkan gubuk kecil yang menempel dengan rumah terbuat dari bedeg bambu dan berfungsi sebagai dapur. Pak udin, punya dua anak. Satunya perempuan umurnya sekita 5 tahun, belum sekolah. Dan satu lagi, cowok?? Masih bayi umurnya 4 bulan. Anaknya sering ditinggal tugas, karena dia termasuk tim penyu, jadi kadang-kadang harus meninggalkan istri dan anaknya monitoring penyu di pulau runduma. Pulau runduma adalah pulau peneluran penyu. banyak penyu datang bertelur disana, secara berkala dia mencatat berapa kali penyu naik pada musim peneluran. Pulau runduma letaknya sekitar 4 jam dari tomia naik boat. Kalau naik kapal perahu sampai mungkin sampai 5 jam.

”itu kalau tidak kencang ombak”. Kata Pak Udin. ”kalau ombaknya kencang bisa lebih lama lagi, ditambah lagi perutnya pasti tidak enak. Mabuk laut.” tambahnya.

Karena tugasnya ini, dia kerap khawatir meninggalkan istrinya apalagi anaknya masih kecil. Kekhawatirannya kalau anaknya tiba-tiba sakit. Tidak ada dokter. Menurutnya, anak2 dibawah usia 5 tahun rentan sakit. Syukurnya sampai saat ini anaknya belum pernah sakit parah. Dia ingin ada seorang dokter yang tinggal didekat rumahnya.

Pak Udin kisah hidup yang seru sewaktu bekerja di tempat seorang dokter dari Bali yang bertugas di bau-bau. Dr. Yoga namanya, Dokter ini berasal dari daerah Gianyar di Bali. Gara-gara ikut pak dokter inilah, dia pernah merasakan tinggal sebulan di pulau dewata. Dan oleh pak dokter sebenarnya ingin disekolahkan di Bali, tetapi dia menolak karena tidak bisa jauh dari keluarga. Dia sedikit menyesal, kalau seandainya dulu mau disekolahkan di bali, mungkin nasibnya lebih baik. Tapi buru-buru dia menepis khayalannya itu, dan mengalihkan topik pembicaraan.

Katanya orang-orang tomia, banyak yang sudah jadi dokter. Tetapi tidak ada yang mau kembali ke tomia. Kebanyakan dari mereka tinggal di kendari, bau-bau, dan makassar. Kata pak Udin, bahkan kepala dinas kesehatan di bau-bau berasal dari Tomia.

Untungnya, untuk urusan melahirkan tidak menjadi masalah. Di desa Waha sendiri ada 5 bidang yang siap membantu ibu-ibu melahirkan. Bidan-bidan ini juga mempunyai dampingan dukun-dukun beranak desa untuk membantu proses melahirkan.

Minum Teh di Dunia Maya

Yahoo Messenger, 27 Mei 2006.
vero_nica: wik,.. thanks for the news
vero_nica: jadi sekarang berapa orang yang tewas?
parama_dewi: yup bu
parama_dewi: gimana sodara dibantul?
parama_dewi: 1700 an berita terakhir dari metro TV
vero_nica: katanya sih semua selamat, tapi rumah mereka hancur
vero_nica: sodara bapakku di sana kabeh
vero_nica: kulon progo
parama_dewi: yoiiiii... dibantul paling banyak yang meninggal 1300-an orang
parama_dewi: banyak orang tua yang meninggal
parama_dewi: dan maklum dijogja juga khan banyak bangunan tua. jadi digoyang dikit aja,,, ambrol
vero_nica: iya...
vero_nica: orang rumah msh coba kontek jogja tapi susah
parama_dewi: jaringan listrik tadi pagi mati tapi sekarang udah hidup... soale banyak orang juga yang mencoba nelpon kejogja
parama_dewi: aku lagi diwanci yu...
parama_dewi: barusan nyampe didarat setelah muter2 seminggu nebeng media tripnya WWF-TNC
parama_dewi: pas nyampe darat langsung denger berita buruk
vero_nica: weeehhh....
vero_nica: gimana Wanci?
vero_nica: seru???
