Thursday, July 20, 2006

piodalan di sukawati




ini serangkaian odalan di Khayangan Tiga Desa Sukawati. Odalan yang sebelumnya itu di Pura Dalem sementara yang kemarin ini yaitu odalan di Pura Desa.
aku lagi gak punya cerita, jadi ku masukin foto2 aja ya.

Monday, July 10, 2006

Pedanda dan Kekerasan Jender

Pedanda istri (pendeta perempuan) ini, badannya kurus sekali. Kami, sisya (pengikut, meskipun istilahnya kurang pas)nya memanggil dia Ida Pendanda Istri griya banjar bedil. kalau Brahmana sudah menjadi pedanda, nama asli mereka suka dilupakan. Orang-orang lebih sering memanggil Ratu Peranda untuk menghormati.

aku jarang berhubungan dengan Pedanda, mungkin kendala bahasa. berkomunikasi dengan Pedanda, harus menggunakan bahasa bali halus. meskipun aku kenal dengan beberapa pedanda demokrat yang mengesampingkan pakem-pakem itu. bahasa tidak jadi masalah, yang penting inti dari komunikasi. begitu rata-rata komentar mereka. dan anehnya sebagian besar pendanda demokrat ini pedanda lanang (pendeta laki laki).

Kemaren ada Upacara Nanjeb Tetaringan. upacara ini, awal dari serangkaian upacara Pedudusan Alit di rumah bibiku. Upacara ini menandakan bahwa mulai hari itu, tidak ada satu kendala apapun bisa membatalkan kelancaran upacara.. meskipun, ada saudara dekat yang meninggal, yang empunya acara tidak kena kesebelan.

upacara ini dipuput oleh seorang Pendanda. kebetulan di rumah bibiku, pedandanya adalah pendanda istri ini. bersama pamanku, kami mendakin ida ratu peranda istri. hari itu, rasanya gak nyaman banget. tamu bulananku datang mengunjungi. duduk gak nyaman, berdiri pegel, perut mulas-mulas. tapi berhubung cuma aku yang bisa nyetir, maka berangkatlah kami berdua.

acara penjemputan berjalan lancar. meskipun aku tidak masuk ke griya. dilarang oleh pamanku, karena menstruasi. gak boleh katanya. terasa tidak masuk akal, kalau dayu-dayu itu mens juga gak boleh masuk ke rumahnya?. nah pendanda istri itu, juga apa gak pernah mens?..

sesampainya dirumah, dimulailah rangkaian upacara. berbagai ragam sesajen dibentangkan, lagu-lagui pujian diiramakan. lamanya... sampai pantat terasa panas, mata ngantuk meski sudah diseduhkan kopi dua gelas.

matahari sudah mulai beranjak turun, ketika pedanda istri mau beranjak pulang juga. aku segera memutar balik mobilku. eh begitu turun, kaki lugra tergopoh-gopoh melarang aku yang mengantar. Pedanda gak berkenan katanya aku yang mengantar. lagi-lagi karena aku mens. ya udah... gondoklah diriku.

ya udah.. lagian juga aku gak repot toh. tapi yang repot tentu saja pak badra, dia harus menggedor-gedor tetangga, untuk jadi supir. Pak Rana, ketiban menjadi korban. dia terpaksa datang karena harus merawat istrinya yang baru kemaren malam jadi korban tabrak lari di Celuk.

Kunci mobil kuserahkan pada Pak Rana, merasa tidak diperlukan aku duduk di bale dauh.. belum sempat 5 menit aku mendudukan pantatku... kaki lugra kembali tergopoh-gopoh mendatangiku. Pendanda tidak mau keluar dari sanggah kalau aku masih duduk disitu. beliau tidak mau lewat didepanku. Karena aku mens???.... Kaki Lugra bilang aku sementara harus bersembunyi dulu di dapur. Betara Brahma saja merangkulku ketika aku didapur, bagaimana mungkin dia seorang manusia bisa melenyapkanku. sekarang darahku benar-benar mendidih. Gila!!! rasa kemanusiaanku terinjak. memangnya, aku manusia berpenyakit lepra, apabila lewat akan ketularan.

Kenapa memangnya kalau kita sedang menstruasi. bukankah itu normal. perihnya lagi, ketidakadilan gender ini, diderakan padaku oleh kaumku sendiri. dan oleh seorang pemimpin agama yang disegani..

Para pendanda ini boleh jadi tahu tentang seluk beluk sesajen, tetapi dia melupakan mempelajari bagaimana jadi manusia.

Tuesday, July 04, 2006

Back To Nature




Sukawati 4 July,

aku seperti kacang yang baru merasakan kembali kerinduan pada kulitnya, meskipun aku tidak pernah lupa. pulang ke rumah setelah lama bergelut dengan deburan ombak diperbatasan sulawesi dan maluku, sembari berjuang mendapatkan pekerjaan, aku seperti hidup kembali. hari-hariku lebih banyak dihabiskan untuk ngayah (bergotong royong untuk mempersiapkan upacara keagamaan). menikmati waktu yang kubuang dibale banjar mejejaitan, metanding dan tidak lupa bergosip dengan ibu-ibu. ada juga nenek-nenek. tapi jumlahnya kecil. jarang sekali nenek-nenek ngayah di banjar, kecuali kalau anak perempuan atau menantu mereka menjadi wanita karier dan sibuk bekerja. dadong riman, mungkin umurnya sekitar 70 tahun sebaya dengan dadongku, dia menerawang menceritakan kisah cintanya yang gagal dengan seorang guru. geli juga mendengar, nenek-nenek bernostalgia tentang kisah cintanya.. yah dong riman, mungkin tidak mau kalah dengan ABG sekarang.

mungkin sekitar 4 tahun lamanya, aku menghindarkan diri (tepatnya) dari kewajiban ngayah. dulu selalu saja, ibuku dan dadong (nenek)ku yang kuandalkan mengambil tugas ini. kuliah di jogja dan sibuk bekerja, kerap menjadi alasanku untuk tidak ngayah. padahal, sehabis jam kerja aku pasti maen.

keenggananku pada acara ngayah dan ngadat (gotong royong untuk acara kemasyarakatan) salah satunya berpangkal dari kekecewaanku pada adat patriarki didaerahku. bahwa disebuah keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki harus meminang laki-laki untuk menjadi kepala keluarga di rumah mempelai perempuan. kondisi ini, sangat dihindari oleh setiap lelaki bali pada umumnya. kondisi ini, sama seperti penyakit lepra. hindari menikah dengan perermpuan dari keluarga yang tidak ada saudara laki-lakinya. selama beberapa tahun, aku merasa seperti kena penyakit lepra.

beberapa hari ini, aku seperti merasa balik lagi kepada diriku sendiri. rasanya seperti minum segelas air sehabis berlari sejauh 20 kilometer. sejauh apapun aku menghindar, aku tidak akan bisa melupakan identitasku. dalam ngayah, aku merasa menjadi orang bali kembali. meski berpuluh-puluh sorot mata heran melihat kehadiranku yang tidak lazim. mungkin mereka heran atau malah meremehkan aku sebagai seorang penggangguran. siapa peduli. aku tidak akan membagi kebahagiaanku menikmati kerinduan ini.

aku menikmati, warna kuning keemasan matahari sore yang menerpa kulitku ketika pulang ngayah. menghirup segarnya bau legit tanah yang dibasahi oleh air hujan. menikmati mentari yang baru terbebas dari gelapnya awan, dan yang mengintip di balik klepan-daun kelapa yang hijau didepan rumah kakekku.

aku benar-benar bahagia.

Monday, June 19, 2006



hari ini lagi menerjemahkan buku. banyak jadi belum sempat bercerita.
tapi aku lagi kesengsem lagi close to you neh. sampe bela-belain cari liriknya di leoslyrics.com. ta' share disini ya.. kalo sempat perhatikan liriknya ya.. menggugah banget.
cocok jadi lagu nikahan kaleee. rekomendasinya buruk ya,, mahap kalo begitu.

Close To You

Why do birds suddenly appear?
Every time you are near
Just like me they long to be
Close to you

Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by
Just like me they long to be
Close to you

On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust
In your hair of gold
And starlight in your eyes of blue

That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me they long to be
Close to you

On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust
In your hair of gold
And starlight in your eyes of blue

That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me they long to be
Close to you
Just like me they long to be
Close to you

Tuesday, June 13, 2006

Gempa Jogja dan Poligami??

Wanci, 1 Juni 2006

Kepala rasanya masih oleng meski sudah sejam menginjakkan kaki di Wanci. aku melawatkan 4 hari hidup diatas kapal mengitari kepulauan Wakatobi. Ini pertama kalinya aku ke Wakatobi, itupun setelah beribu-ibu kali veda, suamiku membujukku.

Teriakan Indar mengagetkanku.

”Jogja gempa..jogja gempa??”. katanya dengan muka serius.

Kali ini kulihat raut wajahnya hampir mendekati serius. Dia terlalu sering iseng dengan becandaannya. Dia pernah teriak ”ada hiu, ada hiu”. Tepat ketika wartawan jakarta dan kendari berjuang sekuat tenaga melawan arus ketika snorkeling di perairan karang kaledupa. mereka gondok bukan main. Aksi balas dendampun dirancang sesampainya mereka diatas. Beberapa orang, hanya dengan komando kerlingan mata, mengangkat tubuhnya untuk diceburkan ke laut. Indar ya tetap indar. Meski meronta-ronta, dia tak kuasa dengan tubuhnya yang kecil mungil.

Byurrrr.... tinggal Indar nyengir ditengah lautan. Entah menyesali atau malah senang dengan ”balas dendam” teman-teman yang lain.

