Friday, October 26, 2007

KUALAT DAN STRESS

Ketika hamil, ada banyak sekali pantangan yang tabu untuk dilanggar, takut kualat!. Orang-orang tua dan yang pernah hamil sebelumnya, punya deret panjang daftar Do’s and Don’ts. Bertengkar dengan orang tua adalah salah satunya. Seperti, barusan ini, aku bertengkar dengan ibuku.

Perkara sepele sebenarnya. Ceritanya begini, Ibuku mau merebus telur ayam kampung, yang tadi sore ditemukan oleh Pak Tagen (tukang kebun lepas yang sering membantu membersihkan rumput liar dirumah), Pak Tagen bilang telur itu sudah semuuk (busuk), makanya dia tidak membawanya pulang. Pak Tagen, adalah tukang bersih-bersih dalam arti yang sebenarnya, termasuk juga sering membawa pulang barang-barang lainnya, kayak tas, sandal, baju bekas dan lainnya sampai bersih. Setiap kerja dirumahku, ada aja yang diminta diluar ongkos yang biasanya diberikan. Tidak mau rugi deh pokoknya. Balik lagi ke masalah telur, berhubung telurnya semuuk, jadi ditinggal begitu saja di Bale Dangin.

Ibuku baru saja datang dari pasar, ketika dia ingin merebus telur itu. Sontak aku melarang. Aku punya trauma merebus telur dimasa kanak-kanak. Waktu itu, mungkin umurku kira-kira 6 tahun, diwarung Miyan Toblo, warung yang lokasinya hanya 30 meter dari rumah, tempat biasanya aku dibelikan sarimi rebus oleh nenekku. Anaknya Miyan Toblo, waktu itu merebus telur ayam. Telur itu dimasukkan kedalam plastic dan plastic itu dimasukkan dalam air mendidih. Tidak lama setelah itu diangkat, dan telurpun dikupas. Mbok Lilik minta tolong ke aku untuk mengupas dan memotong telur itu menjadi dua, aku lupa untuk apa. Ketika dikupas aku kaget setengah mati, ada pitik (anak ayam) yang mati terebus ditanganku, Aku sedih. Ternyata telur itu hanya tinggal menunggu waktu untuk menetas. Lama setelah kejadian itu, aku takut setiap kali mengupas telur aku khawatir ada anak ayam didalamnya. Begitu juga ketika mau memotong telur rebus, atau membuat telur ceplok. Aku seperti dihantui bayang-bayang anak ayam itu, padahal bukan aku yang merebusnya.

Aku lupa apakah aku sudah pernah menceritakan trauma ini pada ibuku. Tetapi sepertinya tidak karena dia tidak menghiraukanku, dan tetap jalan kedapur mengambil panci untuk merebus. Aku marah. Aku bilang sama ibu, jangan telur itu sudah busuk, kata Pak Tagen dan jangan-jangan nanti ada anak ayamnya. Ibuku bersikukuh mengatakan tidak akan ada anak ayam. Aku putus asa melarang ibuku, meskipun volume suaraku sudah dinaikkan, kalah juga dengan tingginya volume suara ibuku menentang protesku.

Aku putus asa, langsung mengepak pakaianku. Aku merasa gerah, panas, tidak nyaman berada dirumah, tidak ada dukungan untuk membantuku merasa nyaman. Padahal itu yang kubutuhkan untuk membuat bayi didalam kandunganku selalu merasa nyaman.

Aku langsung mengambil kunci mobil dan memasukkan barang. Aku pamit dengan ibuku, dengan kalimat nyelekit. “aku mau tidur di Kesambi saja, ibu aja yang dirumah biar nyaman dirumah sendiri, dan tidak ada yang diajak bertengkar”.

Ibuku bertanya, “salahku apa?, dilarang merebus telur, aku tidak jadi merebus telur. Sekarang kok masih marah-marah. Memang anak sekarang tidak bisa membuat senang orang tua”.

Memang, tidak lama setelah aku mengepas barang, ibuku tidak jadi merebus telur, tapi aku sudah terlanjur marah sampai ubun-ubun, aku sudah merasa gerah dan ingin segera pergi dari rumah.

Kakekku juga mencoba meredakan marahku, dan berkata “wik, orang hamil itu tidak boleh marah-marah aja kerjaaannya. Harus sabar!”

Aku tidak menjawab dan terus mondar mandir memasukkan semua barang. Tas ransel tempat baju, tas laptop dan tas slempang postman untuk dompet dan kawan-kawannya.

“kapan kamu pulang”, tanya ibuku ketus

“Gak pulang mungkin”, jawabku sambil membuka pintu garasi dan kemudian mengeluarkan mobil.

Aku terus melaju berangkat ke rumah kami di Kesambi. Sebenarnya rumahnya Veda, karena aku sama sekali tidak urunan membayar kredit rumah setiap bulannya, hanya urunan setengah untuk membeli kitchen set. Berhubung aku istrinya veda, jadi bisa menumpang klaim atas rumah di Kesambi. Hehehe

Balik lagi ke masalahku dengan ibuku. Sepanjang perjalanan menuju ke Kesambi (dari Sukawati hanya 20 menit menyetir sambil melamun dan hanya 15 menit kalau menyetirnya focus), aku terus berusaha meredakan perang bathin didalam otakku, antara menyesal dan berhak marah dengan kelakukan ibuku.

Kalau aku berpikir tenang, aku sadar mengapa hari ini aku begitu “gerah”. Pertama, alasannya karena mungkin aku tidak bekerja lagi, dan lagi diserang post power syndrome. Diantara perasaan bosan, jenuh, sedih adalah perasaan menjadi orang yang tidak berguna-lah yang mendominasi mood-moodku. Tidak bekerja membuat kita tidak bisa berencana. Padahal aku sendiri bekerja juga dengan menerjemahkan referensi-referensi yang berbahasa Inggris untuk temanku yang sedang mengambil master manajemen perbankan.
Lumayan dapat uangnya.