vero_nica: jadi kau akan tinggal di wakatobi wik? =D>
parama_dewi: weeekkk sejauh ini aku belum menemukan yang seru.... soale tinggal seminggu dikapal mabok ampe 3 kali hehehe
parama_dewi: gak cuma sebulan ini... aku masih mencoba survive di bali hehehe
vero_nica: am watching the quake in SBS now
vero_nica: scary....
vero_nica: :-SS
parama_dewi: what is SBS??
vero_nica: one of australian tv channel
parama_dewi: ooo..okayyy...
parama_dewi: mengerikan..
vero_nica: after merapi and now the quake
vero_nica: east timor pula
vero_nica: #-o
parama_dewi: ada wartawan kompas disini ngingetin waktu dulu setelah tsunami, sultan udah ngingetin mungkin jogja akan ada bencana alam juga. sultan minta warga buat sayur lodeh. entah beneran ato gak
vero_nica: jadi masih kekeh neh ngga mau tinggal bareng suami
vero_nica: kasian si veda ;))
parama_dewi: kata wartawan pantau: sekarang kita lagi menyaksikan indonesia hancur
parama_dewi: soale ada kemungkinan juga veda akan pindah ke bali.. tapi belum pasti... nah aku pikir... mendingan aku nunggu dia di bali
parama_dewi: lagian kasian mobil dirumah gak ada yang pake.. ketimbang mogok, ongkosmnya lebih berat
vero_nica: hehehhe... semoga veda bisa segera pindah ke bali dan kalian bisa segera ngumpul
parama_dewi: yupppp semoga doanya segera terwujud..
parama_dewi: dari pengamatan semntara aku kayaknya gak betah stay disini deh bo.. panas menyengat hahahaha
vero_nica: ya iyalah, ga ada bule, ga ada mall, ga ada cinema 21 juga kan..
vero_nica: di bne sekarnag 8 degree during the night wik
vero_nica: dingiiiiiiiiiiiiinnnnnn... butuh selimut hidup!
parama_dewi: =))
parama_dewi: makanya bu segeralah diperjelas hubungan dengan bapak yang satu itu
vero_nica: hehehehe, wong aku butuh selimut hidupnya sekarang kok
vero_nica: jd kalopun diperjelas, ga ngaruh, tetep aja sekarang kedinginan
parama_dewi: weekkkk ...oia.. lupa...
parama_dewi: eh di bne udah ada da vinci code belum?
parama_dewi: aku udah nonton waktu kemaren dibali
vero_nica: aku wes nonton 2 kali
vero_nica: tp aku blum baca bukunya
vero_nica: dan baru mau beli
parama_dewi: 2 kali niat banget. nonton sendiri bu? weee gak seru
vero_nica: ya engga dong ah
parama_dewi: sooo??? what was going on after the movie?
parama_dewi: aku lagi ngebayangin romantic date neh
vero_nica: hahhahaah ... engga, engga ada date-date-an ah
vero_nica: udah mau pulang indo
vero_nica: 2 bln lagi juga balik
parama_dewi: when??
vero_nica: jd males memaintain hubungan di sini
parama_dewi: jadi udah kelar neh tesisnya??
vero_nica: lagian udah ada yg nunggu kan di indo ;)
parama_dewi: gila cepet banget ya
parama_dewi: muahhhhmuahhh deh
vero_nica: cepet ya?
vero_nica: buat ku kadang2 berasa cepet kadang2 berasa lama
vero_nica: kalo lg dikejar deadline, rasanya cepeeeettt banget
parama_dewi: eh aku kirim foto nikahanku kemaren disurabaya ya??
vero_nica: kalo lagi kangen (:">) rasanya lamaaa banget
vero_nica: MAUUUUUUUUU
parama_dewi: dasar!!! lagi mupeng ya
vero_nica: ho oh neh..
vero_nica: thesis is finishing
vero_nica: supervisorku bilang dia happy dan enjoy reading my thesis
parama_dewi: waooowwww muantep banget.. tar kalo di indo.. kasi liat aku ya tesisnya
parama_dewi: dapet A donk
vero_nica: but it's not 100% done yet... got to revise some parts as he suggested
vero_nica: dan ga jaminan bakal dapet A lah wik
vero_nica: bisa2nya dia aja lip service ma gw
parama_dewi: yang dosen bermata biru itu??