Tapi kali ini, tidak ku lihat wajah jahil Indar ketika meneriakkan ada ular.. ada ular ketika kami sama-sama snorkeling di pulau Hoga. Sumpah mati, ular binatang yang paling ku takutkan. Jangankan melihat, mendengar namanya saja aku sudah panik terasa mau mati. Ditambah lagi, aku sekarang berenang. Refleks kakiku meronta menerjang ombak. Hanya aku lupa, dilaut bukan kolam renang. Kaki refleks bergerak dengan gaya katak. Betiskupun berbenturan dengan fin-fin itu. Life vest menambah berat buatku untuk berenang.

Rasanya aku tidak percaya. Jogja tidak mungkin kena gempa. Rasa tidak percayaku sama seperti ketika pertama kali mendengar Bali dibom. Ketika itu tanggal 13 Oktober 2002, jam 1 tengah malam. Bom terjadi jam 11 malam. Bom mungkin meledak ditempat lain. Tetapi tidak dengan Bali. Baliku. Sama seperti gempa, tidak mungkin gempa terjadi di jogja. Aku pernah 6 tahun menjadi warga jogja ketika kuliah di UPN. Tapi otakku yang lain menyergap, protes. Mungkin saja karena Merapi mau meletus.

Dengan cepat otakku menscanning orang-orang yang ku kenal di jogja. Mas Doni, Mas Toto, Pak Roem, YPRI, keluarga di Kranggan, Danti, Komang, Bu Niniek, Om Margino, Om Janu, Tante Wiwin, Bli Lotok.... bagaimana mereka. Selamat gak ya...

Segera ku rebut laptopnya Veda, dan browsing di internet. Cari berita gempa. Ketika buka yahoo messenger, eh ada mbak Ririn disitu, lagi on line.

Drong drinngggg... droooonngggg driiiinnnggg

”Mbak Ririn, bener jogja gempa?”

”bener. Tadi pagi jam 6”

”parah gak? Kaliurang gimana”

”Kaliurang gak papa. Gempanya dari selatan. Dari laut”

”loh kok bisa. Aku pikir gara-gara Merapi meletus”

”enggak. Dari laut. 5,9 SR”
”terus kabar temen-temen gimana”

”gak tahu.. aku masih browsing neh. Susah menghubungi Jogja. Katanya parah. Rumah mas Toto, gentengnya jatuh.. dindingnya retak-retak.”

”waduhh..? kok bisa ya... parah banget berarti”

”aku belum bisa menghubungi keluargaku neh. ada adikku diJogja”

”oia.. terus rumah mbak Ririn gimana?”

”nah itu dia, aku belum tahu. Belum bisa menghubungi neh. aku lagi berrencana berangkat ke Jogja”.

”weee... bandara gak bisa dipake neh.. katanya bandara Adi Sucipto ditutup”.

”oya aku lagi berpikir mau pake apa?”

”pesawat Jakarta Solo aja. Dari Solo naik bisa ke Jogja. Kalo gak lewat Semarang”.

”bisa juga.. aku lagi berpikir mau pake mobil aja.. mungkin pesawat penuh. Orang lagi panik.”

”yo wiss.. mbak Ririn ati-ati ya...”

”thanks Wi...”

Ternyata dugaanku salah. Aku pikir gempanya gara-gara Merapi udah meletus. Eh taunya, datangnya dari selatan. Weeekkk... langsung aku berpikir, pak Rujito gimana ya... dia rumahnya khan dipinggir pantai Samas. Kena gak ya.... hatiku langsung miris. Menangis. Aku pengen banget berada disana. Membantu, mengevakuasi korban. heeekkk, tapi aku udah terlanjur janji dengan Veda akan disini selama sebulan. Ini baru seminggu.

Waktu itu, aku gak langsung nelpon mas Doni dan temen-temen yang lain. Hpku mati, dan aku malas banget ngecharge, badanku masih oleng. Tubuhku masih harus adaptasi untuk hidup didarat lagi setelah seminggu hidup tidak normal dikapal.

Sorenya aku baru menelpon pak Yoga. Untung dia ada.

”Pak yoga dimana?”

”aku masih di Denpasar. Kenapa?”

”waduh saya pikir di Jogja, saya denger dari TV, Jogja kena gempa. Takutnya Pak Yoga ada disana”

”oo... kamu udah tahu rumahnya mas Toto gentengnya rontok?”

”saya belum menelpon mas Toto, pak Yoga.. begitu ya..”
”iya.. sekarang rumahnya jadi posko”

”waduh parah banget ya.. terus mas doni gimana khabarnya?”

”doni belum bisa ku hubungi. Padahal hari rabu ini aku mau ketemu dia di Jakarta. Gimana ya.. bisa gak berangkat tuh anak”.

Aku langsung ingat, mas Doni itu, orangnya sangat sensitif dengan isu keselamatan. Pernah dia langsung lemas begitu mesin pesawat yang mau ke ende meledak mesin disebelah kiri waktu pesawat bari saja take off dari bandara Ngurah Rai.

Meski pesawat gak jadi berangkat, tapi dia masih tetap grogi sampai malam. Ketika tim fasilitator memutuskan tidak jadi ke Ende, dia orang pertama yang paling senang sampai mau lompat-lompat kayak kelinci hehehe.... hiperbola.

Selang beberapa hari aku baru bisa menghubungi mas Doni.

”Mas Doni, gimana khabarnya? gak dirumah sakit khan?.”

”wooo.. syukurnya gak dik. Cuma masmu ini agak lecet-lecet sedikit dikepala. Tapi gak apa-apa”. Mas doni itu sudah seperti kakak laki-lakiku. aku hanya dua orang bersaudara. Keduanya perempuan. Aku tidak mungkin punya kakak kandung laki-laki. Bapakku sudah meninggal 14 tahun yang lalu.

”iya aku lihat di TV, mengerikan banget kondisi di Jogja. Banyak korban yang meninggal”.

”banyak orang kegencet dirumah mereka dik, ya.. maklum khan masih jam 6 pagi. Tetanggaku, 6 orang meninggal. Sebenarnya yang satu orang, udah berhasil keluar rumah, tapi rumahnya malah yang ngejar dia. Ambruk ke depan.”

”lagian rumah-rumah di Jogja struktur bangunannya lemah je. Sedikit disenggol aja ambrol. Waktu kejadian mas Doni lagi ngapaen?”

”ehmmm... kamu tahu sendiri kan dik, masmu ini insomnia. Aku baru tidur jam 5. tiba-tiba mukaku dibangunin sama serpihan semen-semen tembok. Refleks aku bangun dan.. jatuh. Mungkin karena masih goyang”.

”terus luka?”

”lumayan. Lumayan besar jadi penghias botakku. Tapi udah gak apa-apa kok dik”.

”kata pak yoga, as doni mo ke jakarta, gimana bisa pergi gak?”

”waduh belum tahu pasti ini, gimana, masih berantakan begini.. aku mau beres beres dulu. Mungkin harus cari kontrakan baru.. bapak kontrakanku bilang mau sekalian merenovasi rumah ini. Menurutku emang mesti iya, direnovasi..bangunannya udah ambrol begini”

”yo wis,.. ati-ati ya”

”kamu sendiri gimana di Wanci, baik-baik aja toh”.

”aku baek-baek mas. Ini aku baru nyampe diwanci setelah keliling-keliling pulau-pulau di wakatonbi.. ini baru dapat sinyal. Kemaren aku hidup berhari-hari dikapal.”

”weee.. enak donk...”

”enak dan enggak. Aku mabuk 3 kali. Sekarang jalan aja rasanya masih oleng. Tapi yo weiss aku gak usah dikhawatirkan. Asal dirimu baik-baik aja.”

”dik kalau ada keluargamu atau temen yang masih belum bisa dikontak di jogja. Kasi tahu aku ya.. tar aku ta tengokin.”

”ok mas, yo wis. Itu dulu ya...”

abis nelpon mas doni, aku langsung mencet nomornya mas toto. Tuuttt...tuuutttt...

”babe.. gimana khabarnya?”

”babe baik baik. Cuma rumah, gentengnya pada jatuh eee”

”tido, bram dan bu wahya gimana?”

”mereka baik-baik. Sekarang dirumah jadi posko. Disini banyak juga yang jadi korban. babe masih sibuk ngurus-ngurus neh.”

”ya udah. Aku Cuma khawatir ada apa-apa dengan babe”.

”hati-hati ya be..”

”iya..kamu hati-hati juga.. kamu masih diwanci?”
”masih be..”

”ati-ati ya..”

”ya..yuk be..”

---

jogjaku sayang jogjaku malang. Aku menangis. Jumlah korban semakin lama semakin meningkat. Tidak hanya korban nyawa. Banyak rumah penduduk juga jadi tumbal. Aku jadi ingat model rumah-rumah penduduk di jogja, apalagi di daerah bantul yang masih banyak mempertahankan model rumah joglo.

Jadi ingat waktu masih wara-wiri dengan Danti untuk penelitian penyu di pantai samas. Setiap minggu kami pasti melewati jalan-jalan di samas dan pandan simo. Syukurlah katanya gempa melewati pantai samas. Aku denger-denger lagi, daerah mereka terselamatkan karena gumuk-gumuk pasir. Gunungan pasir aneh yang selalu kupertanyakan, apa tuhan gak punya kerjaan. Kenapa sampai sempat membuat gumuk-gumuk pasir. Mengganggu pemandangan.