Kedua, aku sudah bosan dengan rutinitas keseharianku belakangan. Bangun jam 7 pagi , itupun rasanya sudah dilama-lamain bangunnya tetapi masih juga terlalu pagi untuk seorang pengangguran – setelah itu menyapu rumah, memasak, mebanten saiban (sesajen), nonton serial film India (tidak ada pilihan lain), dilanjut dengan Oprah Winfrey, setelah itu makan siang, membaca atau kadang-kadang mengerjakan terjemahan buku pesanan Pak Yoga (bos, teman curhat, bapakku, banyak sekali identitas yang kutempelkan padanya), setelah itu tidur siang, bangun, menyapu lagi, mandi, nonton tv tetapi gonta-ganti channel terus karena tidak ada program keren, sementara kakekku menyetel Bali TV, padahal programnya juga tidak ada yang seru, copy cat program tv nasional. Intinya, aku sudah mulai bosan dengan aktivitas keseharianku. Mungkin ini yang menyebabkan aku mudah marah.

Ketiga, polusi suara. Sejak bulan purnama kemarin, ada odalan di Banjar Palak, banjarku. Apa karena ada perubahan referensi suara yang membuatku nyaman sudah berubah didalam otakku, atau ada alasan lain yang aku tidak sadari, tetapi aku sangat merasa terganggu dengan orang mekekawin (melantunkan doa-doa pujian), rasanya nadanya tidak pas, dan suaranya terlalu nyepreng, atau karena volume pengeras suaranya terlalu kencang, yang pasti alunan lembut album Jazzy tone 3, tidak lagi terdengar menyamankan bersaingan dengan lengkingan suara ibu-ibu yang mekekawin. Waduh!, prosesi odalan masih dua hari lagi dari empat hari secara keseluruhan.

Keempat, kucing-kucing liar yang berkeliaran di rumah. Aku adalah orang yang jarang di rumah. Begitu harus melewati hari-hari dengan tinggal dirumah, ada saja hal-hal jahil yang akhirnya memicu stress. Sebelumnya tiga kucing liar ini, aku sebal dengan anjing-anjinga tetangga yang mondar-mandir masuk ke rumah, mengais-mengais sisa makanan di tempat sampah di dapur, atau menunggu kami yang lengah lupa memasukkan lauknya kembali ke lemari dapur. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya ada enam ekor, memang mereka tidak datang kompak bersamaan, satu dua dulu, keluar lagi, diselingi anjing yang lainnya lagi. Tetapi anjing-anjing itu tidak hanya datang untuk mencari makan, kadang-kadang hanya mampir untuk minum saja dari kolam. Karena capek berteriak-teriak mengusir anjing itu, akhirnya kututup saja pintu pagar didepan biar mereka tidak bisa masuk. Tetapi anjing sekarang ternyata lebih pintar (padahal mereka tidak makan minyak ikan ya..), anjing itu masuk lewat tembok tetangga. Lama-lama mungkin karena mereka bosan juga diusir paksa setiap hari, mereka tidak datang lagi. sejak itulah si kucing meraja lela. Bahkan lebih parah dalam soal mencuri-curi makanan. Mereka lebih cerdik dari anjing, bahkan bisa membuka kulkas segala. Aku bertanya kenapa tuhan menciptakan makhluk hidup yang bernama kucing, fungsinya apa ya? Selain jadi pencuri lauk dan membuat orang stresss!!!!

Belum lagi belakangan ini sering merasa kaki dan tanganku terasa lemas tidak beralasan. Tiba-tiba paralyzed, tidak ada tenaga. Aku ingin sekali ada yang memijat kaki dan tanganku ketika aku lagi merasa lemas. Veda tidak ada di Bali, satu-satunya yang menganggur adalah ibuku. Tetapi ibuku terlalu capek setelah seharian mengajar dan berjualan dipasar. Aku merasa terabaikan dan tidak ada yang mendukungku. Saat-saat seperti ini aku sangat membutuhkan sedikit pijatan. Hanya itu. Seringkali aku menahan rasa lemasnya. Ibuku menuduhku terlalu manja dengan kehamilanku, dan membandingkan aku dengan Diah, adikku yang selalu tegar dan penuh energi di kehamilannya. Meskipun dari mertuanya Diah, aku tahu Diah sewaktu kehamilannya yang pertama juga tidak berdaya seperti aku, lemah. Hanya di kehamilannya kedua, dia lebih kuat. Ibuku mana mau menyadari kenyataan ini, dimatanya Diah itu tegar.

Kekecewaanku pada ibu, kemarahanku pada kucing dan polusi suara orang mekekawin, mungkin menggumpal hari ini. Aku benar-benar lelah. Aku tahu aku kualat dengan ibuku. Aku tahu, hamil tidak hamil, tetap saja kualat kalau bertengkar dengan ibu sendiri. Apalagi pamali bagi orang hamil, katanya jangan melawan orang tua nanti anaknya susah lahirnya. Cerita-cerita orang dulu, kalau seorang wanita suka melawan orang tua, dia akan susah melahirkan, anaknya baru akan lahir kalau kepalanya diinjak oleh ibunya.