vero_nica: oh bukan... eh, yang dosen bermata biru itu kasih aku 86 lho utk essay ku semester lalu
vero_nica: tentu saja aku dapat segitu, wong aku NIAT ngerjainnya.... ;))
vero_nica: cari muka gitu deh ama doi... >:)
parama_dewi: dasar!!!
vero_nica: tauk ndirikan di sini dapat 80 tuh SUSAAAAAAAAAAAAAAHHH banget... tanya plicha deh
vero_nica: dgn sentosanya gw dikasih 86! it's consider as A
vero_nica: wong aku niat ngerjainnya >:)
vero_nica: topik essayku ttg ICTs and women empowerment in Indonesia
parama_dewi: ICTs itu apa yu?
vero_nica: aduh, katanya hidup di era digital, information society, kok ya nda tahu ICTs... ;))
vero_nica: ICTs stands for Information and Communication Technologies dear
parama_dewi: ooo... begituuuuu
vero_nica: sekarang, dunia percaya bhw ICTs can alleviate poverty ... (bullshit!)
vero_nica: byk project UN utk pengembangan ICTs
vero_nica: di Indo UN kerjasama dgn Bappenas (G to G) tuk bikin telecenter
parama_dewi: iya dan proyek funder itu khan mengacu pada proyeknya UN?
parama_dewi: terusss
vero_nica: iya
vero_nica: jadi asumsi mereka, kalo ICTs itu dikembangkan, local people melek teknologi, maka mereka more likely utk ngembangin daerahnya
vero_nica: krn akses teknologi memungkinkan mereka utk dapat informasi
vero_nica: utk mengembangkan bisnis
vero_nica: contoh, lewat internet mereka bisa jualan produk2 agraria mereka dll
vero_nica: katanya sih di beberapa negara cukup sukses
vero_nica: nah, aku analisa kemungkinan pengembangan ICTs itu utk women empowerment di Indo
parama_dewi: weeee.. kayaknya mereka harus pergi ke negara berkembang dulu sebelum positif banget kalo aplikasi teori mereka bisa jalan
parama_dewi: terus analisamu adalah??
parama_dewi: tar aku gantian cerita perjalananku ke pulau2 terpencil diwakatobi ini
vero_nica: di Indo, challenge nya banyak sekali
vero_nica: infrastructure adalah salah satunya
vero_nica: tp berkait dgn pemberdayaan perempuan
vero_nica: ini masalahnya terkait dengan cultural, social, economic and political dimensions
parama_dewi: yuppp...
vero_nica: krn akses perempuan di public sphere terbatas
vero_nica: apalagi di daerah
vero_nica: jadi yang harus dibenerin sistemnya dulu
vero_nica: tetap saja perempuan left behind
vero_nica: akses terbatas
vero_nica: dan perannya lbh di domestik area
vero_nica: ini DIGITAL DIVIDE yang harus dibenahin dulu
parama_dewi: jargon digital divide itu artinya apa?
vero_nica: teknologi memang membantu, tapi tidak bisa simply dianggap sbg the only solution utk pengentasan kemiskinan
vero_nica: masih JAAAUUUUHHHH utk indonesia
vero_nica: masalahnya sekarang, ICTs itu udah spt hegemony aja
vero_nica: yg tentu saja dibangun oleh mereka2 yang punya kepentingan
parama_dewi: tetapi memang tidak ada satu formula tunggal yang bisa mengentaskan kemiskinan. karena masalah kemiskinan sendiri sangat tersistematis secara kompleks
vero_nica: itu dia
parama_dewi: menurutku.. kepentingannya masih tetap antara aliansi pemilik modal dengan profesional.