Ck...ck..ck... kenapa Jogja sampai kena gempa ya?. Ditengah-tengah aku lagi bingung mikir jawabannya. Permadi membuat pernyataan aneh di infotaiment. Gempa ada dijogja karena kemurkaan Ratu Pantai Selatan, karena sudah gak diperhatikan lagi oleh keraton. Katanya lagi Jogja gak mungkin kena gempa, selain karena kemurkaan ratu pantai selatan. Jogja selama ini dilindungi oleh pasukan kasat mata dari selatan. Selama ini jogja belum pernah diapit bencana seperti ini. Seperti dijepit ancaman dari selatan dan utara. Permadi menyarankan agar kesultanan jogja mulai memelihara hubungan baik lagi dengan ratu pantai selatan. Ruwatan mungkin ya. Tapi bukannya setiap malam bulan suro itu ada sekatenan?.

Ternyata, veda juga setuju dengan Permadi. Heran, tumben tuh anak pola pikirnya percaya magis.

”iya. Sultan itu harus kawin lagi. Gak belum punya anak cowok tuh. tar, ratu selatan kawin ama sapa?. Masak ama anak cewek sultan. lesbi donk.” katanya, memprovokasi.

Iya juga. Aku baru inget, Permadi pernah bilang ada ikatan khusus antara sultan jogja dengan Nyi Roro Kidul, ratu pantai selatan. Setiap sultan jogja itu adalah suami gaib Nyi Roro Kidul. Perkawinan gaib inilah yang melindungi warga jogja dari segala bencana yang mengancam.

”Sultan kan selama ini yakin tuh, kalau anak-anaknya bakal bisa memimpin jogja. makanya beliau gak kawin lagi. Tapi sultan lupa ama hal-hal magis begitu.” tambah veda lagi, becanda mungkin. Tapi karena dia ngobrolnya tanpa ekspresi didepan laptop, kesannya jadi serius.

”makanya tuh, sultan itu harus kawin lagi. Tapi kita liat aja, sultan mau kawin lagi gak?” sahutnya sembari melirikku, menantang.

”jadi dirimu setuju kalau sultan kawin lagi. Weekkk, aku gak setuju. Poligami dong.”

”untuk menyelamatkan daerahnya?” tantang veda

”emang nanti, kalau kita gak punya anak cowok, kamu mau kawin lagi gitu?” sahutku sebal.

”lah... kok jadinya kita yang kena. Kan aku bilang sultan. lagian, untungnya aku bukan sultan.”

”untung apa buntung?..”

aku heran. Gempa di jogja benar-benar tidak bisa diprediksikan penyebabnya apa. Tapi yang pasti, apa poligami jadi solusi biar besok-besok jogja gak gempa lagi. Lagian kan kasian Gusti Ratu Hemas, dimadu. Padahal selama ini, aku salut dengan kepemimpinan Sultan Hemangku Buwono X. Beliau sangat ngemong. Hanya beliau yang bisa meredakan emosi kawula jogja ketika reformasi, kerusuhan dan lainnya. Satu lagi, beliau monogami. Tidak seperti sultan-sultan terdahulu yang istrinya banyak. Veda lagi, nyebelin. Kok dia ada ide aneh nyuruh sultan kawin lagi. Emang dia kepikiran kawin lagi??.. gawat neh.. belum setahun usia perkawinan kami. Hiiiii.......

aku berdoa. Sungguh. Sudah lama kayaknya aku gak berdoa. Abis belum ada hal-hal seru yang harus ku update ama Tuhan. Tapi gempa dijogja ini bener-bener.. ck ck ck.. Mudah-mudahan jogja, segera pulih dari bencana. Jogja udah kayak kampung keduaku setelah Bali. Aku kangen jalan-jalan di kranggan, kangen beli cakue didepan agatha di asem gede. Itu cakue terenak yang pernah ku makan. semoga jogja tidak menjadi mahal, karena masuknya banyak lembaga bantuan seperti halnya di aceh. Gawat nanti kalau jogja jadi mahal, kasian mahasiswanya jee....

Dan semoga juga, sultan gak kawin lagi, dan bisa nyari solusi lain untuk pemecahannya.

Kalau iya, permadi bener. Kalau gak gimana??....

”Tak ada Dokter di sini.......”
kamis, 8 juni 2006

Baru menjejakkan kaki di pelabuhan Tomia, setelah 4 jam berjuang diterpa hempasan ombak angin timur, sudah disambut dengan sinar matahari yang menyengat. Perjalanan 4 jam dari wanci ke tomia terasa melelahkan. Untung hari ini, cuaca cerah. Biasanya hujan terus, kalau tidak mendung. Andai saja, tidak ada pemandangan ikan-ikan terbang dan sesekali koli-koli masyarakat bajo melintas, perjalanan ini pasti akan membosankan.

Suasana kampung di desa waha ini sepi. Orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah ketimbang keluar. Hanya ada satu dua ibu-ibu yang melintas menjinjing tas kresek hitam. Mungkin baru membeli sesuatu dari toko yang berjejer di perempatan pelabuhan. Tiba-tiba kak udin, seorang master dive yang sekarang bergabung dengan WWF Indonesia, salah satu organisasi pelestari laut mengeluhkan sakit kepala. rupanya, sakit kepalanya belum reda, akibat matanya kena jotos kompressor selam ketika hendak mengecek alat. Tutup kompresor mental kena matanya. Ketika itu, mata tiba-tiba seperti mike tyson yang dijotos hollyfied. Merah dan bengkak. Sakit matanya itu, yang sekarang merambat jadi sakit kepala. sebenarnya, dia sudah menyiapkan paramex yang dibeli di wanci, tetapi ketinggalan di kapal.

Sambil jalan, mau ketempat pak udin. Kami bertanya pada ibu-ibu yang jualan di warung-warung diperrempatan pelabuhan. Ada yang jual paramex, atau paling gak obat sakit kepala. tidak satupun warung yang menjual obat itu. Padahal obat itu khan dijual bebas dipasaran. Ada sekitar 4 warung yang kami tanyakan, disepanjang jalan mau ke rumahnya pak udin. Rumahnya tidak jauh dari pelabuhan hanya sekitar 400 meter. Orba, salah seorang jagawana yang sering tinggal di tomia, menyarankan sebaiiknya kami membelinya di apotek deket rumah ibu bidan.

Karena tidak ada waktu, dan harus menunggu teman-teman yang lain. Kak udin, menunda membeli obat, dan meringis menahan sakit kepalanya. Sambil ngobrol dengan para jagawana yang hendak ke runduma untuk monitoring penyu. Selama obrolan itu, menyinggung tentang dokter.

Mulailah temen-temen curhat mengenai minimnya layangan kesehatan. Seperti halnya pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia, salah satu hal yang umumnya dikeluhkan oleh masyarakat Tomia adalah kurangnya pelayanan kesehatan yang memadai. Masyarakat di Tomia mengeluhkan kurangnya tenaga dokter dan layanan kesehatan. Di pulau tomia yang dibagi menjadi 2 kecamatan.... tenaga dokter hanya ada di wilayah Usuku. Kalau ada anggota masyarakat yang sakit harus ke Usuku, karena diwilayah Usuku ada puskesmasnya. Jadi dokter yang disana adalah dokter jaga untuk puskesmas. Jadi kalo ada anggota masyarakat dari Waha misalnya yang sakit harus ke Usuku, yang letaknya kira2 10 kilometer. Repotnya kalau tidak punya motor.

Sebenarnya ada beberapa mantri kesehatan disekitar wilayah mereka, namun sepertinya masyarakat lebih memilih pergi ke dokter daripada ke mantri. Disamping itu, dukun kampung dengan obat kampung juga ada. Tetapi keberadaan mereka tergusur karena kepercayaan masyarakat kepada dokter lebih tinggi.

Mereka menginginkan ada seorang dokter yang tinggal didekat-dekat mereka. Dr. Sukirman, adalah seorang dokter dari bali, yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat di tomia, khususnya di Waha. Dr. Sukirman, orangnya baik. Dia sangat akrab dengan masyarakat.

”pak sukirman itu,, dokter yang hebat. Dia bahkan meracik obat sendiri, dan mengoperasi sendiri. Kalau ada dia, masyarakat tenang.”Kata saharuddin, bapak satu anak itu warga desa Waha.

Matanya menarawang mengingat kembali jasa-jasa pak dokter sukirman. Dokter Sukirman selesai tugas disana sekitar tahun 1989.

”Semua orang menangis, waktu pak Sukirman kembali ke Bali. Kita semua senang, kalau dia disini”. kata Pak Udin, seorang Jagawana yang tinggal di Tomia.

Saya baru tahu yang wajah dokter sukirman, waktu melihat album fotonya Bardin. Dokter Sukirman, keturunan Cina, orangnya pendek sekali. Senyum manis tersungging dibibirnya. Dalam foto itu, Bardin kecil ada dalam pelukan Dr. Sukirman, dan dikelilingi oleh suter-suster yang bertugas di Tomia pada waktu itu.

Selain Dokter Sukirman, ada juga pak gede, seorang dokter dari bali juga. Nah dua orang itu yang paling diingat masyarakat disini.

”Sekarang saya tidak tahu mereka dimana, terakhir yang saya dengar pak sukirman sekarang tugas dijakarta. Tepatnya saya tidak tahu, tetapi saya dengar-dengar di sebuah rumah sakit besar di jakarta. Kalau pak gede sudah balik ke bali” tambah pak Udin lagi.

”Dulu juga pernah ada dokter wanita dari makasar, orang bugis. Dr. Yanti namanya. Dr. Yanti ini aktif aktif sekali orangnya. Sering dia, jalan-jalan di kampung dan mampir ke rumah penduduk nanyain gimana keadaannya. Dia orangnya ramah dan supel.” kata Saharuddin

”Dia juga orangnya tidak jijikan. Dulu pernah pak...?? dari kaki sampai pahanya kena ledakan kompor gas. Luka bakar dikakinya banyak sekali, sehingga Dr. Yanti harus membersihkannya berjam-jam. Tetapi dia gak jijik tuh, abis itu. Dengan enaknya dia menghabiskan makan siangnya. Padahal kalau saya disuruh makan itu pasti gak bisa, mau makan gimana, orang kaki bapak itu sampai daging-dagingnya keluar” Kata pak udin, merinding tapi dengan ekspresi salut. Saharuddin mengangguk mengiyakan.