Mudah-mudahan ini tidak terjadi padaku dan anakku. Semoga anakku lahir dengan selamat dan normal tidak kurang satu apapun. Aku bertaruh segalanya untuk bayiku, bahkan jika dalam kehidupan ini kita diberi jatah sejumlah keberuntungan oleh tuhan, aku bersedia mempertaruhkan semua keberuntunganku untuk kebaikan bayi yang kukandung ini. Malam ini, buru-buru aku minta maaf kepada Tuhan, aku tahu mungkin ini salah sasaran, seharusnya aku minta maaf pada ibuku. Besok aku akan minta maaf. Biarlah malam ini, aku minta maaf kepada pemilik alam semesta ini, termasuk pemilik ibuku sendiri, mudah-mudahan dosaku hari ini termaafkan dan tidak akan terjadi apa-apa dengan anakku.

Tuhan, maafkan aku Tuhan.

Tuesday, October 09, 2007

RADIO SUARA SURABAYA

Jam dua siang, ketika bis melewati jalanan Surabaya yang panas, kami dan para peserta pelatihan pendidikan lingkungan mulai diserang kantuk yang menyengat karena AC di dalam bis. Setelah melewati jalan yang berlika liku, akhirnya kami sampai di jalan Wonokitri, kawasan dimana Radio Suara Surabaya 100 FM ini memancarkan frekuensi siarannya. Sayangnya, bis tidak bisa laju masuk ke kantor Radio SS (bukan Shabu Shabu loh!), karena gang yang sempit dan dihalangi portal sebagaimana banyak juga terdapat di gang kecil di Surabaya. Sehingga kami melenggangkan kaki terusir dari kenyamanan dalam buaian sejuknya AC di bis.

Pertama kali menjejakkan kaki disini, kesan pertama biasa saja, I mean, gedungnya tidak terlalu bagus, malah cenderung bergaya lama. Tidak antik juga. Namun setelah menapaki lebih jauh areal kantor ini, baru suasana kegaguman mulai menyeruak. Di gedung manajemennya ini bergaya minimalis, disinilah kami disambut oleh Bapak Errol Jonathan, Direktur operasional Radio SS. Bapak yang masih tetap fit, santun dan bersahaja di usianya yang menjelang 60-an (aku perkirakan), menyambut kami dengan hangat dan menggunakan waktu yang sempit untuk briefing kami singkat mengenai radio SS.

Radio SS adalah radio swasta yang konsepnya menerapkan kontens radio komunitas. Radio ini dijadikan sebagai ajang untuk membahas segala permasalahan kota Surabaya dan sekitarnya secara langsung dengan metode interaktif. Para pendengarnya, yang biasa dipanggil “kawan” ini menelpon radio SS untuk memberi update informasi lalu lintas, kriminalitas, seperti pencopetan dll, atau memberi tanggapan, saran dan kritik mengenai suatu topic yang diangkap oleh radio SS, yang menjadi pusat pergunjingannya arek suroboyo.

Konsep radio seperti ini tidak cukup hanya dengan meniru, tetapi masing-masing radio juga harus jeli melihat, apakah konsep seperti ini cocok diterapkan untuk masyarakat disekitarnya. Konsep interaktif, ini cocok diterapkan disurabaya karena masyarakat Surabaya mempunyai karakteristik yang suka nimbrung alias ikut campur, disamping itu arek Surabaya cenderung lebih lugas untuk menyampaikan pendapatnya. Dia menyarankan sebaiknya radio local lainnya, cermat untuk memperhatikan masing-masing kekuatan dan kelemahan apakah konsep ini cocok untuk diterapkan di Solo misalnya, sulawesi.

Motivasi untuk membuat konsep radio seperti ini, pertama kali di cetuskan oleh pemilik radio. Ketika beliau mengambil kuliah di Amerika Serikat. Gayung bersambut ketika ada sebuah pemilik radio juga memiliki visi yang sama dengannya.

Jangan tertipu ketika melihat sebuah radio sebagai hiburan belaka, karena radio sebagaimana media eletronik dan cetak lainnya, juga bisa berperan sebagai media propaganda untuk pengiringan opini. Namun disisi lain, radio juga bisa berperan sebagai media pendidikan. Nah, Radio SS, mengambil peran pada radio sebagai media pendidikan untuk memberdayakan audiensnya untuk mempunyai dalam proses demokratisasi.

Radio ini sering mendapat penghargaan dari kepolisian karena jasanya siarannya berhasil mengungkap kasus kriminalitas. Seperti sebuah contoh yang dibawakan oleh Mas Errol, pada suatu ketika ada seorang pendengar perempuan yang pecah ban di jalan raya, dia sadar bahwa pecah ban ini bisa jadi bukan sebuah kecelakaan, tetapi perbuatan sengaja yang dilakukan seseorang untuk merampok barang-barangnya. Apalagi kemudian dia melihat ada dua orang bocengan naik sepeda motor, sedari tadi mengikutinya dengan perlahan. Sontak saja, dia kemudian menghubungi radio SS dan minta pertolongan. Tidak lama kemudian, ada 4 pendengar lainnya yang memberi respon karena mereka dekat dengan kejadian.

Belum lagi banyak kasus, pemirsa yang melaporkan melihat seorang pengendara sepeda motor ngebut di suatu jalan tanpa memakai helm. Pemirsa curiga, jangan-jangan itu adalah salah satu gerombolan pencuri sepeda motor yang sangat marak di Surabaya.

Selain radio SS, management radio SS juga membuat radi Giga, radio yang menembak segment ibu-ibu rumah tangga. Niat mulianya, adalah untuk memberi ruang berekspresi bagi ibu-ibu rumah tangga yang sering kali kehilangan jati diri ketika berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Ketika seseorang menanyakan apa profesinya, dengan rendah diri, mereka akan mengatakan, saya “hanya” seorang ibu rumah tangga. Nah tagline ini mencoba untuk diubah oleh radio SS, dengan mengatakan saya ini seorang ibu rumah tangga, so what gitu loh!. Namun begitu, mereka juga jeli menilik dari sisi bisnis bahwa ibu rumah tangga adalah pasar yang sangat besar untuk menarik iklan.