vero_nica: ini kepentingannya lebih besar lagi, global, negara2 superpower itu lah yg ambil keuntungan
vero_nica: skrg kan amerika lagi sibuk urus intelektual property right (IP)
parama_dewi: iya negara superpower dengan mengembangbiakan orang-orang pintar dinegara-negara lain untuk menyuntikkan isu kemasyarakat bahwa teknologi informasilah yang menjadi kebutuhan masyarakat
vero_nica: salah satunya, di akan ada badan dunia yang urus masalah pengaturan internet atas nama IP
parama_dewi: menurutku sama dengan model penjajahan tetapi dengan strategi yang berbeda
vero_nica: jadi, akses diatur, ga bisa sembarang download informasi... harus bayar dst
vero_nica: kan gelo!
vero_nica: akses dibatesin dan dikapitalisir
vero_nica: on behalf of INTELECTUAL PROPERTY RIGHT
vero_nica: nah, statement ku itu kesimpulan thesisku
vero_nica: to some extent, new imperialism remain exist, not in the form of colonialism but in the form of New Media development
parama_dewi: dunia barat itu selalu over produksi. kelebihan produksi itu harus dibawa keluar..tetapi kebutuhan diluar belum mencapai ke masa itu... ibaratnya didunia ketiga orang hidup dalam zaman bertani, sudah harus diupgrade dengan paksa masuk ke zaman digital.. itu karena negara berkembang harus "sukarela tetapi terpaksa" menerima kenyataan palsu bahwa idnustri teknologi informasi menjadi kebutuhan mendesak
vero_nica: atas nama globalisasi!!!!!
parama_dewi: yup aku setuju
vero_nica: jadi, media2 alternative itu sebenarnya salah satu upaya utk counter-hegemony mainstream media yang sekarang menjajah dunia ketiga
vero_nica: termasuk radio komunitas
parama_dewi: ketika orang berada dalam kampung global.. idealnya kedudukan mereka harus setara... kalo tidak setara akan selalu ada politisasi pemaksaaan kebutuhan didalam kampung global itu.
vero_nica: which lies on the principle of participation, community empowerment, and open access
vero_nica: simply because people have the right to information and the right to communicate
vero_nica: in the global scale, struggle nya sekarang adalah the right to communicate and the right to information wik
vero_nica: freedom of expression yang ada sekarang, sebenarnya lead to market mechanism
vero_nica: dan media adalah salah satu institusi yang tidak saja potential secara economy tapi juga alat penting utk propaganda guna maintain hegemony tadi
parama_dewi: yup.. karena belum ada media yang benar2 "mendidik". media sekarang masih perpanjangan tangan dari kapitalisme
vero_nica: kalo dulu di Indo "state regulation"... kemudian authoritarianism digoyang atas nama freedom of expression... yg sebenarnya diarahkan utk menjadi "market regulation"
vero_nica: penentunya bukan negara, tapi pasar
vero_nica: dimana negara memperoleh keuntungan yang tidak langsung dari pasar
parama_dewi: sekarang ini sudah sangat terasa.
vero_nica: jadi, ya sama sama juga... krn yang nguasain negara toh dia2 juga
parama_dewi: iklan semakin gencar menyerang...setiap tayangan mebawa tendecy untuk perubahan gaya hidup
vero_nica: bisnis adv agency, gila2an lho billingnya wik
vero_nica: makanya, media tuh powerful banget,... bukan saja dari sisi bisnis, tapi juga sbg alat politik
parama_dewi: iyaaa
vero_nica: yang ujung2nya memperpanjang jurang si kaya dan si miskin
parama_dewi: iya...makanya pemerintahan SBY-JK sangat jauh berbeda dalam komunikasi politik. mereka menggunakan media massa sebagai alat kompolnya
parama_dewi: selalu akan begitu.... dari dulu selalu ada sekutu antara orang kaya dan orang pintar untuk menindas orang miskin...
vero_nica: while development has been focused on economic growth, poverty and inequality remain increase and the gap is widening instead of narrowing... what a paradox man!