---
Bapak Udin ini, seorang jagawana. Tinggal di rumah kontrakan dengan ukuran 6x6 meter. rumah sederhana berlantai semen. Dibelakang rumah ditambahkan gubuk kecil yang menempel dengan rumah terbuat dari bedeg bambu dan berfungsi sebagai dapur. Pak udin, punya dua anak. Satunya perempuan umurnya sekita 5 tahun, belum sekolah. Dan satu lagi, cowok?? Masih bayi umurnya 4 bulan. Anaknya sering ditinggal tugas, karena dia termasuk tim penyu, jadi kadang-kadang harus meninggalkan istri dan anaknya monitoring penyu di pulau runduma. Pulau runduma adalah pulau peneluran penyu. banyak penyu datang bertelur disana, secara berkala dia mencatat berapa kali penyu naik pada musim peneluran. Pulau runduma letaknya sekitar 4 jam dari tomia naik boat. Kalau naik kapal perahu sampai mungkin sampai 5 jam.

”itu kalau tidak kencang ombak”. Kata Pak Udin. ”kalau ombaknya kencang bisa lebih lama lagi, ditambah lagi perutnya pasti tidak enak. Mabuk laut.” tambahnya.

Karena tugasnya ini, dia kerap khawatir meninggalkan istrinya apalagi anaknya masih kecil. Kekhawatirannya kalau anaknya tiba-tiba sakit. Tidak ada dokter. Menurutnya, anak2 dibawah usia 5 tahun rentan sakit. Syukurnya sampai saat ini anaknya belum pernah sakit parah. Dia ingin ada seorang dokter yang tinggal didekat rumahnya.

Pak Udin kisah hidup yang seru sewaktu bekerja di tempat seorang dokter dari Bali yang bertugas di bau-bau. Dr. Yoga namanya, Dokter ini berasal dari daerah Gianyar di Bali. Gara-gara ikut pak dokter inilah, dia pernah merasakan tinggal sebulan di pulau dewata. Dan oleh pak dokter sebenarnya ingin disekolahkan di Bali, tetapi dia menolak karena tidak bisa jauh dari keluarga. Dia sedikit menyesal, kalau seandainya dulu mau disekolahkan di bali, mungkin nasibnya lebih baik. Tapi buru-buru dia menepis khayalannya itu, dan mengalihkan topik pembicaraan.

Katanya orang-orang tomia, banyak yang sudah jadi dokter. Tetapi tidak ada yang mau kembali ke tomia. Kebanyakan dari mereka tinggal di kendari, bau-bau, dan makassar. Kata pak Udin, bahkan kepala dinas kesehatan di bau-bau berasal dari Tomia.

Untungnya, untuk urusan melahirkan tidak menjadi masalah. Di desa Waha sendiri ada 5 bidang yang siap membantu ibu-ibu melahirkan. Bidan-bidan ini juga mempunyai dampingan dukun-dukun beranak desa untuk membantu proses melahirkan.