Selain itu, radio Surabaya juga membuat versi online di www.suarasurabaya.net. Jadi pendengar yang berada di luar Surabaya juga bisa mengakses siaran radio suara Surabaya dengan mengclik di website ini.

Bagi orang yang tertarik untuk mengetahui isu-isu terbaru Kota Surabaya, kalau ada waktu, aku rekomendasikan untuk mengakses websitenya aja deh.

PAK DE AWOK

Setahun setelah aku menikah dengan Veda, aku tidak terlalu banyak tahu saudara-saudaranya dari pihak ibu. Kalau dari pihak bapaknya, aku banyak tahu, karena sebagian besar masih tinggal di Bali, meskipun beberapa bagian lainnya sudah menyebar juga di beberapa tempat di luar Bali. Kepulangan kami ke Surabaya kemarin juga menjadi ajang silaturahmi keluarga besar ibunya Veda di Surabaya. Kebetulan kakak ibunya Veda sedang berada di Surabaya mengunjungi anaknya yang kerja di Surabaya, hari-hari biasanya Bu De – begitu aku memanggilnya – tinggal di Jakarta bersama putranya yang masih lajang.

Pak De Awok adalah salah satu saudara tiri ibunya Veda. Diusianya yang hampir 70 tahun, beliau terlihat rapuh dikalahkan dengan penyakit diabetes. Akibat penyakit ini, kedua matanya sudah tidak berfungsi dengan baik, tetapi beliau masih bisa melihat. Gurat ketampanan di masa mudanya masih terlihat jelas, suaranya sangat lantang dan lugas dengan logat Jawa yang medok.

Dirumahnya, Pak De tinggal bersama istrinya dan satu anak laki-lakinya, dua anaknya yang lain sudah menikah dan tinggal dirumah mereka sendiri-sendiri. Sesekali mereka datang untuk menitipkan cucu. Kesibukan mengurus cucu menjadi keceriaan dan kebanggaan mereka. Hampir seluruh pembicaraan di dominasi oleh perkembangan si cucu, Yusuf.

Aku sama sekali tidak tahu informasi tentang Pak De, selain dia adalah saudara tiri ibu mertuaku. Selama perjalanan pulang, barulah Ibu dan Bu De, bercerita kalau Pak De yang suka menyendiri dan menyembunyikan diri dari silaturahmi keluarga ternyata seorang ahli perkapalan jebolan sebuah Rusia.

Kata ibu, semasa mudanya Pak De (kalau tidak salah) adalah seorang marinir. Pada waktu pemerintahan Presiden Soekarno, beliau mendapat beasiswa belajar tentang perkapalan di Rusia. Agak lama kata ibu, beliau menjalani masa studi. Itu karena ada salah seorang dosennya jatuh hati padanya, sengaja untuk beberapa mata kuliah dia tidak lulus sehingga waktu studinya lebih lama.

Selama belajar di Rusia, Pak De Awok kemudian menikah dengan seorang perempuan Rusia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Tidak jelas, apakah akhirnya dia menikah dengan dosen yang naksir berat dengannya atau dengan perempuan lain.

Setelah menyelesaikan studinya di Rusia, Pak De Awok berencana untuk pulang ke Indonesia dengan membawa anak istrinya. Namun perubahan konstelasi perpolitikan zaman itu, mengubur mimpi mereka. Setelah Soekarno di kudeta Soeharto dan PKI di bumi hanguskan, ternyata kondisi itu berdampak pada akademisi yang mendapat mandat tugas belajar di luar negeri. Apalagi belajar di Rusia, pusatnya perkembangan Komunis. Ketika pemerintahan tidak demokratis Soeharto mulai mengendalikan Jakarta, diberlakukanlah screening (pengawasan ketat) bagi akademisi yang belajar diluar untuk pulang ke Indonesia. Mereka bahkan di karantina beberapa waktu untuk memastikan bahwa mereka tidak terkontaminasi bakteri Komunis. Namun untuk menjadi bersih dari bakteri komunis, tidak hanya dengan karantina dan pendoktrinan tetapi juga ada surat jaminan dari keluarga sebagai penanggung jawab.

Teman-temannya Pak De kala itu memutar keras kepala mereka untuk memulangkan anak istri (terutama yang menikah dengan perempuan Rusia). Sebagian besar katanya dikirim dengan kapal kargo yang diberi sedikit lubang, celah untuk bernafas. Upaya ini dilakukan untuk mengelabui pihak imigrasi. Ada larangan yang tidak tertulis untuk tidak membawa anak istri berdarah Rusia kembali ke Indonesia.

Pak De kasihan jika anak istrinya harus tinggal di kotak kayu dengan sedikit celah bernafas, apalagi jarak antara Rusia – Indonesia tentu teramat sangat jauh. Pak De akhirnya pergi ke KBRI di Moskow untuk memohon keringanan. Saat itu Pak De datang bersama anak istrinya. Ketika masuk untuk mengurus birokrasinya, anak istrinya menunggu di ruang tunggu. Namun setelah keluar, Pak De tidak menemukan lagi anak istrinya. Itu pertemuan terakhir mereka.

Tidak jelas, siapa yang membawa anak istrinya, apakah mereka diculik? Siapa yang menculik?. Apakah KGB, mata-mata Rusia, atau justru mata-mata dari pemerintah Indonesia sendiri. Pak De kebingungan mencari mereka, sisa-sisa tabungannya digunakan sepenuhnya untuk mencari tetapi tetap tidak bertemu. Akhirnya, Pak De pulang kembali ke Indonesia.