parama_dewi: karena dalam hidup itu bentuknya selalu piramida dimana orang kaya dan pintar yang menduduki piramida atas]
parama_dewi: mereka selalu ketakutan kalo posisi piramida ini menjadi terbalik
vero_nica: padahal mereka sendiri yang mendefinisikan development = economic growth
parama_dewi: jargon
parama_dewi: kuasa bahasa
vero_nica: tp kenyataannya, development only create dependency and the gap is widening instead of narrowing
vero_nica: the rich is getting richer and the poor is getting poorer
vero_nica: no, it's not merely "kuasa bahasa" wik
vero_nica: tp secara theory mereka mendefine development sebagai economic growth
parama_dewi: bahasa juga menunjukkan penindasan. selalu orang menggunakan jargon untuk membuatnya mereka berada dalam tingkatan yang lebih tinggi dengan orang lain. secara tidak langsung jargon juga merupakan penindasan karena mereka semakin mempersempit ruang agar orang paham
vero_nica: dan ini rooted in western perspective dimana mereka melihat development dalam kerangak dualistic
parama_dewi: tetapi itu sangat mendasar mbak.
vero_nica: oposisi biner: modern vs traditional, agriculture vs industry, so on so forth
parama_dewi: dari 200 juta orang indonesia sapa yang mengerti tentang sustainable development
vero_nica: ngga usah dalam level bahasa wik, di tataran konseptual saja blum jelas
vero_nica: belumlah bulat dalam konsep tapi istilah itu sdh digunakan secara luas
vero_nica: demikian juga dgn development
parama_dewi: masalahnya ini yang sering diremehkan juga pada orang.... ketika penempatan bahasa tidak diperhatikan... konsep hanya menjadi onani di kalangan para intelektual dan tidak bisa diaplikasikan kebawah
vero_nica: belumlah tepat mendefinisikannya ttp scraa praktis sudah digunakan secara luas, bahkan dianggap sbg satu2nya konsep yang paling benar
parama_dewi: ini juga yang menjadi aneh dikalangan para LSM yang membumikan "konsep" konservasi kedaerah. mereka membawa bahasa yang asing untuk orang disana.. sehingga antara orang yang dibrainwash sama LSM, menjadi berjarak dengan kalangannya sendiri... akhirnya misalnya staff lapangan orang tomia, sering menyebut warga tomia dengan sebutan mereka... selain juga ada beberapa bahasa yang sudah ada didaerah tersebut yang bisa dipakai
parama_dewi: wahhh aku gak nyambung yaaa
parama_dewi: pada intinya aku setuju dnegan mbak vira... cuma aku nambahin dari segi pandangan digrass root tentang apa yang terjadi pada tahap global..
parama_dewi: ibaratnya orang didarat lagi memandang keatas apa seh sedang bergolak diatas awan
vero_nica: benar...
vero_nica: it's kinda true
parama_dewi: soalnya dalam teknologi informsi bahasa itu rohnya
parama_dewi: ayo apalagi.. aku dengerin kok
parama_dewi: eh salah baca kok
vero_nica: apalagi apanya?
parama_dewi: kesimpulan dari tesisnya
vero_nica: tesisku ttg: the nature of community radio in bandung west java, its potentiality, and challenges
vero_nica: kesimpulannya, kamu harus baca sendiri
vero_nica: :D
parama_dewi: weeekkk
parama_dewi: bu update terakhir korban gempa dijogja 2400--an lebih
vero_nica: lumayan kok 140halaman termasuk appendix :D
vero_nica: info darimana wik?
vero_nica: aduh, aku merinding
parama_dewi: Metro TV. hebat.. aku salut kok orang2 bisa nulis dengan baik ya
parama_dewi: aku selalu buruk kalo lagi nulis
vero_nica: weeehhh kata siapa nulis "dengan baik"
vero_nica: 140 halaman tidak menjamin nulis nya baik atau tidak lagi
parama_dewi: ojo ngono toh yu 86 jee
vero_nica: oh 86 itu mah bukan tesis, tapi mata kulaih communication theory
vero_nica: assignment biasa
parama_dewi: oh iya lupa..gila.. cuma gempa tapi bikin 2000 orang lebih meninggal yaaa
parama_dewi: hehehe, jahat gak seh.
vero_nica: itu mah cuma skitar 3500 kata
parama_dewi: weeekkk pokoknya
vero_nica: astaga, gempa kamu bilang "cuma"?