Minum Teh di Dunia Maya

Yahoo Messenger, 27 Mei 2006.
vero_nica: wik,.. thanks for the news
vero_nica: jadi sekarang berapa orang yang tewas?
parama_dewi: yup bu
parama_dewi: gimana sodara dibantul?
parama_dewi: 1700 an berita terakhir dari metro TV
vero_nica: katanya sih semua selamat, tapi rumah mereka hancur
vero_nica: sodara bapakku di sana kabeh
vero_nica: kulon progo
parama_dewi: yoiiiii... dibantul paling banyak yang meninggal 1300-an orang
parama_dewi: banyak orang tua yang meninggal
parama_dewi: dan maklum dijogja juga khan banyak bangunan tua. jadi digoyang dikit aja,,, ambrol
vero_nica: iya...
vero_nica: orang rumah msh coba kontek jogja tapi susah
parama_dewi: jaringan listrik tadi pagi mati tapi sekarang udah hidup... soale banyak orang juga yang mencoba nelpon kejogja
parama_dewi: aku lagi diwanci yu...
parama_dewi: barusan nyampe didarat setelah muter2 seminggu nebeng media tripnya WWF-TNC
parama_dewi: pas nyampe darat langsung denger berita buruk
vero_nica: weeehhh....
vero_nica: gimana Wanci?
vero_nica: seru???
vero_nica: jadi kau akan tinggal di wakatobi wik? =D>
parama_dewi: weeekkk sejauh ini aku belum menemukan yang seru.... soale tinggal seminggu dikapal mabok ampe 3 kali hehehe
parama_dewi: gak cuma sebulan ini... aku masih mencoba survive di bali hehehe
vero_nica: am watching the quake in SBS now
vero_nica: scary....
vero_nica: :-SS
parama_dewi: what is SBS??
vero_nica: one of australian tv channel
parama_dewi: ooo..okayyy...
parama_dewi: mengerikan..
vero_nica: after merapi and now the quake
vero_nica: east timor pula
vero_nica: #-o
parama_dewi: ada wartawan kompas disini ngingetin waktu dulu setelah tsunami, sultan udah ngingetin mungkin jogja akan ada bencana alam juga. sultan minta warga buat sayur lodeh. entah beneran ato gak
vero_nica: jadi masih kekeh neh ngga mau tinggal bareng suami
vero_nica: kasian si veda ;))
parama_dewi: kata wartawan pantau: sekarang kita lagi menyaksikan indonesia hancur
parama_dewi: soale ada kemungkinan juga veda akan pindah ke bali.. tapi belum pasti... nah aku pikir... mendingan aku nunggu dia di bali
parama_dewi: lagian kasian mobil dirumah gak ada yang pake.. ketimbang mogok, ongkosmnya lebih berat
vero_nica: hehehhe... semoga veda bisa segera pindah ke bali dan kalian bisa segera ngumpul
parama_dewi: yupppp semoga doanya segera terwujud..
parama_dewi: dari pengamatan semntara aku kayaknya gak betah stay disini deh bo.. panas menyengat hahahaha
vero_nica: ya iyalah, ga ada bule, ga ada mall, ga ada cinema 21 juga kan..
vero_nica: di bne sekarnag 8 degree during the night wik
vero_nica: dingiiiiiiiiiiiiinnnnnn... butuh selimut hidup!
parama_dewi: =))
parama_dewi: makanya bu segeralah diperjelas hubungan dengan bapak yang satu itu
vero_nica: hehehehe, wong aku butuh selimut hidupnya sekarang kok
vero_nica: jd kalopun diperjelas, ga ngaruh, tetep aja sekarang kedinginan
parama_dewi: weekkkk ...oia.. lupa...
parama_dewi: eh di bne udah ada da vinci code belum?
parama_dewi: aku udah nonton waktu kemaren dibali
vero_nica: aku wes nonton 2 kali
vero_nica: tp aku blum baca bukunya
vero_nica: dan baru mau beli
parama_dewi: 2 kali niat banget. nonton sendiri bu? weee gak seru
vero_nica: ya engga dong ah
parama_dewi: sooo??? what was going on after the movie?
parama_dewi: aku lagi ngebayangin romantic date neh
vero_nica: hahhahaah ... engga, engga ada date-date-an ah
vero_nica: udah mau pulang indo
vero_nica: 2 bln lagi juga balik
parama_dewi: when??
vero_nica: jd males memaintain hubungan di sini
parama_dewi: jadi udah kelar neh tesisnya??
vero_nica: lagian udah ada yg nunggu kan di indo ;)
parama_dewi: gila cepet banget ya
parama_dewi: muahhhhmuahhh deh
vero_nica: cepet ya?
vero_nica: buat ku kadang2 berasa cepet kadang2 berasa lama
vero_nica: kalo lg dikejar deadline, rasanya cepeeeettt banget
parama_dewi: eh aku kirim foto nikahanku kemaren disurabaya ya??
vero_nica: kalo lagi kangen (:">) rasanya lamaaa banget
vero_nica: MAUUUUUUUUU
parama_dewi: dasar!!! lagi mupeng ya
vero_nica: ho oh neh..
vero_nica: thesis is finishing
vero_nica: supervisorku bilang dia happy dan enjoy reading my thesis
parama_dewi: waooowwww muantep banget.. tar kalo di indo.. kasi liat aku ya tesisnya
parama_dewi: dapet A donk
vero_nica: but it's not 100% done yet... got to revise some parts as he suggested
vero_nica: dan ga jaminan bakal dapet A lah wik
vero_nica: bisa2nya dia aja lip service ma gw
parama_dewi: yang dosen bermata biru itu??
vero_nica: oh bukan... eh, yang dosen bermata biru itu kasih aku 86 lho utk essay ku semester lalu
vero_nica: tentu saja aku dapat segitu, wong aku NIAT ngerjainnya.... ;))
vero_nica: cari muka gitu deh ama doi... >:)
parama_dewi: dasar!!!
vero_nica: tauk ndirikan di sini dapat 80 tuh SUSAAAAAAAAAAAAAAHHH banget... tanya plicha deh
vero_nica: dgn sentosanya gw dikasih 86! it's consider as A
vero_nica: wong aku niat ngerjainnya >:)
vero_nica: topik essayku ttg ICTs and women empowerment in Indonesia
parama_dewi: ICTs itu apa yu?
vero_nica: aduh, katanya hidup di era digital, information society, kok ya nda tahu ICTs... ;))
vero_nica: ICTs stands for Information and Communication Technologies dear
parama_dewi: ooo... begituuuuu
vero_nica: sekarang, dunia percaya bhw ICTs can alleviate poverty ... (bullshit!)
vero_nica: byk project UN utk pengembangan ICTs
vero_nica: di Indo UN kerjasama dgn Bappenas (G to G) tuk bikin telecenter
parama_dewi: iya dan proyek funder itu khan mengacu pada proyeknya UN?
parama_dewi: terusss
vero_nica: iya
vero_nica: jadi asumsi mereka, kalo ICTs itu dikembangkan, local people melek teknologi, maka mereka more likely utk ngembangin daerahnya
vero_nica: krn akses teknologi memungkinkan mereka utk dapat informasi
vero_nica: utk mengembangkan bisnis
vero_nica: contoh, lewat internet mereka bisa jualan produk2 agraria mereka dll
vero_nica: katanya sih di beberapa negara cukup sukses
vero_nica: nah, aku analisa kemungkinan pengembangan ICTs itu utk women empowerment di Indo
parama_dewi: weeee.. kayaknya mereka harus pergi ke negara berkembang dulu sebelum positif banget kalo aplikasi teori mereka bisa jalan
parama_dewi: terus analisamu adalah??
parama_dewi: tar aku gantian cerita perjalananku ke pulau2 terpencil diwakatobi ini
vero_nica: di Indo, challenge nya banyak sekali
vero_nica: infrastructure adalah salah satunya
vero_nica: tp berkait dgn pemberdayaan perempuan
vero_nica: ini masalahnya terkait dengan cultural, social, economic and political dimensions
parama_dewi: yuppp...
vero_nica: krn akses perempuan di public sphere terbatas
vero_nica: apalagi di daerah
vero_nica: jadi yang harus dibenerin sistemnya dulu
vero_nica: tetap saja perempuan left behind
vero_nica: akses terbatas
vero_nica: dan perannya lbh di domestik area
vero_nica: ini DIGITAL DIVIDE yang harus dibenahin dulu
parama_dewi: jargon digital divide itu artinya apa?
vero_nica: teknologi memang membantu, tapi tidak bisa simply dianggap sbg the only solution utk pengentasan kemiskinan
vero_nica: masih JAAAUUUUHHHH utk indonesia
vero_nica: masalahnya sekarang, ICTs itu udah spt hegemony aja
vero_nica: yg tentu saja dibangun oleh mereka2 yang punya kepentingan
parama_dewi: tetapi memang tidak ada satu formula tunggal yang bisa mengentaskan kemiskinan. karena masalah kemiskinan sendiri sangat tersistematis secara kompleks
vero_nica: itu dia
parama_dewi: menurutku.. kepentingannya masih tetap antara aliansi pemilik modal dengan profesional.
vero_nica: ini kepentingannya lebih besar lagi, global, negara2 superpower itu lah yg ambil keuntungan
vero_nica: skrg kan amerika lagi sibuk urus intelektual property right (IP)
parama_dewi: iya negara superpower dengan mengembangbiakan orang-orang pintar dinegara-negara lain untuk menyuntikkan isu kemasyarakat bahwa teknologi informasilah yang menjadi kebutuhan masyarakat
vero_nica: salah satunya, di akan ada badan dunia yang urus masalah pengaturan internet atas nama IP
parama_dewi: menurutku sama dengan model penjajahan tetapi dengan strategi yang berbeda
vero_nica: jadi, akses diatur, ga bisa sembarang download informasi... harus bayar dst
vero_nica: kan gelo!
vero_nica: akses dibatesin dan dikapitalisir
vero_nica: on behalf of INTELECTUAL PROPERTY RIGHT
vero_nica: nah, statement ku itu kesimpulan thesisku
vero_nica: to some extent, new imperialism remain exist, not in the form of colonialism but in the form of New Media development
parama_dewi: dunia barat itu selalu over produksi. kelebihan produksi itu harus dibawa keluar..tetapi kebutuhan diluar belum mencapai ke masa itu... ibaratnya didunia ketiga orang hidup dalam zaman bertani, sudah harus diupgrade dengan paksa masuk ke zaman digital.. itu karena negara berkembang harus "sukarela tetapi terpaksa" menerima kenyataan palsu bahwa idnustri teknologi informasi menjadi kebutuhan mendesak
vero_nica: atas nama globalisasi!!!!!
parama_dewi: yup aku setuju
vero_nica: jadi, media2 alternative itu sebenarnya salah satu upaya utk counter-hegemony mainstream media yang sekarang menjajah dunia ketiga
vero_nica: termasuk radio komunitas
parama_dewi: ketika orang berada dalam kampung global.. idealnya kedudukan mereka harus setara... kalo tidak setara akan selalu ada politisasi pemaksaaan kebutuhan didalam kampung global itu.
vero_nica: which lies on the principle of participation, community empowerment, and open access
vero_nica: simply because people have the right to information and the right to communicate
vero_nica: in the global scale, struggle nya sekarang adalah the right to communicate and the right to information wik
vero_nica: freedom of expression yang ada sekarang, sebenarnya lead to market mechanism
vero_nica: dan media adalah salah satu institusi yang tidak saja potential secara economy tapi juga alat penting utk propaganda guna maintain hegemony tadi
parama_dewi: yup.. karena belum ada media yang benar2 "mendidik". media sekarang masih perpanjangan tangan dari kapitalisme
vero_nica: kalo dulu di Indo "state regulation"... kemudian authoritarianism digoyang atas nama freedom of expression... yg sebenarnya diarahkan utk menjadi "market regulation"
vero_nica: penentunya bukan negara, tapi pasar
vero_nica: dimana negara memperoleh keuntungan yang tidak langsung dari pasar
parama_dewi: sekarang ini sudah sangat terasa.
vero_nica: jadi, ya sama sama juga... krn yang nguasain negara toh dia2 juga
parama_dewi: iklan semakin gencar menyerang...setiap tayangan mebawa tendecy untuk perubahan gaya hidup
vero_nica: bisnis adv agency, gila2an lho billingnya wik
vero_nica: makanya, media tuh powerful banget,... bukan saja dari sisi bisnis, tapi juga sbg alat politik
parama_dewi: iyaaa
vero_nica: yang ujung2nya memperpanjang jurang si kaya dan si miskin
parama_dewi: iya...makanya pemerintahan SBY-JK sangat jauh berbeda dalam komunikasi politik. mereka menggunakan media massa sebagai alat kompolnya
parama_dewi: selalu akan begitu.... dari dulu selalu ada sekutu antara orang kaya dan orang pintar untuk menindas orang miskin...
vero_nica: while development has been focused on economic growth, poverty and inequality remain increase and the gap is widening instead of narrowing... what a paradox man!
parama_dewi: karena dalam hidup itu bentuknya selalu piramida dimana orang kaya dan pintar yang menduduki piramida atas]
parama_dewi: mereka selalu ketakutan kalo posisi piramida ini menjadi terbalik
vero_nica: padahal mereka sendiri yang mendefinisikan development = economic growth
parama_dewi: jargon
parama_dewi: kuasa bahasa
vero_nica: tp kenyataannya, development only create dependency and the gap is widening instead of narrowing
vero_nica: the rich is getting richer and the poor is getting poorer
vero_nica: no, it's not merely "kuasa bahasa" wik
vero_nica: tp secara theory mereka mendefine development sebagai economic growth
parama_dewi: bahasa juga menunjukkan penindasan. selalu orang menggunakan jargon untuk membuatnya mereka berada dalam tingkatan yang lebih tinggi dengan orang lain. secara tidak langsung jargon juga merupakan penindasan karena mereka semakin mempersempit ruang agar orang paham
vero_nica: dan ini rooted in western perspective dimana mereka melihat development dalam kerangak dualistic
parama_dewi: tetapi itu sangat mendasar mbak.
vero_nica: oposisi biner: modern vs traditional, agriculture vs industry, so on so forth
parama_dewi: dari 200 juta orang indonesia sapa yang mengerti tentang sustainable development
vero_nica: ngga usah dalam level bahasa wik, di tataran konseptual saja blum jelas
vero_nica: belumlah bulat dalam konsep tapi istilah itu sdh digunakan secara luas
vero_nica: demikian juga dgn development
parama_dewi: masalahnya ini yang sering diremehkan juga pada orang.... ketika penempatan bahasa tidak diperhatikan... konsep hanya menjadi onani di kalangan para intelektual dan tidak bisa diaplikasikan kebawah
vero_nica: belumlah tepat mendefinisikannya ttp scraa praktis sudah digunakan secara luas, bahkan dianggap sbg satu2nya konsep yang paling benar
parama_dewi: ini juga yang menjadi aneh dikalangan para LSM yang membumikan "konsep" konservasi kedaerah. mereka membawa bahasa yang asing untuk orang disana.. sehingga antara orang yang dibrainwash sama LSM, menjadi berjarak dengan kalangannya sendiri... akhirnya misalnya staff lapangan orang tomia, sering menyebut warga tomia dengan sebutan mereka... selain juga ada beberapa bahasa yang sudah ada didaerah tersebut yang bisa dipakai
parama_dewi: wahhh aku gak nyambung yaaa
parama_dewi: pada intinya aku setuju dnegan mbak vira... cuma aku nambahin dari segi pandangan digrass root tentang apa yang terjadi pada tahap global..
parama_dewi: ibaratnya orang didarat lagi memandang keatas apa seh sedang bergolak diatas awan
vero_nica: benar...
vero_nica: it's kinda true
parama_dewi: soalnya dalam teknologi informsi bahasa itu rohnya
parama_dewi: ayo apalagi.. aku dengerin kok
parama_dewi: eh salah baca kok
vero_nica: apalagi apanya?
parama_dewi: kesimpulan dari tesisnya
vero_nica: tesisku ttg: the nature of community radio in bandung west java, its potentiality, and challenges
vero_nica: kesimpulannya, kamu harus baca sendiri
vero_nica: :D
parama_dewi: weeekkk
parama_dewi: bu update terakhir korban gempa dijogja 2400--an lebih
vero_nica: lumayan kok 140halaman termasuk appendix :D
vero_nica: info darimana wik?
vero_nica: aduh, aku merinding
parama_dewi: Metro TV. hebat.. aku salut kok orang2 bisa nulis dengan baik ya
parama_dewi: aku selalu buruk kalo lagi nulis
vero_nica: weeehhh kata siapa nulis "dengan baik"
vero_nica: 140 halaman tidak menjamin nulis nya baik atau tidak lagi
parama_dewi: ojo ngono toh yu 86 jee
vero_nica: oh 86 itu mah bukan tesis, tapi mata kulaih communication theory
vero_nica: assignment biasa
parama_dewi: oh iya lupa..gila.. cuma gempa tapi bikin 2000 orang lebih meninggal yaaa
parama_dewi: hehehe, jahat gak seh.
vero_nica: itu mah cuma skitar 3500 kata
parama_dewi: weeekkk pokoknya
vero_nica: astaga, gempa kamu bilang "cuma"?
parama_dewi: hebat!!
parama_dewi: jangan protes, aku lagi memuji nehhhh
vero_nica: apanya lagi yang hebat
vero_nica: wong lulus aja blum
vero_nica: plicha tuh hebat
parama_dewi: pokoknya hebat titik
vero_nica: dasar!
parama_dewi: tadi pagi aku nangis loh
vero_nica: knp? kangen aku ya?
parama_dewi: ada sesi media trip ngeliat secara langsung nelayan bajo yang menambang karang
vero_nica: aku baik2 aja kok,ngga usah nangis :D
parama_dewi: sialan
parama_dewi: >:P
vero_nica: >:)
parama_dewi: kami pake speedboat untuk sampai ketempat orang2 menambang karang dan itu ditengah lautan.. mungkin denngan perahu kecilnya orang bajo mereka membutuhkan waktu dua jam untuk sampai kesana
parama_dewi: btw, mbak vira kebayang gak gimana kehidupan orang bajo
vero_nica: gimana? hidup di dalam perahu gitu kan?
parama_dewi: dulunya,, mungkin masih ada yang begitu, tetapi kebayakan orang bajo sekarang udah tinggal menetap tetapi masih tetap diatas laut.. jadi mereka membuat rumah rumah panggung
parama_dewi: rumahnya luasnya tidak lebih dari 6x6 meter untuk segala aktivitas.
parama_dewi: kalo sakit mereka tidak pernah kedokter, kalo istri melahirkan mereka hanya dijaga suami, anak2 tidak sekolah setiap hari kerjanya mancing dan bermain, dapat ikan untuk dimakan dihari itu.
parama_dewi: kalo mereka meninggal, mayatnya hanya diikat dengan karang untuk pemberat. satu dikaki, diperut dan dada, abis itu ditenggelamkan ke laut
parama_dewi: mereka sebagian besar dari mereka tidak terlalu ngeh dengan teknologi.
parama_dewi: karena mobilitas mereka hanya disana-sana saja.
parama_dewi: sayangnya mereka tidak hanya makan ikan?
parama_dewi: emang pakaian, garam, cabe, bawang merah, putih, sabun dll bayarnya pake apa?
parama_dewi: karena pemasukkan kecil, mereka mencongkel karang. Lalu dijual ke darat. Orang darat beli karang untuk jadi pelabuhan kecil untuk memarkirkan kapal mereka
parama_dewi: nahhh.... dalam media trip tadi pagi, ada orang nelayan bajo yang tidak sengaja kepergok sedang ngambil karang
parama_dewi: mukanya langsung pucat pasi, liat perahu patroli jagawana. maklum bberapa waktu lalu ada temen mereka ditangkap waktu ada razia gabungan polisi dan jagawana pake boat yang sama
parama_dewi: dia menggigil, tapi jadi sedikit lega waktu tahu dia gak akan ditangkap.
parama_dewi: namanya pak Gapa. Kasian udah tua, umurnya 60 th.
parama_dewi: padahal ada polhut yang ikut diboat kami...
parama_dewi: banyak wartawan yang mencerca dia dengan berbagai pertanyaan, yang mempertanyakan moralnya kenapa mengambil karang. gak takut? atau gak tahu aturan, dlll
parama_dewi: weeeee.. masih hidup gak?
vero_nica: iye bu… tapi disambi sebentar ya.. pacarku lagi nelpon.
parama_dewi:pacar gelap ya…
vero_nica:sialan.. kalo yang ini mah gak backstreet
parama_dewi:kalo namanya tetep dirahasiain tetep aja namanya backstreet.
vero_nica:wiikkkkk.. tar disambung lagi ya.. pacarku besok mo berangkat ke jogja bareng temen-temen LSMnya. Ada temennya, salah satu aktivis jadi korban.
parama_dewi:yo wissss.... salam ya. Eh tadi ceritaku gimana??...
vero_nica:sesok meneh yooo...
parama_dewi: weeeekkkk.. yo wis. Salam yo karo pacar gelap.
vero_nica:sialan!!!