Setelah melewati masa karantina dan mendapat jaminan dari keluarganya yang kebetulan petinggi ABRI kala itu, akhirnya Pak De bisa bekerja di PT PAL, Perusahaan Perkapalan milik pemerintah. Gajinya waktu itu dia kumpulkan untuk kembali ke Rusia mencari anak-anaknya. Setelah berbulan-bulan mencari dan tabungan habis akhirnya dia pulang lagi ke Indonesia dengan tangan hampa. Beberapa kali dia datang bolak balik ke Rusia, tetapi tetap bertemu. Sehingga akhirnya, dia pasrah dan berusaha melanjutkan hidupnya lagi dengan menikahi Bu de istrinya yang sekarang ini.

Dibalik tutur katanya yang pelan dan pemilihan kata yang tegas, aku merasa bahwa dia membawa beban yang berat dalam hidupnya. Bagaimana nasib anak istrinya di rusia, adakah istrinya sudah menikah lagi. Bagaimana anaknya, apakah anaknya sudah menikah dan memberi dia cucu… tetapi yang lebih mengkhawatirkan mungkin di dalam pikirannya adalah pertanyaan apakah mereka masih hidup.

Kemudian aku mengerti mengapa Pak De Awok cenderung menyendiri dan menarik diri dari pergaulan. Hidup mengajarkan dia untuk tidak percaya dengan orang, dengan system. Seorang korban dari pertarungan politik yang haus kekuasaan, darah dan uang. Tidak terhitung lagi betapa dosa Soeharto. Sebagai jebolan fakultas ilmu Politik, secara humanis sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa ideology begitu kuat menyetir kehidupan seseorang dimana sebenarnya tidak jadi persoalan ketika ideology hanya untuk individu mereka sendiri. Tetapi ketika hegemoni individu dipaksakan untuk kehidupan orang lain. Ada banyak sekali korban, Pak De Awok, Dadongku, dan keluarga korban PKI lainnya.

Monday, October 08, 2007

POTONG RAMBUT

Hamil juga mengubah cara pandang. Sekaliber orang penganut kritis dan positifistik murnipun, sepertinya bisa berubah menjadi konservatif juga ketika hamil. Apalagi kehamilan yang pertama. Berbagai nasehat dan larangan aneh bin ajaibpun, terasa biasa dan dijalani juga. Takut kualat.

Seperti aku ini. Menurut orang bali, suami dilarang memotong rambut ketika istrinya sedang hamil. Tabu!. Meski sekarang semakin banyak suami yang berpikiran logis bahwa tidak ada hubungannya menjadi gondrong dengan keselamatan kehamilan istri, sehingga mereka berani memotong rambut. Seperti Tude, suami adikku Diah, di kehamilannya yang kedua, Tude malah potong rambut ala Indian style David Beckham. Katanya, alah nyantai aja!

Aku termasuk kelompok konservatif, kalau berhubungan dengan alam yang tidak kelihatan. Jadi, aku melarang Veda potong rambut. Walaupun terdengar tidak logis, aku hanya tidak ingin ada hawa buruk menghambat tumbuh kembang janin anak pertamaku. Sebisa mungkin aku ingin meminimalisir kemungkinan buruk baik di alam Skala (terlihat) dan Niskala (tidak terlihat).

Padahal kalau aku pikir-pikir memang tidak ada hubungannya potong rambut dengan kehamilan istri secara fisik ya.. tetapi mungkin secara psikologis. Ketika hamil, si istri akan terlihat semakin jelek secara fisik, tubuhnya melar, payudara membesar, belum lagi kondisi emosi yang cenderung tidak stabil. Ini tidak berlaku untuk semua wanita hamil ya..karena ada beberapa yang merasa semakin percaya diri dan cantik ketika mereka hamil. Nah, dengan kondisi si istri yang lagi tidak stabil, si suami berempati juga menjadi jelek dengan tidak potong rambut. Kalau sudah jelek, tidak ada wanita lain yang akan melirik suaminya, jadi si istri tidak perlu khawatir kalau-kalau suaminya dilirik wanita lain. Hahaha….

Sebenarnya Veda sempat protes dengan permintaanku, karena sekitar dua – tiga bulan yang lalu dia sibuk untuk upaya melobi pemerintah pusat untuk mengesahkan peta Zonasi Taman Nasional Kelautan Wakatobi. Berhubung sering bertemu dengan pejabat pemerintah, dia merasa tidak nyaman tampil berantakan.

Dia bertanya pada banyak orang disekitarku, dari ibuku, paman-pamanku dan teman-teman Balinya yang lain. Sialnya, ibuku malah memprovokasi dan berkata “gak ada itu hubungannya, dulu waktu saya hamil Dewi, bapaknya biasa tuh potong rambut”. Veda merasa mendapat angin segar. Apalagi dulu bapaknya Veda juga potong rambut disaat ibunya sedang hamil, ya maklum saja, bapaknya Marinir.

Aku sendiri membiarkannya mencari jawaban. Aku tidak ingin memaksanya juga. Dari awal hubungan, kami sangat menghindari untuk mengintervensi keputusan masing-masing pihak untuk membuat sebuah kompromi. Akhirnya satu saat, Veda ada pada keputusannya, dia bertanya: Kalau aku potong rambut, kamu merasa nyaman gak?, aku jawab : Gak!. Dia memutuskan, ya sudah aku tidak potong rambut!.

Bagiku, ini bukan perkara menang dan kalah atau ajang menguji cinta!. Bagiku, apapun akan kulakukan agar tumbuh kembang anakku tidak terganggu, aku berusaha. Sangat berusaha. Untungnya, Veda memahami.