parama_dewi: hebat!!
parama_dewi: jangan protes, aku lagi memuji nehhhh
vero_nica: apanya lagi yang hebat
vero_nica: wong lulus aja blum
vero_nica: plicha tuh hebat
parama_dewi: pokoknya hebat titik
vero_nica: dasar!
parama_dewi: tadi pagi aku nangis loh
vero_nica: knp? kangen aku ya?
parama_dewi: ada sesi media trip ngeliat secara langsung nelayan bajo yang menambang karang
vero_nica: aku baik2 aja kok,ngga usah nangis :D
parama_dewi: sialan
parama_dewi: >:P
vero_nica: >:)
parama_dewi: kami pake speedboat untuk sampai ketempat orang2 menambang karang dan itu ditengah lautan.. mungkin denngan perahu kecilnya orang bajo mereka membutuhkan waktu dua jam untuk sampai kesana
parama_dewi: btw, mbak vira kebayang gak gimana kehidupan orang bajo
vero_nica: gimana? hidup di dalam perahu gitu kan?
parama_dewi: dulunya,, mungkin masih ada yang begitu, tetapi kebayakan orang bajo sekarang udah tinggal menetap tetapi masih tetap diatas laut.. jadi mereka membuat rumah rumah panggung
parama_dewi: rumahnya luasnya tidak lebih dari 6x6 meter untuk segala aktivitas.
parama_dewi: kalo sakit mereka tidak pernah kedokter, kalo istri melahirkan mereka hanya dijaga suami, anak2 tidak sekolah setiap hari kerjanya mancing dan bermain, dapat ikan untuk dimakan dihari itu.
parama_dewi: kalo mereka meninggal, mayatnya hanya diikat dengan karang untuk pemberat. satu dikaki, diperut dan dada, abis itu ditenggelamkan ke laut
parama_dewi: mereka sebagian besar dari mereka tidak terlalu ngeh dengan teknologi.
parama_dewi: karena mobilitas mereka hanya disana-sana saja.
parama_dewi: sayangnya mereka tidak hanya makan ikan?
parama_dewi: emang pakaian, garam, cabe, bawang merah, putih, sabun dll bayarnya pake apa?
parama_dewi: karena pemasukkan kecil, mereka mencongkel karang. Lalu dijual ke darat. Orang darat beli karang untuk jadi pelabuhan kecil untuk memarkirkan kapal mereka
parama_dewi: nahhh.... dalam media trip tadi pagi, ada orang nelayan bajo yang tidak sengaja kepergok sedang ngambil karang
parama_dewi: mukanya langsung pucat pasi, liat perahu patroli jagawana. maklum bberapa waktu lalu ada temen mereka ditangkap waktu ada razia gabungan polisi dan jagawana pake boat yang sama
parama_dewi: dia menggigil, tapi jadi sedikit lega waktu tahu dia gak akan ditangkap.
parama_dewi: namanya pak Gapa. Kasian udah tua, umurnya 60 th.
parama_dewi: padahal ada polhut yang ikut diboat kami...
parama_dewi: banyak wartawan yang mencerca dia dengan berbagai pertanyaan, yang mempertanyakan moralnya kenapa mengambil karang. gak takut? atau gak tahu aturan, dlll
parama_dewi: weeeee.. masih hidup gak?
vero_nica: iye bu… tapi disambi sebentar ya.. pacarku lagi nelpon.
parama_dewi:pacar gelap ya…
vero_nica:sialan.. kalo yang ini mah gak backstreet
parama_dewi:kalo namanya tetep dirahasiain tetep aja namanya backstreet.
vero_nica:wiikkkkk.. tar disambung lagi ya.. pacarku besok mo berangkat ke jogja bareng temen-temen LSMnya. Ada temennya, salah satu aktivis jadi korban.
parama_dewi:yo wissss.... salam ya. Eh tadi ceritaku gimana??...
vero_nica:sesok meneh yooo...
parama_dewi: weeeekkkk.. yo wis. Salam yo karo pacar gelap.
vero_nica:sialan!!!