Monday, June 12, 2006

Pak Gapa, Nelayan Penambang Karang


Wanci, 27 Mei 2006 jam 09.30

Namanya Pak Gapa. Umurnya kira-kira 50 tahun, karena dia sendiri tidak ingat berapa umurnya. Entah mimpi apa dia semalam, pagi-pagi sekitar jam 8 ketika dia sedang menambang karang, Dia tertangkap basah oleh jagawana yang membawa rombongan wartawan jakarta untuk meliput potensi laut wakatobi.

Pak Gapa jongkok menggigil di atas coli-colinya. Ketakutan. Nasibnya, tidak sebagus 3 penambang karang lainnya tadi yang sempat kabur sebelum diinterogasi wartawan dan dimarahi jawagana. Salah satunya ibu-ibu bahkan. Dia menggenjot sampannya, sekuat tenaga. Takut ditangkap jagawana.

”Mereka pasti sembunyi dulu didaratan. Dan memberi tahu teman-teman mereka untuk tidak kelaut karena ada patroli. Kapal ini (boatnya TNC-WWF) sudah dikenali para penjarah karang ini, karena kami sering patroli memakai boat ini” Kata Pak Syukur, seorang jagawana Taman Nasional Kelautan Wakatobi.

Selintas wajah pak Gapa ini mengingatkan saya pak tokoh utama film God Must Be Crazy, saya lupa namanya siapa. Tapi Mas Gesit, wartawan Kompas, buru-buru meralat saya.
”Mukanya pak Gapa lebih cerdas dari yang di film God Must Be crazy itulah.”.

Pak Gapa orangnya kurus, hitam. Diatas rambutnya yang kriting tapi cepak, bertengger kaca mata renang tapi buatan lokal terbuat dari kayu. Kacanya dilapisi ban karet hitam agar air tidak masuk. Di pasar wanci dijual dengan harga 7000.
Coli-colinya sudah terisi hampir setengah karang. Ada karang yang sudah mati dan ada karang yang masih hidup yang diambil. Ada karang otak yang lumayan besar, diambil juga oleh pak gapa. Coli-colinya, diikat di boat. Matanya masih nanar dengan senyuman yang terasa dipaksakan. Setelah diyakinkan oleh orang-orang dikapal termasuk wartawan, bahwa dia tidak akan ditangkap dan hanya ditanya-tanyai, senyum senang mulai mengembang dari bibirnya yang hitam, meski matanya masih menyiratkan kesan ketakutan.

”tidak saya jual. saya mau buat rumah” elak pak gapa ketika diserbu pertanyaan oleh wartawan untuk apa karang-karang itu.

”kalau teman-teman yang ngambil karang katanya dijual 50.000 sekoli-koli”. Orang-orang bajo mola termasuk pak gapa, banyak yang mengambil karang untuk dijual ke darat. Istilah mereka untuk orang wanci yang tinggal didaratan. Biasanya, karang-karang ini dijual untuk dijadikan pelabuhan kecil dipinggir-pinggir pantai sebagai tempat sandaran kapal atau dibuat reklamasi untuk pondasi bangunan warung atau rumah makan.
Tetapi tidak hanya orang bajo mola yang mengambil karang, orang-orang daratan juga banyak yang mengambil karang.

”ini bisnis yang paling mudah untuk dapat uang cash” kata Pak Syukur. Mereka tinggal mencongkel karang, menjual ke darat terus dapat uang. Daripada mereka memancing ikan. Lama. Baru dapat ikan.” tambahnya lagi.

”anak saya 5. 4 sudah menikah. Masih satu lagi yang ikut saya. Istri saya sudah meninggal”. Kata Pak Gapa. Dirumah pak gapa, hanya dia yang kerja untuk mendapat uang. Meskipun anaknya sendiri, untuk makannya bisa memancing ikan sendiri di laut.

”orang bajo itu, sudah tahu kok, kalau menambang karang itu dilarang tapi mereka masih melakukannya karena itu cara yang paling cepat untuk menambang karang”.