Tetapi menurutku, lucu juga Veda berambut gondrong, dia sudah seperti preman Wanci – sebuah pulau kecil di sebelah tenggara Kota Kendari, 10 jam lagi naik kapal. Sebelumnya, dia tidak pernah gondrong, setidaknya dari sejak awal kami pacaran. Dia selalu rapi dengan potongan rambut pendek belah samping kanan. Sekarang, wajahnya tampak lebih dewasa, untuk lebih sopannya daripada mengatakan lebih tua. Tidak apa-apa juga, setidaknya dari sekarang, dia tinggal menunggu beberapa minggu lagi untuk potong rambut.

NALURI BERSARANG

Akhir-akhir ini aku punya kesibukan baru, bersih-bersih rumah!. Mulai menata kamar, lemari pakaian, ngepel dan lainnya. Aku ingin ketika nanti anakku lahir, sudah tersedia “sarang” yang nyaman untuknya tidur, walapun sederhana, tidak mewah. Aku mulai memesan rak pakaian bayi sekaligus bisa dijadikan tempat tidur tinggal ditambahkan bantalan kasur untuk Veda. Beberapa orang mengatakan bayi akan tumbuh lebih cepat jika dia tidur dengan ibunya. Mungkin mereka juga menyerap hawa panas ibunya. Veda keberatan aku membuat rak itu, karena ukurannya hanya 160 x 70cm, sehingga kakinya jadi masih nongol. Ukurannya memang harus segitu, kalau lebih tidak muat untuk kamarku di rumah Sukawati yang hanya berukuran 3 x 2,5 meter.

Veda sebenarnya lebih memilih untuk “bersarang” di rumah Kesambi. Aku keberatan, karena rumah kami di Kesambipun kamarnya hanya satu. Lagipula, aku berpikir mungkin aku perlu banyak bantuan juga dari ibu dan adikku bagaimana cara merawat bayi. Jadi akan lebih memudahkanku untuk bersarang di Sukawati saja. Selain itu juga, kalau nanti Veda berangkat lagi ke Sulawesi (di tempatnya bekerja tidak ada Faternity Leave alias cuti bagi bapak), aku sendirian di Kesambi.

Aku agak tergelitik dengan kebiasaan baruku ini. Aku biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan masalah kebersihan. Bahkan aku masih merasa nyaman tidak mandi dua hari atau dengan debu setebal setengah senti meter. Aku lupa kapan terakhir aku ngepel. Tetapi sekarang lagi rapi banget loh baju-baju tertata rapi, nyapu dan ngepel tiap hari, bahkan belakangan ngepel jongkok – tidak pakai alat – kata bidan ditempat senam hamil, kegiatan ini mempercepat posisi kepala bayi mendekati rongga panggul.

Ternyata perubahan ini adalah bagian dari hormon yang bermain didalam kehamilan. Kata Buku Kehamilan : Apa yang anda Hadapi Bulan per Bulan, asli buku ini tebal sekali, 725 halaman – penulisnya mengatakan sebulan sebelum melahirkan seorang ibu akan sibuk mempersiapkan tempat yang nyaman buat bayinya. Ini dinamakan nesting instinct bahasa kerennya, bahasa biasanya : Naluri Bersarang. Tidak hanya manusia saja, yang mengalami ini. Kucing juga, ketika menjelang melahirkan anak-anaknya, induk kucing sibuk mencari tempat dan mengumpulkan sobekan-sobekan kertas, kain atau apapun untuk membuat “sarang” yang nyaman buat anaknya. Aku percaya, burung, ikan, babi, sapi dan lainnya. Aku pernah melihat langsung bagaimana resahnya penyu ketika mau bertelur di sebuah pantai berpasir putih di Malaysia. Dengan badannya yang berat dia berjalan ngesot ke pantai sebelum menghabiskan beberapa jam hanya untuk menggali lubang telur dan akhirnya dengan sabar mengeluarkan telurnya satu per satu. Namun jauh sebelum naik ke pantai, dia sudah memantau pantai, apakah aman dari manusia dan predator lainnya.

Sekarang, aku sama dengan penyu, kucing, burung, ikan dan lainnya itu, dilanda Naluri Bersarang!

WHAT IS IN A NAME


Satu lagi kesibukan lain menjelang persiapan melahirkan adalah mencari nama bayi!. Ini penting tetapi tidak genting. Tetapi juga tidak ada salahnya kalau dipersiapkan jauh-jauh hari sehingga nanti pada hari H-nya tidak bingung.

Seperti adikku, Diah, sampai sekarang dia masih bingung siapa nama yang baik buat anaknya yang kedua. Padahal anaknya sekarang sudah berusia enam bulan dan suaminya sudah memberi nama anaknya : Lanang Sindhunatha yang artinya Raja Laki-laki kerajaan Sindhu – sebuah sungai suci yang dipercaya sebagai asal muasal peradaban Hindu di India. Tapi Diah sendiri belum memantapkan hati dengan nama itu. Nama anak pertama Diah bagus juga : Damar Paramadyaksa. Katanya artinya, cahaya penerang yang diharapkan bisa bersikap adil.

Aku bingung komponen apa yang harus dipertimbangkan ketika memilih nama untuk seorang anak. Apakah biar keren harus pakai kata-kata yang diambil dari bahasa Sansekerta – biasanya orang Bali begitu, atau pilih nama-nama dengan bau modern seperti telenovela Meksiko, Latin atau yang lain. Apa lebih bagus memakai nama Dewa-Dewa, atau tokoh pewayangan. Namaku Parama Utami Dewi, suamiku namanya I Wayan Veda Santiaji, apakah bagusnya diambil dari persetubuhan nama kami berdua?. Apakah seharusnya memilih nama berdasarkan harapan kami akan kehidupannya kelak, biar dia jadi pemimpin, orang kaya, terkenal, dan lainnya?

