Thursday, July 20, 2006

piodalan di sukawati




ini serangkaian odalan di Khayangan Tiga Desa Sukawati. Odalan yang sebelumnya itu di Pura Dalem sementara yang kemarin ini yaitu odalan di Pura Desa.
aku lagi gak punya cerita, jadi ku masukin foto2 aja ya.

Monday, July 10, 2006

Pedanda dan Kekerasan Jender

Pedanda istri (pendeta perempuan) ini, badannya kurus sekali. Kami, sisya (pengikut, meskipun istilahnya kurang pas)nya memanggil dia Ida Pendanda Istri griya banjar bedil. kalau Brahmana sudah menjadi pedanda, nama asli mereka suka dilupakan. Orang-orang lebih sering memanggil Ratu Peranda untuk menghormati.

aku jarang berhubungan dengan Pedanda, mungkin kendala bahasa. berkomunikasi dengan Pedanda, harus menggunakan bahasa bali halus. meskipun aku kenal dengan beberapa pedanda demokrat yang mengesampingkan pakem-pakem itu. bahasa tidak jadi masalah, yang penting inti dari komunikasi. begitu rata-rata komentar mereka. dan anehnya sebagian besar pendanda demokrat ini pedanda lanang (pendeta laki laki).

Kemaren ada Upacara Nanjeb Tetaringan. upacara ini, awal dari serangkaian upacara Pedudusan Alit di rumah bibiku. Upacara ini menandakan bahwa mulai hari itu, tidak ada satu kendala apapun bisa membatalkan kelancaran upacara.. meskipun, ada saudara dekat yang meninggal, yang empunya acara tidak kena kesebelan.

upacara ini dipuput oleh seorang Pendanda. kebetulan di rumah bibiku, pedandanya adalah pendanda istri ini. bersama pamanku, kami mendakin ida ratu peranda istri. hari itu, rasanya gak nyaman banget. tamu bulananku datang mengunjungi. duduk gak nyaman, berdiri pegel, perut mulas-mulas. tapi berhubung cuma aku yang bisa nyetir, maka berangkatlah kami berdua.

acara penjemputan berjalan lancar. meskipun aku tidak masuk ke griya. dilarang oleh pamanku, karena menstruasi. gak boleh katanya. terasa tidak masuk akal, kalau dayu-dayu itu mens juga gak boleh masuk ke rumahnya?. nah pendanda istri itu, juga apa gak pernah mens?..

sesampainya dirumah, dimulailah rangkaian upacara. berbagai ragam sesajen dibentangkan, lagu-lagui pujian diiramakan. lamanya... sampai pantat terasa panas, mata ngantuk meski sudah diseduhkan kopi dua gelas.

matahari sudah mulai beranjak turun, ketika pedanda istri mau beranjak pulang juga. aku segera memutar balik mobilku. eh begitu turun, kaki lugra tergopoh-gopoh melarang aku yang mengantar. Pedanda gak berkenan katanya aku yang mengantar. lagi-lagi karena aku mens. ya udah... gondoklah diriku.

ya udah.. lagian juga aku gak repot toh. tapi yang repot tentu saja pak badra, dia harus menggedor-gedor tetangga, untuk jadi supir. Pak Rana, ketiban menjadi korban. dia terpaksa datang karena harus merawat istrinya yang baru kemaren malam jadi korban tabrak lari di Celuk.

Kunci mobil kuserahkan pada Pak Rana, merasa tidak diperlukan aku duduk di bale dauh.. belum sempat 5 menit aku mendudukan pantatku... kaki lugra kembali tergopoh-gopoh mendatangiku. Pendanda tidak mau keluar dari sanggah kalau aku masih duduk disitu. beliau tidak mau lewat didepanku. Karena aku mens???.... Kaki Lugra bilang aku sementara harus bersembunyi dulu di dapur. Betara Brahma saja merangkulku ketika aku didapur, bagaimana mungkin dia seorang manusia bisa melenyapkanku. sekarang darahku benar-benar mendidih. Gila!!! rasa kemanusiaanku terinjak. memangnya, aku manusia berpenyakit lepra, apabila lewat akan ketularan.

Kenapa memangnya kalau kita sedang menstruasi. bukankah itu normal. perihnya lagi, ketidakadilan gender ini, diderakan padaku oleh kaumku sendiri. dan oleh seorang pemimpin agama yang disegani..

Para pendanda ini boleh jadi tahu tentang seluk beluk sesajen, tetapi dia melupakan mempelajari bagaimana jadi manusia.

Tuesday, July 04, 2006

Back To Nature




Sukawati 4 July,

aku seperti kacang yang baru merasakan kembali kerinduan pada kulitnya, meskipun aku tidak pernah lupa. pulang ke rumah setelah lama bergelut dengan deburan ombak diperbatasan sulawesi dan maluku, sembari berjuang mendapatkan pekerjaan, aku seperti hidup kembali. hari-hariku lebih banyak dihabiskan untuk ngayah (bergotong royong untuk mempersiapkan upacara keagamaan). menikmati waktu yang kubuang dibale banjar mejejaitan, metanding dan tidak lupa bergosip dengan ibu-ibu. ada juga nenek-nenek. tapi jumlahnya kecil. jarang sekali nenek-nenek ngayah di banjar, kecuali kalau anak perempuan atau menantu mereka menjadi wanita karier dan sibuk bekerja. dadong riman, mungkin umurnya sekitar 70 tahun sebaya dengan dadongku, dia menerawang menceritakan kisah cintanya yang gagal dengan seorang guru. geli juga mendengar, nenek-nenek bernostalgia tentang kisah cintanya.. yah dong riman, mungkin tidak mau kalah dengan ABG sekarang.

mungkin sekitar 4 tahun lamanya, aku menghindarkan diri (tepatnya) dari kewajiban ngayah. dulu selalu saja, ibuku dan dadong (nenek)ku yang kuandalkan mengambil tugas ini. kuliah di jogja dan sibuk bekerja, kerap menjadi alasanku untuk tidak ngayah. padahal, sehabis jam kerja aku pasti maen.

keenggananku pada acara ngayah dan ngadat (gotong royong untuk acara kemasyarakatan) salah satunya berpangkal dari kekecewaanku pada adat patriarki didaerahku. bahwa disebuah keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki harus meminang laki-laki untuk menjadi kepala keluarga di rumah mempelai perempuan. kondisi ini, sangat dihindari oleh setiap lelaki bali pada umumnya. kondisi ini, sama seperti penyakit lepra. hindari menikah dengan perermpuan dari keluarga yang tidak ada saudara laki-lakinya. selama beberapa tahun, aku merasa seperti kena penyakit lepra.

beberapa hari ini, aku seperti merasa balik lagi kepada diriku sendiri. rasanya seperti minum segelas air sehabis berlari sejauh 20 kilometer. sejauh apapun aku menghindar, aku tidak akan bisa melupakan identitasku. dalam ngayah, aku merasa menjadi orang bali kembali. meski berpuluh-puluh sorot mata heran melihat kehadiranku yang tidak lazim. mungkin mereka heran atau malah meremehkan aku sebagai seorang penggangguran. siapa peduli. aku tidak akan membagi kebahagiaanku menikmati kerinduan ini.

aku menikmati, warna kuning keemasan matahari sore yang menerpa kulitku ketika pulang ngayah. menghirup segarnya bau legit tanah yang dibasahi oleh air hujan. menikmati mentari yang baru terbebas dari gelapnya awan, dan yang mengintip di balik klepan-daun kelapa yang hijau didepan rumah kakekku.

aku benar-benar bahagia.