Orang bajo itu hidupnya sangat sederhana. Sebagian besar rumah mereka, berada diatas laut. Meskipun ada beberapa yang sudah berada dipinggir laut tetapi kalau air pasang rumah mereka masih tetap berada diatas laut. Mereka ini juga hidupnya sangat sederhana. Tidak pernah ke dokter, kalau sakit. Kalau melahirkan hanya ditunggui oleh suaminya. Dan kalau meninggal, mayatnya dicemplungkan ke laut. Diberi pemberat dibagian kaki, dada, dan kepala.

mereka menangkap ikan memakai tali pancing, kalau tidak mereka pakai panah. Mereka tidak pernah mengebom ikan, seperti yang dilakukan beberapa oknum orang didarat. Padahal aktivitas ini yang paling parah merusak karang...
karena menangkap ikan memakai alat pancing sederhana mereka tidak pernah mengambil ikan berlebihan. Cukup untuk diri mereka dan dijual sedikit dipasar untuk ditukar dengan barang2 kebutuhan yang lain. Orang bajo hampir tidak punya tabungan. Hanya orang bajo yang sudah menetap seperti bajo sampela, dan mantigola punya tabungan. Mereka menambung dalam bentuk perhiasan emas. Uang sekarang dipakai sekarang.


Rumah mereka pondasinya karang. Mereka membuat kanal-kanal antar rumah. Persis seperti gang-gang dirumah daratan. Bedanya gang dilewati mobil, gangnya orang bajo dilewati coli-coli dan tidak ada rambu-rambu lalu lintas. Apalagi polisi tidur.

Dinding rumah terbuat dari bedeg, anyaman bambu sementara atapnya terbuat dari seng.. dulunya mereka pakai daun kelapa. Tetapi untuk awetnya sekarang mereka pakai seng. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana merekan bisa diam dirumah disiang hari dnegan cuaca panas didalam seng. Seperti didalam oven mungkin.

sebagian besar aktivitas orang bajo dilakukan didalam rumah 6x6 m ini. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi pada malam harinya. Uniknya, bagaimana aktivitas hubungan suami istri dilakukan. Orang bajo punya siasat yang unik, kalau mereka melakukan hubungan suami istri di malam hari mereka melakukan dirumah dnegan gerakan seminimal mungkin membangunkan orang. Kata Veda yang pernah tidur dirumah orang bajo, ”gimanapun, masih kedengeran juga, orang tempatnya disekat Cuma pake kain. Masih terdengar kreot..kreot..kreot begitu.”

nah gimana kalo mereka kebelet melakukannya disiang hari... rupanya mereka melarikan diri dilaut untuk itu... mereka melakukannya diatas coli-colinya. Kalau anda melihat layar kapal diturunkan atau sampan mereka naikkan diatas kapal dengan posisi berdiri. Tandanya kapal janngan didekati karena mereka sedang asik... ada yang melakukannya ditengah laut terbuka, ada juga dibalik bakau..

”kalau kapal layarnya diturunkan, atau sampannya dinaikkan itu tandanya kapal sedang tidak menjadi kapal (untuk menangkap ikan). Kapal sedang dipakai untuk alasan lain”. Begitu penjelasannya veda ketika saya tanya kenapa tanda-tandanya seperti itu.

si Bardin, bercerita, dia pernah mendekati kapal yang layarnya sedang diturunkan.. buru-buru sang empunya kapal memakai celanannya yang melorot sembari bilang..”eh bapak.., saya kira siapa??.. sambil tersipu malu.. yang malu juga si bardin, yang merah mukanya..

kembali ke pak gapa.... menurut pak syukur, pak gapa ini dulu sudah pernah ditangkap karena menambang karang juga. Tetapi sudah dilepas,,, pak syukur menyakinkan pak gapa sekali lagi dengan nada menekan, kalau sekali lagi jagawana melihat pak gapa menambang karang maka akan ditangkap.

Pak gapa hanya mengangguk saja... tetapi siapa yang menjamin besoknya dia tidak menambang karang lagi..

Seperti pertanyaan.. seorang wartawan dari jakarta.. apakah pak gapa tidak takut melanggar hukum?... dia hanya tersenyum kecut.. masalahnya tidak sesederhana itu,.. bukan masalah takut dan tidak takut.. masalahnya adalah kebutuhan hidup. Seharusnya ada solusi yang pas menjembatani orang bajo... sementara orang bajo hanya bengong meihat boat, kapal2 besar dengan teknologi yang lebih bagus mengeruk kekayaan alam disekitar nya dari atas coli-coli yang didayung pakai sampan. Sementara, kegiatan penambang karangnya banyak diekspose media... mungkin karena dari segi berita dianggap bagus,, bajo yang notabene masih hidup primitif menurut orang kota, menambang karang yang notabene melanggar hukum.. pas lah sudah dengan steriotype orang suku tradisional itu orang bodoh.

Persislah sudah si pak gapa ini seperti tokoh the god must be crazyyy…

Bapak Asiru, Pengungsi Tual di Tomia.

Selintas wajah bapak Asiru mirip dengan penyanyi dangdut Meggie Z. Pertamanya saya tidak menyadari, sampai dia bercerita banyak orang di Jawa mengira dia mirip Meggie Z. Setelah sejam ngobrol dengannya dirumah panggungnya di desa Ulati, Tomia Timur, saya baru menyadari, iya memang mirip.

Guratan gambar usia terpahat tegas di wajah hitam Pak Asiru. Dia, salah seorang dari 20 KK dari Tual yang mengungsi ke Tomia setelah kerusuhan 1999 di Maluku. Hanya dengan sepotong baju yang melekat di badan, dia membawa lari istri, 3 anaknya dan dua cucunya. Bahrudin, cucu laki-lakinya baru berumur 4 bulan ketika itu.

”waktu itu, cucu saya Bahrudin, terserang demam tinggi, matanya sudah putih semua. putih. Saya kira akan meninggal.” kenang Pak Asiru menerawang sedih.

Dengan sisa tenaga, Pak Asiru mengayuh kapalnya menuju barat. Dia tidak punya tujuan mau kemana, asal keluarga selamat dan bisa segera keluar dari Tual. Kebetulan ditengah perjalanan, mereka ingat punya saudara yang menjadi kepala desa di wilayah Tomia Timur.

Di Tomia, Pak Asiru dan keluarganya menata kehidupan mereka dari nol lagi. Pak Asiru sedikit demi sedikit mulai merakit kembali body boatnya. Dengan boatnya, dia mulai membuat bagan untuk menangkap ikan teri lumpur, seperti pekerjaannya dulu sewaktu di Tual. Beruntung waktu itu, ada bantuan dari dinas sosial untuk setiap pengungsi Maluku.

”tidak banyak, hanya 45 ribu orang per jiwa. Tetapi lumayanlah.” kata Sulastri, gadis manis bermata belok putri kedua Pak Asiru yang lulusan SMEA.

”saya tidak tahu rahasia tuhan. Ketika bodi sudah selesai, kebetulan ada bantuan dari Brunei. 3,5 juta untuk setiap KK. Waktu itu, saya berpikir, mau beli mesin atau membangun rumah. Akhirnya saya beli mesin boat. Saya beli mesin 220 PK harganya 2,9 juta. Uang bantuan itu, tidak sampai 3 hari tidur dirumah”. Lanjut Pak Asiru mengenang perjuangannya melawan nasib.

”kalau buat rumah, saya tidak bisa melaut. Kalau melaut, saya bisa nabung untuk buat rumah toh!. Saya termasuk orang yang beruntung juga, tidak lama setelah itu, ada kapal karam didekat sini. Kapal muat kayu. Jadi saya angkut 2 kali kayunya pakai kapal saya dan akhirnya jadilah rumah ini”. Kenang Pak Asiru sambil tertawa.

Keluarga Pak Asiru tinggal di rumah panggung berukuran 6x6 meter. ruang tamunya menyatu dengan dapur. Ciri khas rumah masyarakat timur yang menyiratkan keterbukaan dan kebersahajaan si empu rumah. Sulastri, anak gadis yang sering membantu pak Asiru di bagannya, menyiapkan teh dan kopi untuk kami. Sembari memasak air, dia mengaduk adonan tepung untuk pisang goreng.

Awalnya, rumah itu terasa sempit untuk diduduki oleh 8 orang termasuk yang empunya rumah. Tetapi dengan keramahan pak Asiru, ruangan itu terasa besar sekali untuk kami. Sebenarnya didepan rumah panggungnya, pak asiru sudah membangun pondasi rumah batu.

”saya tidak tahu, kapan ini bisa berdiri (ditambahkan betako-pen).” ”mungkin sepuluh tahun lagi, ya siapa tahu”. Tutur pak Asiru, melemparkan pandangannya ke pondasi rumah yang terbuat dari batu karang dengan campuran pasir putih.

Kerja keras adalah slogan Pak Asiru untuk memaknai hidup. Hidup itu adalah kerja yang tidak pernah berhenti kecuali mati. Itu sebabnya, dia paling sebal melihat orang-orang yang masih jongkak jongkok di depan rumahnya atau main kartu dan berjudi. Kebiasaan khas orang pulau kecil terpencil untuk menghabiskan waktu karena minimnya hiburan. Selain bekerja di laut, keluarga Pak Asiru juga bekerja di ladang. Mereka menanam bawang merah ketika musim angin barat yang membawa air hujan mulai datang. Kalau angin musim timur, mereka mengisi kebunnya dengan kacang tanah. Mereka juga menanam ubi kayu. Tidak ada lahan yang dibiarkan menganggur begitu saja. Disekitar rumah gubuk, mereka menanam pisang, pepaya, sedikit tembakau untuk istrinya.

--

Di balik kesederhanaan Pak Asiru, tersembunyi semangat seorang pengorganisir masyarakat. Dulu ketika di Tual, Pak Asiru mengorganisir nelayan ikan teri lumpur di Tual yang dikibuli harga teri oleh seorang pengepul ikan yang biasa datang ketempat mereka. Pengepul ini memberi harga yang rendah. Ketika Pak Asiru mengetahui harga pasaran ikan teri lumpur di Jakarta, dia mengajak nelayan lain membentuk kelompok nelayan bersatu menentukan harga jual ikan mereka dengan harga yang pantas.