Aku jadi membayangkan ketika memilih nama untukku, apa yang terlintas dibenak bapakku, apakah dia juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang kuhadapi sekarang. Seperti biasa, aku mendiskusikannya dengan Veda, dan dia bilang sebaiknya kami mulai mendata dan mendaftar nama yang sekiranya bagus. Dia akan berusaha juga mengumpulkannya selama dia di Sulawesi dan aku juga mengumpulkannya di Bali. Siapa tahu kami mendapat inspirasi yang bagus.

Aku mulai berpikir, siapa nama yang bagus. Setahuku - aku tidak merujuk pada satu referensi karena belum pernah membaca tentang hal ini – ada beberapa gelombang perubahan nama di kalangan orang Bali sendiri. Dalam generasi diatas bapakku almarhum, nama-nama orang Bali yang biasanya dipakai adalah yang berkaitan dengan gejala-gejala alam, bunyi-bunyian, kayu, tumbuhan dan lain sebagainya, misalnya namanya I Wayan Gerebeg. Gerebeg itu artinya seperti gempa, guncangan dan lain-lain. Mungkin pada waktu dia lahir ada gempa, jadi untuk mengingatkan orang tuanya tentang hiruk pikuk dihari itu dinamakanlah dia Gerebeg.

Ada juga tiga orang bersaudara di banjarku namanya mirip satu sama lain, kaki (kakek) yang adalah anak laki-laki tertua namanya Sergog, terus adiknya, Sergig, dan adiknya satu lagi namanya Sergug. Jadi tiga orang itu namanya : Sergog, Sergig, Sergug. Bedanya hanya di satu huruf vocal. Aku sendiri tidak tahu artinya Sergog. Sementara nama-nama yang perempuan seperti Klabet, Nyanten, Moning, Monong, Rempyeg dan lainnya.

Setelah itu gelombang satu generasi bapakku. Nama-namanya mulai berubah, biasanya diawali dengan suku kata “SU’ yang artinya baik, diambil dari bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno. Nama-nama yang ngetren seperti Suteja (nama bapakku) – “Su” artinya Baik, “Teja” artinya Sinar, Suteja mungkin artinya Sinar yang baik – semoga dia dapat menyinari keluarganya dengan baik. selain itu ada nama-nama seperti, Subrata, Sukadana, Sukerena, Sudana, Suparta, Subawa, Sukarta, Sukarma, Suprapta, Sukadana, dan lain-lainnya. Sementara yang perempuan juga sama, seperti : Sukarti, Sukasih, Sukreni, Sudarmi, Sukarmi, Sudiasih dan lainnya.

Selanjutnya berubah kearah trend mencari nama yang berbau jawa kuno atau Sanskrit dengan perpaduan dua kata atau lebih. Dan ada beberapa gelombang orang yang frustasi dengan system strata social dengan kasta, sehingga menghilangkan identitas kedaerahan Bali didepan namanya, seperti menghilangkan Wayan, Made, Nyoman, Ketut. Apalagi kemudian ditambah lagi dengan program Keluarga Berencana yang mengkampanyekan slogan “dua anak cukup”! - Tidak tahu, kenapa setiap mendengar kata dua anak cukup, aku selalu ingat dengan kelinci!. Aneh- maka semakin berkurang orang Bali yang memakai nama Nyoman dan Ketut. Golongan penentang kasta dan beraliran nasionalis seperti misalnya bapaknya yang tidak memakaikan Wayan atau Putu di depan namaku dan adikku, nama adikku Diah Ary Perwirani. Ada juga beberapa saudaraku tidak memakai nama bali, jadi nama mereka : Krishna Adithama Ekasuta, Dwi Indra Radha Krisnhanti, Krishna Yudha Tripamungkas, Pavita Komala Kusuma Dewi.

Generasi dibawahku, anak-anak kecil sekarang, namanya sudah mengikuti nama-nama sinetron, film atau artis. Namanya seperti, Amanda, Kevin, Satrio, dan lain-lain. Ada seorang anak perempuan yang diadopsi oleh pasangan yang tidak punya anak di Banjarku, menamakan anaknya Esterlita, nama seorang tokoh telenovela Meksiko yang pernah ngetrend di televisi. Lucunya juga, ada seekor anjing di banjarku namanya Rudolfo.

Kembali lagi ke nama untuk anakku. Belakangan aku mulai rajin menjamah kamus bahasa Kawi atau Jawa Kuno, sebenarnya bukan tanpa alasan. Dirumahku ada beberapa kamus bahasa : Inggris (tentunya), Perancis, Jepang, Swedia dan Jawa Kuno. Tentu saja, empat terdepan itu tidak cocok dengan kultur Indonesia apalagi Bali. Dari kamus Jawa Kuno aku menemukan beberapa kata yang lucu untuk anak laki-laki – hasil USG mengatakan bayiku laki-laki. Aku berharap dokternya tidak salah lihat. Aku ingin punya anak laki-laki, karena aku tidak pernah punya saudara laki-laki. Nama-nama itu seperti : Manggala Kanta, Narendra Kila, Raka Abhimata, Rakryan Manggala Abhimata, Ekanata Diwangkara, Nayaka Kila Santikarma. Aku tidak tahu neh yang mana yang keren. Veda bilang tunggu dari dia dulu. Sampai sekarang dia belum ada inspirasi, katanya, gimana mau dapat inspirasi, nama-nama di sini umumnya, La Ode, Wa Ode, La Biru, dan lainnya.

Tetapi apapun itu namanya, aku berharap semoga anakku lahir dengan sehat, normal dan tidak kurang satu apapun. Aku juga tidak mau memberatkannya dengan nama yang mencerminkan segala ambisi dan keegoisanku.

HAMIL, NGIDAM DAN BERAT BADAN



Waktu memang berjalan cepat apabila kita mengabaikannya. Seperti usia kandunganku yang sekarang sudah menginjak bulan kedelapan. Selama delapan bulan ini, delapan puluh persen perhatianku tersedot untuk menikmati suka duka menjadi calon ibu. Betapa tidak, aku si raja makan, mati rasa soal makanan di usia empat bulan kandunganku setelah tiga bulan sebelumnya aku memuntahkan hampir sebagian besar makanan yang masuk ke perut. Belum terhitung rasa pusing, gerah, sampai mau hampir pingsan. Aku ingat, sampai usia ke 27 tahun ini belum sekalipun aku pingsan. Aku pernah hampir pingsan sekali karena shock ketika pulang kerumah dan mendapati bapakku sudah disemayamkan di Bale Dangin, bale untuk kematian bagi orang bali. Bapakku meninggal karena kanker usus tepat di hari Jum’at Agung Natal tahun 1992.

Berbicara masalah makanan lagi, ini adalah bahan diskusi yang menyenangkan buatku. Sebelum hamil, aku pikir wanita yang ngidam akan meminta makanan yang macam-macam dari suaminya, beberapa cerita sempat terekam dalam otakku seperti cerita Srinadi temen SMP-ku, suatu ketika di kehamilan pertamanya (sekarang anaknya sudah dua) dia ingin sekali makan bubur nasi, dan waktu itu sudah jam 10 malam. Suaminya, yang guide spanyol, bela-belain berangkat ke teuku umar yang jaraknya hampir 40 kilometer dari rumahnya di Mas, Ubud. Lain lagi dengan temenku (aku lupa namanya) dia ingin makan mangga hasil curian. Dari pengalaman ini, aku jadi penasaran. Tetapi begitunya ngidam, aku sendiri tidak merasa sangat fanatic dengan satu makanan tertentu. Kecenderungan minat dan pola makan masih sama seperti waktu sebelum hamil.

Aku malah berpikir keras kalau sudah menjelang jam makan siang. Aku tidak terlalu banyak menemukan makanan enak dan murah di Kuta, atau aku mungkin yang kurang bergaul dengan warung-warung di sekitar tempat kerjaku ini. Kadang-kadang makan sate babi di depan lapangan, nasi soto diwarung solo, nasi ayam bu sudi di depan central parkir, nasi padang di depan kuta galleria, kalau tidak warung jawa sebelahnya obral baju Quicksilver. Sesekali kalau Fabio, mantan bosku berbaik hati, aku ditraktir makan diwarung murah di jalan double six.

Oh iya, aku lupa, saat kehamilanku empat bulan, disaat aku tidak ingin makan, aku malah ngidam pizza tipis. Pak Yoga, mantan bosku yang lain berbaik hati menraktirku pizza tipis di Jazz Bar and Grilled, Sanur. Pizzanya uenak banget, bahasanya pak Bondan, Makk Nyusss!!. Meski akhirnya kenikmatan pizza harus diselingi dengan duka, karena malamnya mobil mogok, tidak bisa distarter. Jadi aku tinggalkan di depan Jazz Bar, dan aku pulang dibonceng Adit saudaraku, yang main band disana.

Belakangan ini, selera makan dan ngemilku agak aneh. Aku jadi suka sekali dengan rasa odol pepsodent (padahal sebelum hamil aku biasanya pakai close up), jadi sehari aku bisa sikatan 3-4 kali!. dan satu lagi, aku suka permen mentos!. Aku suka rasa kesat dan mint-nya, sepertinya memberi kesegaran keseluruh rongga mulut.

Sebelumnya aku sempat khawatir, karena sampai usia kandunganku memasuki bulan ketujuh, berat badanku tidak nambah banyak, naiknya hanya 7 kilo dari awal kehamilan. Aku bingung, padahal perasaan aku sudah banyak makan. Perutku belum terlihat buncit, sehingga orang tidak percaya kalau usia kandungannya sudah tujuh bulan. Ibuku dan ibu mertuaku coba menenangkanku. Mungkin karena kamu tinggi wik, atau perutmu memang tipis, kata mereka. Tapi komentar dari teman-teman dekatku, sampai bapak-bapak yang sering kutemui disaat jalan-jalan di jogging track di dekat rumahku di kesambi akhirnya menciutkan nyaliku juga. Belum lagi ditambah dengan komentar bidan ditempat senam hamil. Dia bilang janinku kecil, jadi aku harus memperbanyak makan atau ngemil dan menambah asupan susu, dua sampai tiga kali sehari.

Tetapi syukurlah di usia kandunganku yang delapan bulan ini, nafsu makanku mulai membaik bahkan berat badanku naik drastis empat kilo dalam sebulan saja. Sampai sekarang berat badanku mencapai 76 kilo dari awal 65 kg sebelum hamil. Badanku tambah besar dan melar. Suamiku bahkan sekarang memanggil aku si endut, tapi katanya tambah sayang denganku karena aku gendut!!. katanya “seneng deh ngelihat kamu gendut. nah sekarang kan gendut, tar kalau sudah melahirkan kurus lagi, abis itu gendut lagi”. Menggoda dengan tampang seperti mengiming-imingi anak SD dengan sebuah permen. Aku tahu dia ingin aku hamil lagi setelah ini. Dasar suamiku!.