Semua ikan hasil tangkapan nelayan dikumpulkan menjadi satu. Ketika pengepul datang, kelompoknya menawarkan harga yang disepakati, awalnya pengepul ini menolak. Tetapi karena semua stok barang sudah terkumpul jadi dia tidak bisa membeli ditempat lain. Deal kedua, kelompok pak asiru meminta pengepul untuk membeli semua stok barang di kelompoknya. Karena kekurangan uang, akhirnya pengepul minta untuk membawa barang ke jakarta dan bayaran belakangan. Karena takut dicurangi dan ingin ketemu bos pengepul itu langsung, maka pak asiru ikut datang ke jakarta. Sesampainya dijakarta dan bertemu dnegan bos pengepul namanya Ahong. Akhirnya mereka sepakat bahwa transaksi itu langsung saja antara kelompok dengan Ahong. Pada waktu itu ada kapal feri bukit singgalang yang langsung dari ambon ke jakarta.

Bisnis dengan a hong sangat menguntungkan. Begitu barang sampai dijakarta dan diperiksa anak buahnya A hong. Duit langsung dikirim pada hari itu juga melalui bank.
Sudah hampir 6 tahun ini pak asiru tidak menghubungi a hong. Padahal kontak ahong masih ada untuk dia.

Semangat mengorganisir ini belum pudar. Di Tomia, dia membentuk kelompok nelayan Cahaya Rahmat, kelompok nelayan menggunakan jaring pelingkar di Desa Ulati, Tomia.
”saya melihat nelayan di Tomia ini sangat terpengaruh semangat dagang. Mereka tidak banyak mengembangkan metode tangkap.” sesal Pak Asiru, dengan alis terangkat.

”saya tidak punya harta benda untuk dibagi ke masyarakat. Saya hanya punya pengalaman dan sedikit wawasan. Dengan modal ini, kami tetap maju.”

Dlam hidupnya ada satu nama yang memberi pak asiru, mengenai makna hidup. Roem Topatimasang, seorang organisatoris rakyat di daerah maluku menjadi tauladannya, inspirasinya Sampai saat ini, selalu ingat nasehat om tua itu.. begitu pak asiru memanggil pak roem. Bahwa manusia harus berdiri diatas kaki sendiri, selalu berusaha..

Sepanjang perjalanan hidupnya, ada 4 pelajaran berharga yang terus dipupuknya sampai saat ini. Hidup, tidak cukup hanya dengan makan. Hiduplah seperti manusia. Menjadi manusia, ada 4 modal. Pertama, kita harus berani! Dengan berani, kita selalu mengambil langkah mendobrak. Kedua, manusia itu harus jujur, terutama jujur pada dirinya. Ketiga, menjadi manusia itu harus percaya diri. Dan keempat, kontrol.

-----

Mata tua pak asiru menerawang mengingat rumah mereka di tual, lokasinya sangat bagus meskipun letaknya dilokasi yang agak miring. Dibagian bawah menghadap jalan raya dan dibagian atas juga menghadap jalan raya. Jadi rumah mereka bisa diakses darimana saja baik yang diatas dan dibawah serta menghadap laut.

Keluarga pak asiru termasuk dari 20 KK pengungsi tual yang tidak ingin lagi kembali ke tual. Mereka memilih menetap di tomia. Orang tomia juga sangat berterima kasih dengan kehadiran pengungsi ini karena sejak kehadiran mereka, mulai ada banyak sayur di tomia. Sebelumnya orang tomia hanya makan kelor dan daun pepaya.

”saya tidak berniat untuk kembali menetap di tual. Sama saja, disana saya harus memulai kehidupan dari nol lagi. Biarlah saya memulainya disini saja.” kata pak asiru, mata belok sulastri juga menyiratkan jawaban yang sama.

Monday, June 05, 2006

Mahal! Mahal! Mahal!

Pertama kali aku percaya aja waktu suamiku bilang lumayan enak hidup di wanci, harga-harganya masih murah. makanan maksudnya. makanya dia dengan bangga bilang, kalau gak hidup di Wanci mana bisa nyicil bangun rumah di Bali. Bayanganku sama seperti, lukisan yang digantung di rumah saudaraku. waktu itu aku masih SD. ada sebuah rumah kecil, bisa dipondok kecil, dindingnya dari bambu dan lantai kayu. rumah terapung dipinggir laut. ada seorang nelayan yang memancing ikan dengan perahu kayunya. Di perahunya sudah banyak ikan yang ditangkap, ditambah lagi ikan yang baru saja ditangkapnya. pemandangannya sejuk, dengan hamparan laut biru dan cuaca cerah. aku berpikir waktu itu, aku pengen banget hidup seperti bapak itu, makanan tersedia dengan melimpah. segera otak dagangku jalan waktu itu, kalau semua ikan diperahu itu dijual bapak itu pasti dapat banyak uang. ehmmm... uangnya dipakai buat jalan-jalan. sejak itu sampai aku beranjak dewasa, aku selalu memimpikan rumah mungil itu dan hidup disana bersama suami dan anakku. gila ya.. zaman itu udah bisa mimpi punya suami hehehehe...

ternyata, promosi suamiku dan impian masa kecilku itu jauh dari kenyataan. sekarang setelah aku berada diwanci, aku sudah merasakan ternyata hidup dipulau kecilpun sama gak enaknya. disini apa-apa mahal. tadi pagi aku kepasar. ini bukan pagi yang pertama aku kepasar.. sudah pagi yang keempat atau lima kali. aku mau masak-- sebenarnya juga untuk membunuh waktu untungnya lagi suamiku senang masakan rumah. baiklah aku kasi tahu harga barangnya ya... bawang putih satu biji harganya seribu. cabe satu porsi- aku gak tahu bagaimana mengistilahkannya karena mereka membuat takaran sendiri-- harganya seribu. tomat 3 buah harganya 2000. jeruk nipis 3 buah harganya 2000. jahe 3 biji 1000. lengkuas yang gak besar 1000. bawang merah satu porsi (kira-kira 10 biji) 1000. telur ayam kalau dipasar sentral 600 kalau di toko dipojok pasar malam harganya 800. yang paling heboh donk, kol gepeng satu biji harganya 5000, wortel satu batang 2500, dan kentang satu buah harganya 2000 ditambahseledri harganya 1500 dapatnya cuma sa'iprit. jadi untuk buah sayur sop aja modalnya 11.000. kalao belanja sop-sopan di mbak sri, bakulan di sorowajan-jogja, harganya gak sampe 1000. jauh dehh.... satu-satunya yang murah cuma ikan. berbagai jenis ikan, tersedia dan segar lagi!. fresh from the sea. kasi duit 5000, dapat 6-7 ikan ukuran sedang. Hanya harga ikan yang murah ini, yang bisa kupamerkan ke temen2 yang ada di "agak" kota. tapi sms-ku malah dibalas "Kok beli? kenapa gak mancing aja". sialan!

lucunya diwanci, kayaknya lebih murah beli makanan jadi daripada masak dirumah. Dipasar malam, ada sekitar 10 pedagang sayuran dan ikan matang yang jualan dari jam 5 sore sampai jam 8 malam. sayuran yang dijual, macemnya sop-sopan, sayur daun singkong disantan, sayur lodeh, sayur bunga pepaya disantan, harganya semangkok 1000. kalau beli 1 mangkok cukup untuk berdua. pedagang itu juga jual ikan bumbu, satu ikan harga berkisar 2500-4000 tergantung besarnya. murah kan. daripada beli mentahnya buat bumbu dan bakar sendiri. Ya, tapi emang harus tanggung resiko sendiri untuk kebersihannya. soalnya banyak motor berlalu lalang, dan parkir didepan yang jualan sayur lagi.. weeeeeee

coli doli moli

Namaku Parama Dewi. wanita usia 26 tahun dan sudah menikah. aku lahir dan besar di Bali. oia, meski kita udah dijaman digital, aku termasuk bangsa flinestone yang hidup dijaman batu. jadi, taunya blogger juga baru beberapa menit yang lalu. bohongnya begitu, tapi jujurnya, tahu blogger.. namanya aja, udah beberapa tahun yang lalu. tapi bener-bener pengen ikut baru beberapa menit yang lalu. iseng membunuh waktu!! ciat..ciat... bleppp!

lapor!! saat ini, aku sedang di Wanci. sebuah pulau yang lumayan terpencil. perlu waktu 11 jam dari Kendari untuk sampai ke pulau ini. syukur kalau sampai didarat tidak disertai dengan gejala yang mirip orang lagi ngidam, perjalanan 11 jam mungkin tidak apa-apa. tapi kalau anda tidak kuat, aku sarankan banyak-banyaklah bawa antimo. cukup ampuh untuk melarikan diri beberapa jenak dalam tidur, ketika kapal dibelai-belai ombak yang maha ganas. percayalah... percayalah!

sebenarnya, perjalanan ke Wanci ini, bagian dari acara bulan maduku. sekalian juga pengen liat tempat kerja suamiku. Oia, aku mau kenalkan. suamiku namanya Veda. Dia seorang yang manis, baik, pengertian dan.. cakep!. kenal Pierce Brosnan gak?.. pemain james bond. Veda sama sekali gak mirip pierce brosnan, tapi detektif playboy ini, idolaku banget!. mereka berdua ini emang gak nyambung. nyambungnya adalah dua orang ini favoritku, selain almarhum bapakku tentunya, Wayan Suteja.